Putra Taman Hira Angkat Persoalan Hutang Piutang Sebagai Bahan Lawakan

Pergelaran Dageline (Dagelan Online) yang disiarkan langsung melalui chanel youtube Cak Durasim milik Taman Budaya Jawa Timur menampilkan grup dagelan Putra Taman Hira dari Kota Surabaya. Pergelaran berlangsung di Pendapa Jayengrana pada 7 November 2020, dengan mengambil judul ”Perkoro Utang”.

Foto dok.TBJT.

Grup Taman Hira digawangi oleh empat orang personil yakni: Riki Veka, Rizki, Novan Dwi Arianto, Masadi. Cerita lawakan yang diangkat mengambil judul “Perkoro Utang”.  Adi adalah seorang petinju yang kaya raya tetapi agak sedikit sombong, sementara Novan adalah temannya yang kurang mampu. Karena persoalan ekonomi yang sulit Novan meminjam uang pada Adi, sampai alam hutang itu tidak dibayar-bayar karena Novan belum punya uang untuk membayarnya. Akhirnya atas inisiatif dua rekan mereka yakni Riki dan Rizki diadakanlah pertandingan tinju antara Novan dan Adi. Syaratnya bila Adi Menang Novan bayar hutang dua kali lipat dan bila Adi kalah hutang Novan lunas.

Foto dok. TBJT.

Pada adegan pertandingan tinju adegan dibumbui full humor, akting Adi yang terkesan blo’on membuat penonton yang hadir terbatas dibuat tertawa terpingkal-pingkal. Adi dikerjai habis-habisan oleh Riki dan Rizki, tiap kali akan memukul gong tanda selesai ronde dibunyikan sehingga Adi tidak sempat memukul. Disela-sela ronde muncul tokoh banci yang diperankan Rizki membawa papan ronde dengan gaya centil, membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal. Merasa dikerjai habis-habisan Adi akhirnya marah, semua dihajarnya hingga pingsan, ketika semua sudah pingsan Adi memukul dirinya sendiri kemudian berteriak “semua akibat Perkoro Hutang”, adegan selesai.

Hikmah yang bisa diambil dari pertunjukan ini adalah bila meminjam Uang kepada teman sebaiknya segera mengembalikan, sebaliknya dari pihak yang memberikan hutang bila seorang teman belum mampu membayar jangan mudah emosi kemudian bertindak kekerasan. Sebagai sesama teman hendaknya ada toleransi tidak bergaya premanisme ketika menyelesaikan persoalan.

Sugeng Rogo, Foto dok.TBJT.

Putra Taman Hira merupakan singkatan dari Putra Taman Hiburan Rakyat, anggotanya terdiri dari anak-anak eks pemain ketoprak, wayang orang, ludruk yang dulu bermarkas di Taman Hiburan Rakyat Surabaya sebelum digusur. Diketuai oleh Sugeng Rogo seniman serba bisa yang dulu biasa main di kawasan THR Surabaya. Menurut Sugeng Rogo dibentuknya Putra Taman Hira disamping untuk memobilisasi anak-anak eks seniman THR agar tidak terpengaruh hal-hal negatif juga untuk mewadahi keinginan berkesenian anak-anak muda tersebut sekaligus nguri-nguri kesenian leluhur.

Disamping anak-anak eks seniman THR juga banyak anggota dari kalangan usia sekolah dan sudah bekerja. Semua jenis kesenian Jawa diajarkan, mulai karawitan, ketoprak, ludruk, wayang orang, tari-tarian dan lawak lengkap ada. Karena markas besar Putra Taman Hira di THR sudah tidak ada maka proses latihan diadakan di rumah salah satu anggota. Sebenarnya ditawari juga untuk berlatih di Balai Pemuda oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya, tapi karena area Balai Pemuda dijadikan aloon-aloon untuk sementara latihan dihentikan. Apalagi situasi pandemi yang sampai sekarang masih terus berlangsung semakin mengurangi jadwal latihan selama ini. Sugeng Rogo berharap agar kiranya pihak Pemerintah Kota Madya Surabaya membangun kembali sebuah pusat kesenian di Surabaya semacam THR zaman dulu, sehingga proses berkesenian di Surabaya bisa berlangsung terus. Siapa lagi yang peduli pada kesenian asli leluhur ini kalau bukan orang-orang yang aktif mencintai kesenian tinggalan leluhur ini lahir batin macam sanggar Putra Taman Hira. (san)

Seksi Dokumentasi Publikasi

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.