Padepokan Seni Kirun (PadSKI), Tempat Menimba Ilmu Tentang Seni Budaya Jawa

Foto bersama grup dageline PadSKI dengan Kepala Taman Budaya Jawa Timur Agus Ramajanto, S.Sos., MM. (Foto dok./TBJT)

Penampilan ketiga pergelaran Dagelan Online (Dageline) yang disiarkan secara langsung melalui chanel youtube cak Durasim milik Taman Budaya Jawa Timur, diisi oleh Padepokan Seni Kirun (PadSKI). Tampil pada Sabtu, 17 Oktober 2020 di Pendopo Jayengrana Taman Budaya Jawa Timur. Mengusung judul dagelan “Kejeglong”. Para pemain yang tampil diantaranya: Pelok, Slenthem, Ketuk, Jamil, Dina dan Mujiadi al. Mujek. Judul “Kejeglong” sebenarnya hanya bercerita tentang persoalan hutang piutang yang dikemas dalam model lawakan yang lucu, lebih lengkapnya bisa disimak di chanel youtube Cak Durasim. Para pemain yang mengisi acara didominasi oleh anak-anak muda yang punya kepedulian yang luar biasa pada kesenian berbau tradisi. Semuanya tergabung sebagai anggota di Padepokan Seni Kirun (PadSKI). Berbicara soal PadSKI tentu saja takkan bisa dilepaskan dengan sosok pendiri Padepokan itu sendiri yakni Haji Muhammad Syakirun.

Haji Muhammad Syakirun atau beken dengan panggilan Kirun hampir semua masyarakat Jawa Timur pasti tahu. Ingat Kirun pasti ingat pula jok-jok segar yang dilontarkan hingga mengocok perut orang yang menontonnya. Kirun adalah tipikal sosok seniman sejati. Ibunya meninggal saat Kirun berusia satu tahun, dan ayahnya meninggal saat dia berusia tiga tahun. Setelah itu diasuh oleh sang nenek. Sejak kecil Kirun sangat tertarik dengan seni tradisi, khususnya ludruk dan ketoprak.

Salah satu adegan Grup Dageline PadSKI pada pementasan 17 Oktober 2020 di Pendapa Jayengrana Taman Budaya Jawa Timur. (Foto dok./TBJT)

Ketika menempuh kelas 2 SD (1977), dia memutuskan tidak melanjutkan sekolah dan bergabung dengan ludruk tobongan “Garuda Sakti” milik Sunari yang kala itu bermain di Sidodadi Caruban. 1979 Kirun sempat hijrah ke Sorong Papua (dulu Irian Jaya) untuk berdagang kain, kesibukannya berdagang tidak menyurutkan semangatnya untuk berkesenian. Ia tetap bergabung sebagai pemain ludruk, ketoprak, dan wayang wong.

Tahun 80-an awal Kirun pernah memimpin paguyuban “Krido Wiromo”, paguyuban ini adalah sekumpulan orang-orang Jawa perantauan di Papua yang cinta pada kesenian asli nenek moyang mereka. Berbagai kesenian berusaha dilestarikan oleh paguyuban ini diantaranya ada ludruk, ketoprak , wayang kulit, wayang orang, jaranan, reyog dll. 1981 Kirun diminta pindah ke Jayapura oleh Pangdam XVII Cendrawasih pada waktu itu yakni Kolonel Infantri Pratiknyo untuk memimpin dan menyutradari grup kesenian Wayang Orang dan Ludruk “Wijaya Kusuma”. Hanya dua tahun bertahan memimpin grup kesenian “Wijaya Kusuma” karena pergantian Panglima. Setelah pemilu 1982 Kirun pulang ke Jawa dan mendirikan grup ludruk “Gaya Muda” di Bojonegoro pada usia 22 tahun.

