Sandiwara Ludruk Berbahasa Hibrida

Oleh: Henricus Supriyanto

Sandiwara Ludruk di Jawa Timur yang bergerak dalam pusaran zaman, penyajian lakon-lakonnya, tokoh diatas panggung berbahasa apa? Inilah permasalahan inti pada artikel ini. Pada periode zaman Jepang, pihak penjajah sedang berpropaganda perihal “Gerakan Asia Timur Raya”. Salah satu alat propaganda yang dipakai di Jawa Timur adalah Sandiwara Ludruk. Tren yang berkembang adalah penyajian lakon-lakon perlawanan terhadap penjajah Hindia Belanda. Ragam lakon-lakon tersebut pada masa kini disebut “Lakon Postkolonial“, misalnya lakon Oentoeng Soeropati Raja Pasuruan, Sawunggaling, Pak Sakerah, Sogol, Sarip Tambak Oso, Tuan Tanah Kedawung dan sederetan lakon yang memunculkan adegan tokoh Kompeni Belanda.

Semangat sejak awal, Sandiwara Ludruk yang lahir dari bumi Jawa Timur, selalu memakai bahasa “Hibrida atau Bahasa Campuran“. Pemakaian bahasa ini pun dikaitkan dengan latar belakang lakon yang disajikan diatas. Marilah kita amati lakon legendaris Sawungaling, yang amat populer di daerah segi tiga perkembangan Ludruk pada zaman penjajahan, yakni Jombang, Surabaya dan Malang, pada zaman Kemerdekaan sampai zaman kejayaan Ludruk Marhaen, Ludruk Tresno Enggal dan Ludruk Enggal Tresno di Surabaya. Pembahasan bahasa Ludruk selalu terkait dengan tiga hal utama, yakni:

  1. Latar belakang lakon dari fakta sejarah tulis
  2. Latar belakang lakon di panggung Ludruk/garapan lakon
  3. Pemakaian bahasa sesuai tokoh dan asal tokoh.

Marilah kita cermati lakon Sawungggaling Kulmak Sosro Negara yang amat legendaris.

Fakta Sejarah

Pada tahun 1704 Masehi Pangeran Puger didukung prajurit Madura dan Kompeni menyerang Kartasura. Amangkurat III (nama kecil Sunan Mas) dan pengikutnya melarikan diri ke wilayah timur. Akhirnya Amangkurat III bersekutu dengan Untung Surapati, Adipati Pasuruan. Ia mendirikan pusat pertahanan di Dermo, Bangil. Pada tahun 1705 Pangeran Puger memasuki istana Surakarta. Ia mengangkat dirinya menjadi menjadi raja Surakarta, dengan gelar Paku Buwana I.

Adipati Jayengrana II dari Surabaya bersekutu dengan Untung Surapati, dan memperoleh dukungan Cakraningrat dari Madura. Paku Buwana I wafat pada hari Senin Legi, bulan Jawa Besar, tahun 1719 Masehi (Kresna, 2011:97-98). Veth, dalam jurnal Java II (114-115) menjelaskan bahwa Adipati Jayen Rana II pada 7 Februari 1709 diundang ke Surakarta, untuk mengikuti konferensi (Vercadering = Jw. Begandring) di Surakarta. Komendeur Knol (Kompeni) telah ada di Kartasura sejak 10 Januari 2018.

Jayeng Rana II dikawal dua orang adiknya, yakni Jayapuspita dan Aryadirja, serta 100 orang prajurit dari Surabaya. Sewaktu konferensi di Surakarta, Jayeng Rana dilarang dikawal dua orang adiknya dan prajurit Surabaya. Keputusan konferensi ialah kewajiban Jayeng Rana II untuk menyerahkan daerah Wirosobo (Kertosono) dan Japan (Mojokerto) ke kekuasaan Surakarta. Jayeng Rana II diwajibkan membayar upeti senilai upeti sebelum menyerahkan Kertosono dan Mojokerto. Jayeng Rana menolak keputusan tersebut. Hari terakhir konferensi diadakan tayub, Jayeng Rana II diberi minuman beracun.

Dalam sejarah Surabaya, Jayeng Rana II meninggalkan empat orang saudara, yakni: Arya Jayapuspita, Wira Dirja, Adipati Natapraja berkuasa di Lamongan dan Panji Sasra Negara (Veth, Java II, tanpa tahun), halaman 114-115). Jayeng Rana II mempunyai anak putri, yang kelak dinikahi Secanegara. Bupati Surabaya 1750-1752.

