Geliat Kesenian Tradisional di Tengah Arus Modernisasi

Oleh: Tri Broto Wibisono

Modernisasi dalam realiitas kehidupan masa kini sebaiknya disikapi dengan cara mengendalikan gaya hidup seseorang dan lingkungan masyarakatnya. Demikian pula dalam kehidupan seni tradisi kita yang mengalami gesekan dialogis, perlu juga disikapi dengan bijaksana, tidak semena-mena, selektif dengan pijakan tradisi yang masih kuat meskipun tidak mengabaikan perubahan. Karena sebenarnya sebelum modernisasi tersebut bergulir ke Indonesia, kesenian tradisional sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat berbudaya yang hidup dan selalu menyesuaikan kehidupan yang sedang terjadi.

Salah satu faktor yang menjadi penyebab tak pernah padamnya kesenian tradisional hingga saat ini masih menjadi bagian dari kehidupan berbudaya mayoritas masyarakat kita di lingkungannya. Hal ini dapat dibuktikan dengan masih adanya nanggap kesenian tradisional bagi keluarga yang sedang mempunyai hajatan (manten, khitan, ruwatan), kesenian tradisional masih menjadi bagian dari sedekah bumi.

Kesenian Jaranan dipentaskan pada Lounching Program Kegiatan Disbudpar Prov. Jatim tahun 2018 di gedung kesenian Cak Durasim. Foto dok./TBJT

Namun yang harus diakui, bahwa menjamurnya gedung bioskop di Surabaya pada awal 1970-an dan dimulainya tradisi nanggap layar tancap di desa-desa, menyebabkan terjadinya perubahan perilaku budaya masyarakat dalam tradisi bersekesiannya. Apalagi tidak hanya mereka yang mempunyai uang cukup bisa membeli televisi, tetapi siapa saja bisa memilikinya dengan cara mengangsur. Pelaku kesenian tradisional saat itu mulai gelisah, meskipun peristiwa itu pada akhirnya tidak berjalan lama, masyarakat kembali pada habitatnya, “duwe gawe nek gak nanggap gong gak rame”. Gong yang dimaksudkan adalah sebuah pertunjukan yang didalamnya ada gamelan, misalnya: Ludruk, Wayang Kulit, Tandhakan, Jaranan, Sandur, Gandrung dan lainnya.

Mengacu pada pengalaman saya sendiri, pada tahun 1962, ketika masih anak-anak (7 tahun), saya sudah mendapatkan sebuah tarian tradisi yang sudah dimodernisasi, antara lain: tari kuda-kuda, tari Nusantara, Tari Nelayan, Tari Tani. Sedangkan katagori tari tradisional klasik yang saya pelajari misalnya: tari Klana Bagus, tari Klana Topeng, tari Gatutkaca Gandrung dan tari Bambang Cakil. Sejak tahun 197 saya lebih banyak mempelajari berbagai tari tradisi Jawa Timur di berbagai pusat kesenian tradisi di desa-desa, antara lain: belajar tarian topeng ke Sumenep (Madura), belajar tari Jaranan ke Kediri, Tulungagung, Trenggalek, belajar tari Ngremo di beberapa narasumber di wilayah Sidoarjo, Jombang, Malang, Surabaya serta belajar menari Gandrung di Banyuwangi. Apa yang terjadi di berbagai wilayah seni tradisi tersebut, ternyata disana juga telah terjadi perubahan. Sebagai contoh tari Remo yang diperagakan oleh seorang penari panggung yang satu mempunyai perbedaan dengan penari panggung lainnya. Meskipun secara struktur tari adalah sama, yang berbeda adalah isen-isen atau kembangannya dan sikap tubuh (adeg, dedeg, siku, tanjek).

Sedangkan di lingkungan Surakarta sendiri, sejak tahun 1970-an sudah terjadi gerakan pembaharuan tari (tradisional klasik) Surakarta, sementara di lingkungan Yogyakarta berusaha mempertahankan nilai-nilai ketradisiannya sebagai kekuatan yang bertahan.

