Gelar Karya Tari Koreografer Muda (Menggali Potensi Budaya Lokal di Era Milenial)

Koreografer memiliki peran penting dalam hal setting gerak dan membuat alur gerakan dalam sebuah pertunjukan, baik itu tarian (dance) ataupun gerak panggung lainnya. Tentunya seorang koreografer harus terlebih dahulu mengerti akan konsep acara yang akan ditampilkan, karena setiap koreografi akan berhasil jika konsep acara dan seluruh gerak pertunjukan keseniannya selaras. Biasanya seorang koreografer bisa mendapatkan ide hanya dengan melihat setting panggung yang akan digunakan. Seorang koreografer dituntut untuk memiliki imajinasi dan wawasan yang luas akan sebuah setting pertunjukan. Semua hal itu bisa didapat dari jalur pendidikan sekolah atau peruruan tinggi seni yang mengajarkan tentang tari, disamping secara otodidak lewat pengalaman dan seringnya melihat berbagai event khususnya tari yang diselenggarakan dimanapun berada.

Judul tari “Ron Las” karya Nikolaus Fernando Arnoldi.
Foto dok./TBJT.

Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya pada 27-28 Juli 2019, di Gedung  Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur menggelar ujian akhir karya tari mahasiswa jurusan tari yang pada tahun ini ada sembilan karya yang dipergelarkan sekaligus dipertanggung jawabkan di hadapan para penguji. Dengan mengusung tema menggali potensi budaya local di era milenial diharapkan akan muncul koreografer-koreografer muda potensial yang mampu menjembatani dunia tari khususnya yang mengangkat nilai tradisi sebagai basic karya mereka agar lebih akrab merasuki dunia milenial dimana anak-anak muda kebanyakan lupa dengan identitas budaya local yang ada disekeliling mereka. Pengenalan budaya local melalui karya tari tidak harus berupa karya tradisional murni, tetapi sentuhan tangan dingin para koreografer muda yang lahir di era milenial diharapkan mampu membuat sebuah karya berbasic tradisi menjadi sebuah karya yang modern yang dinamis dan enak untuk ditonton. Kesembilan karya yang di pergelarkan diantaranya adalah:                                                            

Judul tari “Mbanon” karya Punki Ardhiansyah.
Foto dok./TBJT.
  1. Gegayuhing Rajapatni/Penata Tari: Nindya Cahyani Hardeana Zelvy
  2. Rong Las/Penata Tari: Nikolaus Fernando Arnoldi
  3. Lakune Temu/Penata Tari: Fladia Yurismareta
  4. Hipokrit/Penata Tari: Patry Eka Prasetya
  5. Mbanon/Penata Tari: Pungki Ardhiansyah
  6. Deg/Penata Tari: Nadiya Kinasih
  7. Nitih/Penata Tari: Panji Prasetyo
  8. Kinasih Sungsang/Penata Tari: Ferantika Putri Elwanda
  9. Sampur Landhung/Penata Tari: Dyan Eri Sendi
Judul tari “Hipokrit” karya Patry Eka Prasetya.
Foto dok./TBJT.

Adapun dewan penguji hasil karya para koreografer muda tersebut adalah: I Wayan Sama,S.St., M.S.n.; Trinil Windrowati, S.S.n., M.Sn.; Wahyudianto, S.Sn., M.S.n. dan Dra. Lilis Tri Lestari, M.Sn. Kesemuanya adalah dosen pengajar pada Jurusan Tari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya. (san)

Sanjoto Prijo Djatmiko

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.