Arya Jayapuspita diangkat menjadi Bupati Kasepuhan dan Wiryadirja menjadi Bupati Kanoman di Surabaya. Jabatan itu diterima dengan rasa dendam ke raja Surakarta dan Kompeni Belanda. Kedua orang itu melakukan perlawanan ke pihak Surakarta dan Kompeni tahun 1710-1723. Tahun 1723 Surabaya diserang dan diduduki Kompeni.

Garapan Lakon Ludruk

Fakta Sejarah tulis diatas, diubah oleh seniman Ludruk, Lakon Ludruk selalu anonim pada “tempo doeloe”. Yang tersaji diatas panggung merupakan wira cerita (lakon kepahlawanan). Kronologi kisah di atas pangggung Ludruk sebagai berikut:

  1. Jayeng Rana turun ke desa Wildah yang pada zaman Belanda masuk wilayah Sidoarjo. Versi lain dikisahkan di desa Gunung Penanggungan. Jayeng Rana menikahi wanita desa bernama Dewi Sangkrah, versi lain Dewi Lara Blengoh. Mempunyai anak laki-laki bernama Joko Bereg. Dewi Sangkrah anak Demang Wongso Dermo.
  2. Jaka Bereg mencari sang ayah di Surabaya, Jaka Bereg akhirnya menyadari bahwa di desa dia tidak mempunyai ayah. Ia meminta ijin ibunya dan kakek Demang, dengan tujuan ke Katumenggungan Surabaya, mencari Tumenggung Jayeng Rana, dengan membawa barang bukti berupa cindhe. Dalam lakon Ludruk, Tumengung Jayeng Rana mempunyai dua orang anak, yakni Sawung Rana dan Sawung Sari. Jaka Bereg membawa seekor ayam jago Wiring Kuning, berhasil bertemu dengan Jayeng Rana. Tetapi ia hanyadiberi tugas “pekathik” (perawat kuda).
  3. Jayeng Rana diundang ke Surakarta, Jayeng Rana diikuti dua orang putranya, Sawung Rana dan Sawung Sari datang ke Surakarta. Hadir pula Cakraningrat, Bupati Sampang Madura. Upacara utama ialah Pelantikan Pangeran Puger dinobatkan menjadi Raja Surakarta dengan gelar Paku Buwana I. Dalam upacara tersebut juga diadakan Lomba Memanah Cindhe Puspita. Pemenang dinyatakan sebagai calon Tumenggung di Surabaya. Datanglah Jaka Bereg di tempat lomba memanah. Ia dinyatakan sebagai peserta susulan lomba memanah Cindhe Puspita.
  4. Adegan memanah Cindhe Puspita, Dalam lomba memanah Cindhe Puspita, peserta sayembara yang sah ternyata gagal dalam lomba memanah. Jaka Bereg peserta susulan ternyata berhasil memanah Cindhe Puspita. Jaka Bereg disebut Sawunggaling, Kulmak Sosro Negoro.
  5. Versi lain, Pelantikan Pangeran Puger dirayakan dengan pesta Tayub. Sewaktu pesta Tayub itulah Jayeng Rana diberi minuman racun. Jayeng Rana wafat karena minum racun. Jaka Bereg juga akan diracun, tetapi minumannya ditampel oleh Cakraningrat. Sawunggaling marah, tetapi dilerai prajurit Surabaya. Cakraningrat menerangkan bahwa minuman itu berupa racun. Sawunggaling, Cakraningrat dan prajurit pulang ke Surabaya.
  6. Jaka Bereg Sawunggaling Kulmak Sosro Negoro, (Kulmak = calon; Sosro Negoro = raja/bupati), Gouvernur Hogendorp yang berkedudukan di Semarang berjanji memberi beslit “Bupati” ke Sawunggaling bila mampu mengalahkan raja Sambas Kalingan (Versi I raja Madura, Versi II raja di Kalimantan). Setelah berhasil mengalahkan raja Sambas Kalingan, Jaka Bereg melabrak ke Semarang, Kompeni menyingkir dari Semarang karena kalah perang.
  7. Surabaya diserang Kompeni, Surabaya akhirnya diserang secara mendadak. Pasukan Sawunggaling dapat dikalahkan Kompeni, Surabaya diduduki Kompeni, Sawunggaling terbunuh dalam peperangan.

Pemakaian Bahasa Pada Sandiwara Ludruk

Bahasa dalam seni pertunjukan tradisional diekspresikan dalam bahasa non verbal dan bahasa verbal. Dalam lakon Jaka Bereg Sawunggaling, makna nama Jaka artinya lelaki muda yang belum menikah. Bereg artinya buron atau orang yang dicari/diburu oleh kelompok yang berkuasa.