Sejak tahun 1975, mulai bermunculan karya tari Jawa Timuran yang berangkat dari tradisi, sebagai salah satu upaya memperkaya tari tradisi serta mencari alternatif baru bentuk tari Jawa Timuran. Misalnya tari Gunungsarinya Sunarto AS. (Guru SMKI/SMKN 12 Surabaya).

Pada kisaran tahun 1975, musik dan tari Banyuwangi telah bersentuhan dengan dengan upaya penggarapan yang dipromotori oleh Hasan Ali, pendekatan musik Banyuwangen yang berangkat dari lagu-lagu kerakyatan (lagu dolanan) dan beberapa model garapan baru telah memasuki produksi industri kaset yang diproduksi oleh Ria Recording Banyuwangi, beredar berbagai wilayah budaya Jawa Timur hingga Jakarta. Sementara itu produk industri kaset yang lain telah dirintis oleh Jayabaya Recording Malang (mulai dari rekaman ludruk, gendhing tandhakan/gendhing klenengan dan wayang kulit), Semar Recording Sumenep (lebih berorientasi pada gending-gending klenengan klasik Sumenepan, sandur dan sronen).

Dari perjalanan tersebut sejak tahun 1977 saya memberanikan diri untuk menggarap tari Jawa Timuran dengan melakukan rekonstruksi hasil pendalaman tari dari berbagai narasumber di berbagai pusat tari di desa-desa, antara lain: tari Topeng Sabrang, Topeng Gunungsari, Topeng Sekartaji, Topeng Bapang, Ngremo Sawunggaling, tari Gondoboyo, tari Wiraga Putri, tari Jurit Pidhegsa dan lainnya.

Sejak tahun 1990-an saya bersama komunitas mencoba memulai dengan membuat dengan membuat tarian baru bernuansa anak-anak yang juga berangkat dari sentuhan tradisi. Garapan ini terbentuk karena didorong oleh perlunya perbendaharaan tari untuk anak-anak, dilihat dari bentuk, isi, tema maupun motif gerak tarinya. Pendekatan yang kami lakukan dalam tim kreatif adalah kajian dari perkembangan psikologi anak.

Dalam gerapan yang bertumpu pada muatan ketradisian, ada yang bentuknya menata (revitalisasi) dan ada yang dalam bentuk membuat tarian baru yang berangkat dari perbendaharaan tradisi. Perbendaharaan dalam bentuk teknik tari,keragaman gerak tari, motif musik maupun motif busana tarinya. Beberapa daerah lainnya mendahului dengan pendekatan ketradisian yang sangat kuat adalah Banyuwangi yang berangkat dari Gandrung Kuntulan dan Sumenep yang berangkat dari sejarah Keraton Sumenep ditopang oleh keragaman tari topeng Sumenep.

Pertunjukan tari Remo di berbagai panggung ludruk maupun wayang kulit di desa-desa saat ini sudah tidak ada lagi yang tampil tunggal, padahal konsep koreografi tari Remo (Ngremo) tersebut adalah konsep tarian tunggal yang ditarikan oleh seorang penari. Para penari tradisi sudah melakukannya dengan lebih dari satu penari, minimal dua penari.

Model penampilan tari Ngremo di panggung ludruk dan wayang kulit Jawa Timuran yang ditarikan oleh lebih dari satu penari tersebut tidak lain karena pengaruh televisi dan berbagai penampilan yang dilakukan oleh sanggar tari. Yang terjadi dalam penampilan tari Ngremo oleh lebih dari satu penari tersebut adalah melemahnya konsep tari Ngremo itu sendiri, terutama dalam hal kualitas tari. Di lingkungan penari-penari sanggar terjadi penyeragaman kualitas tari Ngremo, sementara di lingkungan penari tradisi terbentuk ketidak-teraturan kualitas kepenariannya, setiap penari mempunyai kekuatan spesifik sebagai suatu perwujudan kualitas tari Ngremo. Keberagaman kualitas penyajian tari Ngremo tersebut menjadi keunikan dan kekayaan estetika tari di Jawa Timur.

