Gelar Seni Budaya Daerah Jawa Timur 2019: Kabupaten Bayuwangi

Kesenian merupakan salah satu unsur budaya yang paling menonjol. Secara langsung atau tidak langsung kesenian adalah media yang merefleksikan keberadaan manusia sebagai bagian dari kebudayaan. Kesenian sendiri terdiri dari banyak cabang dan macamnya. Salah satu macam kesenian itu adalah kesenian tradisional. Jawa Timur sebagai Provinsi di ujung timur pulau Jawa menjadi salah satu Provinsi dengan sebaran kesenian tradisional yang paling kaya di Indonesia. Salah satu Daerah dengan keunikan kesenian tadisionalnya adalah Kabupaten Banyuwangi. Selain menjadi perlintasan dari Jawa ke Bali juga merupakan daerah pertemuan berbagai jenis kebudayaan dari berbagai wilayah. Banyuwangi diwarnai oleh budaya Jawa, Bali, Madura, Melayu,  Eropa, Arab, Tionghoa, dan budaya lokal atau budaya Oshing itu sendiri yang saling isi mengisi dan akhirnya menjadi tipikal yang tidak ditemui di wilayah manapun di pulau Jawa.

Pembacaan Hastungkara (Lantunan doa dalam bentuk geguritan berbahasa Jawa)

Bertempat di Pendapa Jayengrana Taman Budaya Jatim pada 23-24 Agustus 2019, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur melalui UPT Taman Budaya bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi menggelar acara Gelar Seni Budaya Daerah Jawa Timur 2019. Dengan mengusung tema Junjung Duwur Gadha Blambangan yang artinya menjunjung tinggi gadha (senjata semacam pentungan dari logam) milik rakyat Blambangan. Dalam arti mengangkat setinggi mungkin harkat dan martabat rakyat Banyuwangi (dalam hal ini melalui media kebudayaan).

Acara dibuka ditandai dengan pemukulan rebana oleh para pejabat. Foto dok./TBJT.

Diawali dengan kunjungan ke stand UKM oleh para pejabat dan tamu undangan seputar pendapa Jayengrana. Stand UKM memamerkan produk unggulan Kabupaten Banyuwangi, ada berbagai macam batik khas Banyuwangi diantaranya: Gajah oling, Paras Gempal, Sekar Jagad, Kangkung Setingkes, Mata Ayam dll. Juga Makanan khas Banyuwangi seperti kue bagiak, aneka minuman, dan makanan yang hampir semua masyarakat Banyuwangi menyukaianya yakni rujak soto. Selama kunjungan berlangsung para tamu dikawal oleh barisan penari raksasa dan barongan.

Tari Jejer Gandrung. Foto dok./TBJT.

Acara diawali dengan pembacaan Hastungkara (lantunan doa dalam bentuk geguritan berbahasa Jawa), dibawakan oleh seorang sesepuh dengan latar belakang tarian sekelompok raksasa sebagai simbol aura negatif yang harus disingkirkan selama acara berlangsung. Dilanjutkan dengan tari Jejer Gandrung yang dibawakan oleh 6 orang penari muda yang cantik dan energik. Setelah sambutan-sambutan oleh para pejabat yang mewakili acara dilanjutkan dengan persembahan lagu Sumberwangi Tanah Kelahiranku, dibawakan oleh seorang penyanyi pria dengan latar belakang koreografi tarian khas Banyuwangi dengan diiringi musik ttadisional Banyuwangi. Pada penampilan terakhir hari pertama ditutup dengan pergelaran drama tari dengan judul: Sayu Wiwit Kridha.

Sayu Wiwit Kridha diangkat dari kisah perjuangan seorang tokoh perempuan Blambangan bernama Sayu Wiwit yang dengan gagah berani berjuang menghadapi agresi balatentara VOC Belanda ke bumi Blambangan. Cerita dalam drama tari ini bersetting perang semesta Blambangan II yang terjadi tahun 1771-1774, adalah salah satu perang terberat yang dialami Belanda saat menjajah Indonesia. Perang yang terjadi di ujung timur Jawa tersebut, jauh sebelum Perang Diponegoro berlangsung. Ini adalah perang yang tak hanya menguras biaya besar, tapi juga menelan korban jiwa sangat banyak. Belanda sampai kerepotan untuk menaklukkan Blambangan yang saat itu dikomandoi oleh Pangeran Jagapati, Mas Rempeg, Sayu Wiwit, dan didukung pasukannya yang terkenal tangguh dan pantang menyerah. Dibawakan dalam bentuk tari kolosal dengan skill penari yang diatas rata-rata membuat pergelaran drama tari menjadi menarik dan enak untuk ditonton. Seakan menarik emosi penonton untuk kilas balik membayangkan betapa dahsyatnya peperangan yang dikobarkan oleh Seorang Rani dari Gunung Raung yang tangguh dan gagah berani.

Tari Kembang Pesisiran. Foto dok./TBJT.

Pada hari kedua bertempat di pendapa Jayengrana, pergelaran diawali dengan lomba band tingkat remaja, diikuti oleh 16 grup band remaja dan diambil 6 pemenang, mulai juara 1 sampai dengan harapan 3. Disela-sela para dewan juri bersidang diisi dengan pergelaran Jaranan Banyuwangi dan juga Barong. Antusiasme anak-anak muda terhadap kesenian khas Banyuwangi demikian tingggi. Rata-rata mereka belum pernah menyaksikan pertunjukan seperti ini secara langsung.

Pergelaran Janger dengan lakon “Mahesa Jaya Lengkara”. Foto dok./TBJT.

Pada Malam Harinya acara ditutup oleh PLT. Kepala Taman Budaya Jawa Timur, Drs. Edi Iriyanto, MM. Sebelumnya ditampilkan pergelaran tari dengan judul: Kembang Pesisiran dan ditutup dengan pergelaran janger dengan Lakon: Mahesa Jaya Lengkara. Janger Banyuwangi yang juga disebut teater Banyuwangi merupakan sebuah kesenian rakyat asal Banyuwangi yang memadukan tarian, kostum dan gamelan Bali dengan kisah rakyat Jawa. Cerita yang umumnya dipertunjukkan di antaranya Ande-ande Lumut, Cinde Laras, Minakjinggo Mati, Damarwulan Ngenger, Damarwulan Ngarit, Sri Tanjung, cerita bernafaskan Islam, dan sebagainya. Pada Penutupan Gelar Seni Budaya Daerah Banyuwangi ini cerita yang diangkat adalah Mahesa Jaya Lengkara. (san)

Sanjoto Prijo Djatmiko

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.