Tokoh Dewi Sangkrah pada lakon tersebut diidentikkan dengan Dewi Sekartaji dalam cerita Panji. Jaka Bereg ahdisejajarkan dengan Panji Laras, yang selalu membawa ayam jago atau Sawung (ayam aduan), maknanya adalah lelaki pemberani. Galing artinya burung merak, merupakan simbol kewibawaan atau satria pemberani. Jayeng Rana diidentikkan dengan Panji Asmara Bangun.

Lakon Ludruk Jaka Bereg Sawunggaling diwujudkan dalam bahasa verbal (bahasa yang diucapkan) dalam bahasa hibrida atau bahasa campuran. Rincian bahasa tersebut sebagai berikut:

  1. Bahasa Jawa dialek Jawa Timur atau bahasa Arek digunakan oleh Jayeng Rana, prajurit Surabaya, pakdhe Demang, mbokdhe Demang, Dewi Sangkrah dan Jaka Bereg. Mereka memakai busana khas Jawa Timuran, memakai ikat kepala atau udheng.
  2. Bahasa Jawa dialek Surakarta atau bahasa Jawa Surakarta Hadiningrat. Bentuk sapaan khas, “kowe, kepriye” ini pun didukung pemakaian busana blangkon trepes Surakarta Surakarta. Pada sandiwara Ludruk tokoh berblangkon dan bertopi pulkah, dipakai untuk menyindir kelompok priyayi Surakarta yang bekerjasama dengan Kompeni Belanda.
  3. Cakraningrat dan pengikutnya berbahasa Madura, dialek bahasa Madura Barat (Bangkalan, Sampang, dan Pamekasan). Ragam bahasa Madura Barat ini tersebar luas di pedalaman Jawa Timur. Mereka berimigrasi pada zaman Tanam Paksa. Percampuran etnik Jawa Madura disebut kelompok Pendalungan. Mereka berbusana khas Madura.
  4. Tokoh Belanda mereka berbahasa Melayu Indo, disisipi bahasa Melayu pasar. Tokoh “Landa Godhong” berbahasa Indonesia yang di”pleset”kan. Tokoh pelawak ada yang diberi tugas “casting” (dapuk) menjadi tokoh militer Belanda (Kompeni). Mereka berbahasa Indonesia, yang di”pleset”kan, bahasa “slang”, dengan tujuan memperoleh efek humor.

Dasar pertimbangan pemakaian Bahasa Hibrida ialah kemampuan berbahasa para aktor diatas pangggung, gambaran etnik para pendukung lakon (Jawa Brang Wetan, Jawa Mataraman, bahasa Madura dan bahasa Indonesia) dan pertimbangan pemakaian bahasa penonton, sebagai apresiator, agar pertunjukan Ludruk dapat disajikan secara komunikatif.

Penulis pernah menyajikan Ludruk berbahasa Indonesia. Pemain pendukung grup Ludruk Kopasgat Trisula Darma dari Nganjuk, pimpinan grup Totok Imam Santosa. Mengingat durasi penayangan Ludruk di TVRI hanya 55 menit, maka seniman Ludruk diminta menghafalkan naskah. Maka lahirlah genre baru Ludra atau Ludruk Drama. Lakon yang dipersembahkan adalah “Untung Surapati Pralaya” kisah peperangan Untung Surapati dengan Kompeni Belanda di Bangil, tahun 1706.

Hasil perekaman Ludruk di Televisi Stasiun ini ditayangkan dua kali di Stasiun TVRI Surabaya dan tiga kali di TVRI Jakarta. Pementasan dengan teknik improvisasi terbatas pada adegan lawak, dalam durasi 10 menit. Waktu itu berhubungan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Repulik Indonesia yang ke 50.

Perubahan pementasan Sandiwara Ludruk, termasuk pemakaian bahasa Ludruk amat dimungkinkan karena perubahan pemain, penonton dan wawasan masyarakatnya. Dengan kalimat laindapat dikatakan bahwa seni tradisional Ludruk tidak membeku, melainkan mengalami dinamika yang positif. Akhirnya berlakulah pepatah “yang abadi di bumi adalah perubahan”. Semoga isi artikel ini bermanfaat untuk sesama seniman Ludruk.

Daftar Rujukan

  • Kresna, Ardian.2011. Sejarah Panjang Mataram, Yogyakarta: Diva Press, 2011.
  • Prof. Veth, Journal Java, tanpa tahun, Batavia, 114-115.

*Penulis adalah Guru Besar Universitas PGRI Adi Buana Surabaya dan pendiri Pedepokan Sastra Tan Tular.

Sanjoto Prijo Djatmiko

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.