Pada tahun 1980-an, ketika Kanwil Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur meluncurkan program Festival Tari Daerah, garapan-garapan baru tari daerah se-Jawa Timur bermunculan. Tidak semuanya terbentuk dengan baik, ada yang sudah mengkristal, ada yang masih mencari-cari. Daerah-daerah yang semula tidak mempunyai perbendahaaraan tari, mulai menemukan bentuknya, adapula daerah yang sebenarnya sudah mempunyai sumber tradisi yang kuat tetapi justru tidak tersentuh. Itu semuanya merupakan sebuah proses pencarian karya seni, dari unsur gerak, unsur musik, unsur busana hingga alternatif model penyajiannya, merupakan suatu ekspresi kekaryaan yang dibentuk melalui sebuah proses kreatif.

Ketika para kreator mulai sadar dan paham atas kebutuhan proses kreatif dalam kehidupan seni tradisi, maka dengan sendirinya seni tradisi tersebut akan senantiasa berlauh dalam arus modernisasi dalam wujud dan pendekatannya masing-masing. Sebaiknya perkembangan tersebut juga tidak semena-mena menghalalkan proses kreatif semata, tetapi perlu mempertimbangkan kaidah-kaidah tradisi sebagai sebuah muatan nilai yang perlu disikapi secara bijak, tidak membelenggu tetapi juga tidak meninggalkannya. Karena seni tradisi kita pada umumnya tidak dapat lepas dari muatan nilai tentang pandangan, sikap maupun perilaku tentang kehidupan yang tersirat dalam bentuk simbol-simbol seni (keragaman gerak, syairan dan lainnya).

Modernisasi Sebagai Proses Kreatif

Tak ada teori baku untuk menentukan gaimana seharusnya menggarap sebuah karya seni. Banyak buku kesenian disusun melalui pendekatan dari pengalaman yang telah dilakukan oleh kreator. Keberangkatan ide/gagasan adalah salah satu petunjuk fundamental dalam menentukan langkah penggarapan, memahami hubungan antar manusia dan kekaryaan, jiwa dan pengungkapan yang senantiasa bersifat ganda. Kesenian diekspresikan dari hasil eksplorasi pengendapan pengalaman dalam suatu kurun waktu berdasarkan kebutuhan-kebutuhan penggarapan dengan bertumpu pada naluri serta kecerdasan yang dimiliki untuk mendapatkan penyesuaian diri dengan dunia yang akan ditemukan sendiri.

Dengan aksi dan interaksi antara kekuatan yang melekat dalam dirinya dan kekuatan-kekuatan lingkungannya dikembangkan dalam pribadi melalui adaptasi yang leih baik, sensitif dan komunikatif.

Saat berproses, kreator berusaha merefleksikan kehidupan jiwanya melalui medium penggarapan, ia berusaha mencari dan menemukan kepastian, bahwa apa yang ia lakukan akan menghasilkan suatu bentuk stilisasi. Merefleksikan kehiduapan jiwa merupakan suatu langkah awal sebagai tindakan kreatif yang menjabarkan kembali kata-kata hati ke dalam medium garap. Peristiwan ini memberi peluang yang sangat berkemungkinan terhadap kehadiran kualitas ekspresi.

Proses kreatif di lingkungan seni tradisi di Indonesia boleh dikatakan dimulai dari gerakan pembaharuan tari Jawa di lingkungan Sasanamulya pada awal abad XX pada masa Pangeran Hangabehi, yang kemudian naik ke tahta singgasana Kasunanan dengan gelar Pakubuwana XI. (Gendhon Humardani, Pemikiran & Kritikannya; Editor : Rustopo; STSI Press Surakarta, 1991).

Jawa Timur mempunyai riwayat perkembangan seni tradisi yang cukup unik, sejak zaman Daha-Kediri hingga Majapahit, dari wayang topen, jaranan, tandhakan, ludruk, odrot, gul-gul, sandur, gandrung, sindir, patrol, tiban, reyog, kendang, reyog Ponorogo, singo ulung dan masih banyak lagi lainnya.