Haji Muhammad Syakirun, pendiri, guru sekaligus sesepuh PadSKI. (Foto dok./TBJT)

1983 Kirun pulang kembali ke kabupaten Madiun dan memindahkan markas grup ludruk “Gaya Muda” ke tempat asalnya. Grup ludruk “Gaya Muda” hanya setahun bertahan, 1984 Kirun mendirikan lagi grup ludruk “Mayangsari”. Ketika masih berjaya dengan grup ludruk “Mayangsari” Kirun beserta crewnya sempat mengisi acara sandiwara radio dengan tajuk “Pangkur Jenggleng” di RRI Madiun. Hampir dua tahun acara itu bertahan di Radio milik pemerintah yang berada di karesidenan Madiun itu. 1986 Kirun mendirikan sanggar seni yang bertahan cukup lama bernama “Kirun Cs.”. Ketika bertahan dengan sanggar ini Kirun sempat berkibar menghiasi dunia perlawakan Indonesia melalui saluran televisi pemerintah dan swasta nasional. Acara-acara hasil kreasi Haji Muhammad Syakirun yang ngetop pada waktu itu diantarannya: Siaran Ketoprak “Kahuripan” dan Lawak “Depot Jamu Kirun” di TVRI Surabaya, lawak “Al Kirun Lampu Petromak” dan ludruk “Hoki” di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), serta “Kirun Cs.” dengan Ludruk “Bintang Timur” di Indosiar. Banyolan-banyolan yang dilontarkan oleh Kirun dan teman-temannya sempat menjadi trending di televisi nasional pada waktu itu.

Seiring perkembangan zaman, nama sanggar seni “Kirun Cs.” resmi didaftarkan ke kantor notaris pada 1999 dengan nomor C – 1409. HT.03.01-TH1999 dan nama sanggar seni “Kirun Cs.” Berubah menjadi “Padepokan Seni Kirun” (PadSKI) sampai dengan sekarang. PadSKI adalah wadah kreatifitas bagi seniman dan seniwati lokal (kawasan wilayah Madiun Raya) untuk memperluas dan mengembangkan seni budaya khususnya Jawa. Namun tidak menutup kemungkinan bila ada seniman dari luar wilayah tersebut untuk bergabung. PadSKI merupakan tempat menimba ilmu tentang seni budaya Jawa bagi siapa saja yang mau bergabung. Mulai Ketoprak, Ludruk, Campursari, Lawak, Pedalangan, Karawitan dll semua ada di padepokan itu. Banyak seniman sukses hasil didikan dari PadSKI, sebut saja seperti Precil, Yudo, Kanthi, Yadek, Sandirono, Sentot, Tarti dll.

Salah satu adegan Grup Dageline PadSKI pada pementasan 17 Oktober 2020 di Pendapa Jayengrana Taman Budaya Jawa Timur. (Foto dok./TBJT)

Selama proses berkesenian yang penuh kerja keras dan susah payah tersebut, Kirun tidak pernah menuntut balasan atas apa yang dikerjakannya, tidak ada pula yang memaksanya. Kirun menggandeng seniman-seniman lain atas dasar kecintaannya pada seni tradisi dan keikhlasannya untuk berbakti pada nusa bangsa. Banyak murid-murid Kirun yang sukses di pertelevisian Indonesia. Banyak pula yang mengabdikan diri untuk seni ketoprak, ludruk dan campursari di Madiun Raya. Rumahnya selalu terbuka 24 jam bagi siapa saja yang ingin mempelajari seni tradisi lebih dalam. Menurutnya, budaya Indonesia tidak perlu dilestarikan, melainkan harus dicintai. Dengan mencintai budaya, secara otomatis budaya itu akan lestari dan terus berkembang. Mencintai budaya tidak hanya di bibir saja, tetapi harus ada wujud nyata sebagaimana yang dilakukannya yakni mengabdikan seluruh hidupnya untuk kesenian. Kalaupun tak bisa setidaknya masih merasa handarbeni kesenian warisan nenek moyang meraka minimal mau melihat, mengapresiasi dan mencintai syukur-syukur menanggap kesenian tersebut sebagai sarana hiburan kala hajatan atau acara lain sebagai bentuk ungkapan kecintaan dan keberlangsungan kesenian tersebut. (san)

Sanjoto Prijo Djatmiko

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.