Ludruk Lerok Anyar: Sumirah

Ludruk Lerok Anyar lahir pada 17 Desember 2010 di Jombang Jawa Timur. Ludruk ini tercetus ketika keberhasilannya terpilih sebagai ludruk dengan kategori penyaji dan penyutradaraan terbaik dalam festival ludruk se-Jawa Timur di Jombang kala itu. Lerok Anyar telah berhasil membuktikan tekadnya untuk tetap eksis dan beberapa kali meraih kejuaraan di tingkat Provinsi.

Sambutan Kadisbudpar Prov. Jatim disampaikan oleh PLT. Kepala Taman Budaya Drs. Edi Iriyanto, MM. Foto Dok/TBJT

Ludruk Lerok Anyar dibidani oleh Marsam Hidayat atau yang akrab di panggil Cak Marsam, jebolan ludruk Wijaya Kusuma unit II Malang sekaligus merupakan alumnus Padepokan Seni Bagong Kusudiharjo Yogyakarta. Mengupas cerita dengan judul “Sumirah”, Ludruk Lerok Anyar kembali tampil pada gelar periodik teater tradisi yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Provinsi Jawa Timur bertempat di Taman Krida Budaya Malang pada Sabtu, 27/04/2019. Acara dibuka dengan sambutan Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur yang disampaikan oleh PLT Kepala Taman Budaya, Drs. Edi Iriyanto, MM. Isi pidato yang disampaikan Kadisbudpar Prov. Jatim mengandung harapan agar para sutradara mempertimbangkan aspek-aspek dramaturgi, keaktoran, makna cerita dan pemanggungan dalam arti kreatifitas yang dilakukan bukan pendangkalan atau pengkerdilan tapi langkah cerdas mendalam, aktual dan bermutu.

Penyerahan piagam kepada pimpinan ludruk Lerok Anyar dan golok kepada pemeran Sumirah oleh PLT. Kepala Taman Budaya. Foto Dok./TBJT

Selesai penyampaian pidato sambutan oleh PLT. Kepala Taman Budaya, acara dilanjutkan dengan penyerahan piagam penghargaan kepada pimpinan Ludruk Lerok Anyar, sdr. Marsam Hidayat serta penyerahan golok pusaka kepada tokoh pemeran Sumirah.

Tari Remo gaya Malangan yang dibawakan oleh lima orang gadis muda. Foto DOk./TBJT

Setelah prosesi pembukaan berlangsung pergelaran dibuka dengan tari remo putri yang dibawakan oleh lima penari wanita muda dengan gerakan remo khas gaya Malangan serta tetembangan jula-juli.

Tari Bedayan dibawakan oleh tujuh orang travesthi (transgender). Foto DOk.TBJT

Setelah tari remo selesai dilanjutkan dengan penampilan tari Bedayan yang dibawakan oleh 7 orang penari, bergaya lenggak-lenggok lemah gemulai bak perempuan tulen, ketujuh penari Bedayan tersebut diperankan oleh para transgender (banci) yang memang sudah menjadi ikon yang menempel pada setiap pementasan ludruk Lerok Anyar dari Kabupaten Malang

Pendekatan Santiko kepada Sumirah dengan lantaran jampi-jampi dari dukun Japrang. Foto Dok./TBJT

Santiko melihat kecantikan Sumirah bagaikan Ken Arok melihat Kendedes dalam Kitab Pararaton. Lantaran jampi-jampi Mbah Japrang  Santiko berhasil merebut Sumirah dari tangan Juragan Bakri. Tentu saja Romelah ( istri Santiko ) sakit hatinya Karena dimadu. Romelah meminta kepada Suaminya agar Sumirah di bunuh dengan cara meminta bantuan Mat Gobang seorang pembunuh bayaran. Sesuai yang direncanakan Santiko membawa Sumirah ke Pinggir Kali Brantas dan Mat Gobang sudah terlebih dahulu menyanggong di pinggir sungai Brantas.

Proses pengadilan Mat Gobang yang disangka membunuh Sumirah. Foto Dok./TBJT

Dalam keadaan  gelap gulita mat Gobang yang terkenal pembunuh bayaran dengan gobang di tangannya langsung menyeret sumirah dan sketika itu pula terdengar jeritan Sumirah. Santiko langsung pergi dan meyakini bahwa Sumirah telah di bunuh oleh Mat Gobang. Berita terbunuhnya Sumirah cepat menyebar ke pelosok desa sehingga Aparat Government segera bertindak. Untuk menyakinkan bahwa Mat Gobang membunuh Sumirah, Santiko menyuruh orang untuk mencuri barang milik Mat Gobang sebagai barang bukti. Mat Gobang di interograsi oleh Polisi Goverlement dan Mat Gobang tertap tidak mengaku bahkan Mat Gobang meyakini bahwa semua itu fitnah yang sangat keji dan kebohongan yang sistimatis. Orang orang Santiko dan masyarakat yang sudah terprofokasi oleh Santiko ikut berbondong bondong menyaksikan Mat Gobang di interograsi oleh Polisi Government bahkan para pengunjung terus menyuarakan yel yel Hukum Mat Gobang. Polisi terus memaksa agar Mat Gobang mengakui perbuatannya bahkan Baju dan Gobang milik Mat Gobang sudah di tangan Polisi untuk memperkuat barang bukti. Mat Gobang tetap pada pendiriannya bahwa Mat Gobang tidak membunuh Sumirah. Pengikut Santiko semakin marah dan terus menyudutkan Mat Gobang dengan yel yel hukum Mat Gobang manusia jahat manusia iblis manusia jahanam tega membunuh wanita. Polisi terus memaksa agar Mat Gobang segera mengakui perbuataanya, tapi Mat Gobang tetap bilang tidak membunuh bahkan Mat Gobang punya saksi kunci yang bisa memperkuat bahwa Mat Gobang benar benar tidak membunuh Sumirah.

Betapa kagetnya masyarakat ketika ternyata Sumirah masih hidup. Foto Dok./TBJT

Polisi Government mempersilahkan Mat Gobang menghadirkan saksi. Lelaki gagah tinggi besar layaknya algojo datang mengawal seseorang memakai jubah dan bertopeng. Tentu saja pandangan pengunjung semua kearah dua orang aneh tersebut dan polisi meminta orang berjubah segera melepas topengnya. Ketika topeng dibuka semua pengunjung terkejut dan Romelah langsung histeris melihat yang ada di depannya ternyata Sumirah yang masih hidup, cerita berakhir. (san)

Sanjoto Prijo Djatmiko

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.