Siklus : Pameran 14 Perupa Surabaya

Siklus itu ibarat cara alam dalam menyampaikan kejujurannya, begitu juga dengan seni rupa, berkembang, berproses menurut gerak alam yang didukung perkembangan lingkungannya.

Bertempat di galeri Prabangkara Taman Budaya Jawa Timur 14 perupa Surabaya menggelar pameran seni rupa. Pameran berlangsung mulai 5 s/d. 12 Agustus 2019. Masing-masing perupa memamerkan dua karya lukisan dengan berbagai aliran. Ke-14 perupa tersebut adalah:

  1. Dwijo Sukatno, karya berjudul Semar (acrylic on canvas, 100×100 cm) dan Narada (acrylic on canvas 100×100 cm).
  2. Yunus Jubair, Semesta 3 (ballpoint on paper 80×100 cm) dan Anugrah Dari Langit (ballpoint on paper 80×100 cm)
  3. Buggy Budijanto, Untitled I (acrylic on canvas) dan Untitled II (acrylic on canvas).
  4. Achmad Feri, Peralihan (acrylic on canvas 159×115 cm) dan Pendowo Limo (acrylic on canvas 159×115 cm).
  5. H.M. Riyanto, Chaos(Win or Lose) (oil on canvas 120×180 cm) dan Dream (Noah Ship Modern) (oil on canvas 140×180 cm).
  6. Ken Adhisti, Murdha Asi Rad Dhuva Asi (oil on canvas 140×140 cm) dan Wayang Golek (oil on canvas 70×100 cm).
  7. Astuti Hussein, Bunga#1 (acrylic on canvas 50×60 cm) dan Bunga#2 (acrylic on canvas 50×60 cm).
  8. Nining Zaro, Bunga (acrylic on canvas 35×46 cm) dan Making love (acrylic on canvas 50×70 cm).
  9. Daniel De Quelyu, Kalimas (oil on canvas 110×140 cm) dan Garuda NKRI (oil on canvas 110×120 cm).
  10. Didik S. Hadi, Bali Dance (acrylic on canvas 150×200 cm) dan Barong Dance (acrylic on canvas 150×200 cm).
  11. Alifiman Eratama, Diam (acrylic on canvas 180×240 cm) dan Diam II (mixed media on canvas 180×240 cm).
  12. Aninn, Untitled I (acrylic on canvas 75×100 cm) dan Untitled II (acrylic on canvas 55×80 cm).
  13. Ali Taufan, Terdampar (acrylic on canvas 110×120 cm) dan Desa Putih (acrylic on canvas 110×120 cm).
  14. Lutfi Sakato, Untitled I (mied media on canvas) dan Untitled II (mixed media on canvas).
Acara dibuka oleh bapak Tjuk Sukardi. Foto dok./TBJT.

Siklus adalah teori Sosiologi yang berasal dari bahasa Inggris Cyclical Theory kajian teori ini mempunyai sudut pandang yang menarik dalam melihat perubahan sosial, diandingkan dengan teori konflik dan teori struktur fungsional. Alasan berbeda karena dalam teori beranggapan bahwa bentuk perubahan sosial tidak dapat dikendalikan oleh siapapun, bahkan oleh seorang ahli sekalipun.

Dalam setiap kehidupan masyarakat terdapat siklus yang harus diikutinya. Kebangkitan dan kemunduran suatu peradapan (budaya) tidak dapat dielakkan. Pendapat mengenai teori siklus diungkapkan oleh Ibnu Kaldun, beliau memandang bahwa kehidupan ini sejalan dengan siklus yang menjadi bagian daripada masyarakat, masyarakat akan berusaha melakukan pembangunan, meningkatkan perekonomian, setelah itu memajukan teknologi. Akan tetapi pada akhirnya masyarakat pula yang akan menghancurkan pembangunan yang telah dijalankan itu. Dari penjelasan mengenai pengertian teori siklus diatas, dapat dikemukakan bahwa teori ini adalah gambaran terhadap perjalanan manusia di dalam perkembangan jaman dan diakhir jaman, dari dimulainya kehidupan sampai masa akhir kehidupan yang dijalankan.

Bila ditarik benang merah antara teori siklus dengan perjalanan perkembangan seni rupa, pastinya saling berkaitan, karena seni rupa itu sendiri terbentuk dan tidak bisa lepas dari sejarah budayanya. Peninggalan-peninggalan dari masa lalu seperti bangunan atau artefak Mesir kuno, Byzantium, Romawi, India bahkan Indonesia. Berdasarkan penelitian para ahli menyatakan seni/karya seni sudah ada sejak 60.000 tahun yang lalu. Bukti ini bisa terlihat dari goresan-goresan lukisan di dinding-dinding gua yang menggambarkan kehidupan manusia purba. Artefak/bukti ini mengingatkan kita pada lukisan modern yang penuh ekspresi. Hal ini dapat dilihat dari kebebasan mengubah bentuk. Suatu hal yang membedakan antara karya seni purba dengan modern adalah terletak pada tujuan penciptaannya. Kalu manusia purba membuat karya seni pada masa itu adalah semata-mata untuk kepentingan sosioreligi, karena manusia purba masih terkungkung oleh kekuatan-kekuatan alam sekitar.

Foto dok./TBJT.

Sedangkan manusia modern membuat karya seni pada masanya diunakan untuk kepuasan pribadinya dan menggambarkan/mengekspresikan kondisi lingkungannya dan lain sebagainya. Dengan kata lain manusia modern adalah figure yang ingin menemukan hal-hal baru dan mempunyai fantasi berpikir yang lebih luas, sedangkan bentuk kesenian jaman dahulu selalu ditandai dengan kesadaran magis, religius, karena memang demikian awal kebudayaan manusia. Dalam sejarah seni terjadi banyak pergeseran, sejarah Renaisans atau bahkan sebelumnya. Basis-basis ritual dan kultis, karya seni mulai terancam berggeser akibat sekularisasi masyarakat. Dengan kata lain fungsi seni menjadi media ekspresi dan setiap karya seni merupakan bentuk yang baru, unik dan orisinil.

Pada jaman Post Modernisme/Kontemporer, dijaman ini bentuk kesenian lebih banyak perubahan baik secara kebendaan atau kajian estetiknya. Yang lebih keren dan mendobrak di era kontemporer, aturan-aturan yang telah ada seakan-akan dihancurkan, yang dulu karya seni harus indah, sejuk, menyenangkan, sekarang malah bisa sebaliknya. Yang dulunya karya seni itu memuat etika sosial, etika agama, etika estetik dan etika yang lain-lain namun sekarang mungkin kesemuanya itu sudah menjadi aturan usang. Ditambah lagi di jaman modern sudah teramat pesat kemajuan teknologi yang sulit terbendung, tidak menutup kemungkinan akan muncul berbagai macam bentuk aliran-aliran seni rupa baru. Bisa saja seni rupa berkolaborasi dengan teknologi digital, sehingga tampilan karya seni rupa di era post modern jauh lebih kreatif, inovatif, orisinil dan non tradisional. Namun masih tetap berkiblat pada filosofi-filosofi seni.(san)

Sanjoto Prijo Djatmiko

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.