Kesenian Jaranan dipentaskan pada Lounching Program Kegiatan Disbudpar Prov. Jatim tahun 2018 di gedung kesenian Cak Durasim. Foto dok./TBJT

Para seniman tradisi yang hidup dibalik karya seni yang sudah mentradisi itu adalah insan-insan kebudayaan yang mempunyai potensi kreatif, meskipun berkesenian berjalan secara alami. Mereka lakukan proses berkeseniannya berpuluh-puluh tahun sebagai bagian dari kehidupannya sehari-hari sebagai petani, pedagang sayur, kuli bangunan, petani tambak, kusir dokar, tukan becak dan lainnya.

Reyog Ponorogo pada mulanya merupakan satu kelengkapan yang tak dapat dipisahkan dari peranan Lurah/Kepala Desa, setiap desa/kelurahan setidaknya mempunyai satu unit reyog.

Topeng Gethak Pamekasan merupakan suatu bentuk pemberontakan jiwa setelah mereka ingin melakukan wayang topeng yang mereka lihat di dalam kraton Pamekasan. Pemberontakan mereka diekspresikan dalam bentuk peniruan salah satu tokoh dalam wayang topeng bernama Baladewa dengan motif gerak tari yang dekat dengan motif tandhakan gaya Madura dengan diiringi musik sandur (kenong telok). Karena mereka hanya melihat dan menirukan dengan tanpa pengalaman/belajar tari topeng wayang yang baik dari seniman Kraton, maka wujud topeng gethak menjadi lebih terbuka, lebih bebas, lebih karakteristik (gerak tarinya lugas).

Pertunjukan ludruk dan wayang kulit yang sudah mulai menggunakan multi media, penari-penari sanggar yang menari tidak lagi dibingungkan dengan musik hidup, tetapi dengan musik iringan tari hasil recording, proses penggarapan musik iringan tari dengan mengunakan komputer yang tidak lagi harus dengan pengrawit yang banyak, belajar berkesian tidak harus bertatap muka dengan narasumber, cukup dengan VCD tutorial. Meskipun metoda belajar menari dengan menggunakan media tutorial ini masih sangat mengalami keterbatasan, karena transformasi teknis (kualitas) tidak bisa seutuh dengan transormasi langsung dengan narasumber (guru/pengajar/pelatih) kepada penyerap (transformer).

Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya bercita-cita mengedepankan kesenian Jawa Timur sebagai salah satu media kreatifitas yang secara maksimal perlu dilakukan dalam proses akademik. Mahasiswa kreatif dapat lahir dari proses transformasi nilai yang melekat pada berbagai bentuk seni tradisi untuk menjawab kebutuhan globalisasi budaya di lingkungan tradisi kita.

Demikianlah kondisi berbagai komunitas kesenian tradisional saat ini. Hampir semuanya telah banyak yang berubah, meskipun perubahan tersebut berpijak pada nilai-nilai yang melekat sebelumnya, tetapi dapat dibuktikan bahwa sekecil apapun perubahan tersebut adalah perubahan.

Tumbuhnya persepsi estetis yang baru akan menjadi obyek sasaran lagi bagi kreator yang memanfaatkannya dengan melalui keberangkatannya yang baru juga. Demikian proses kreatifitas yang mengantarkan perubahan sebagai tanda adanya kehidupan kesenian tradisional dalam melewati arus modernisasi.

______________________________________________________________________________

Tri Broto Wibisono lahir di Surabaya pada tanggal 26 Februari 1955, seniman tari dan juga penulis buku tari, pernah mendapat Penghargaan sebagai Seniman Tradisi Berprestasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur tahun 2005, Penghargaan dari Walikota Surabaya (2007) dan mendapatkan Hak Cipta Ngremo Sawunggaling (1980) dan berbagai kejuaraan karya tari. Menempuh Pendidikan di SMKI Surabaya, IKIP Surabaya, STKW dan Universitas Wijaya Putra Surabaya. Pernah menjadi Penilik Kebudayaan, Kepala Seksi (Kasie) Tari dan Teater di Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Kepala UPTD Taman Hiburan Rakyat, dan tahun 2011 purna tugas atau pensiun lantas bergabung menjadi dosen bantu di almamaternya Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya sampai sekarang. Banyak karya tari tradisi yang diciptakannya. Alamat: Jalan Wiguna II No. 15 Surabaya.

Sanjoto Prijo Djatmiko

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.