Gelar Seni Budaya Daerah Jember : Percampuran Budaya Multi Etnis

Bedaya Jember, gambaran kelembutan dan keteguhan hati Putri Mayangsari dalam memelihara hubungan batin dengan penguasa alam gunung Raung. Foto dok./TBJT.

Indonesia terkenal sebagai negeri dengan kekayaan budaya yang luar biasa. Berdasar data dari Badan Pusat Stastistik tahun 2010 jumlah suku bangsa yang ada di Indonesia ada 1340 suku bangsa dengan 41% suku Jawa sebagai suku yang terbesar dalam jumlah populasi. Karena sedemikian banyaknya budaya inilah yang memperbesar kemungkinan terjadinya percampuran budaya atau Akulturasi. Percampuran budaya ini sudah terjadi sekian lama dan semakin berkembang, karena masyarakat Indonesia yang memiliki sifat sangat terbuka pada perubahan. 

Kabupaten Jember yang terletak di kawasan tapal kuda Jawa Timur salah satu contoh Kabupaten yang memiliki budaya hasil dari percampuran beberapa etnis yang bertemu dan berakulturasi di Kabupaten tersebut. Mayoritas penduduk Kabupaten Jember adalah Suku Jawa, dan sebagian besar beragama Islam. Selain itu terdapat minoritas Suku Osing dan Suku Madura. Juga warga Tionghoa, Arab, Bugis, Bali, Minang dll., yang kebanyakan tinggal di pusat ibu kota kabupaten. Suku Madura dominan di daerah utara dan Suku Jawa di daerah selatan dan pesisir pantai. Bahasa Madura dan Bahasa Jawa digunakan di banyak tempat, sehingga umum bagi masyarakat di Jember menguasai dua bahasa daerah tersebut dan juga saling pengaruh tersebut memunculkan beberapa ungkapan khas Jember. Percampuran kedua kebudayaan Madura dan Jawa di Kabupaten Jember melahirkan satu kebudayaan baru yang bernama budaya Pendalungan. Masyarakat Pendalungan di Jember mempunyai karakteristik yang unik sebagai hasil dari penetrasi kedua budaya tersebut. Kesenian Can Macanan Kaduk contohnya, merupakan satu hasil budaya masyarakat Pendalungan Jember.

Pembacaan Hastungkara. Foto dok. /TBJT.

Bertempat di Taman Budaya Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Jember bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur melalui UPT Taman Budaya, menggelar potensi seni budaya Kabupaten Jember pada tanggal 11-12 Oktober 2019, dengan mengusung tema “Abyor Bumi Jember Pendalungan”. Tidak hanya kesenian yang ditampilkan tapi juga produk unggulan dan potensi pariwisata yang ada di Kabupaten Jember baik melalui stand khusus yang melayani informasi kapariwisataan atau lewat pemutaran video layar lebar yang dipasang di sebelah barat Pendapa Jayengrana.

Acara diawali dengan kunjungan para pejabat dan tamu vip ke stand-stand yang memamerkan hasil industri pertanian, kerajinan, kuliner yang berada di seputar Pendapa Jayengrana. Dikawal oleh sepasang ondel-ondel Ta-bhutaan atau Buto-butoan dan sepasang artis JFC (Jember Fashion Carnival). Kesenian ondel ondel Ta-bhutaan merupakan kesenian asli Kabupaten Jember terutama wilayah utara, tepatnya Desa Kamal, Kecamatan Arjasa. Kesenian ini masih banyak digunakan oleh masyarakat Desa Kamal sebagai salah satu sajian dalam acara-acara selamatan desa, dan bersih desa atau ruwatan. Kesenian ini juga merupakan ajaran dari leluhur Desa Kamal, yang diyakini masyarkat setempat mampu menghalau musibah yang akan melanda desa, misalnya gagal panen maupun penyebaran wabah penyakit. Ta-bhutaan awalnya hanya dikenal di wilayah Jember Utara saja, tetapi sekarang mulai dikenal lebih luas oleh masyarakat Jember.

Kesenian Ta-Bhutaan (Buto-butoan) yang ikut tampil pada pembukaan Gelar Seni Budaya Daerah Kabupaten Jember. Foto.dok./TBJT.

Hastungkara atau lantunan doa dalam bentuk geguritan dalam bahasa Jawa dibawakan oleh seorang Dalang membuka seremonial acara, dilanjutkan dengan Tari Bedaya Jember. Tari Bedaya Jember menggambarkan kelembutan dan keteguhan hati Putri Mayangsari dalam memelihara hubungan batin dengan penguasa alam gunung Raung. Putri Mayangsari adalah tokoh perempuan yang dimunculkan dalam cerita yang ada pada Babad Sempolan yang dianggap oleh Budayawan Jember sebagai sub-cerita Babad Jember. Babad Sempolan bercerita perihal kisah dibalik nama-nama tempat di daerah Sempolan,Jember. Babad Sempolan, secara garis besar, menceritakan persaingan diantara para murid Nyai Merapen, yakni Joko Susilo, Mayangsari dan Raden Kejayan. Kedua murid laki-laki tersebut memperebutkan cinta Mayangsari. Menjelang pertarungan fisik diantara kedua murid laki-lakinya, Nyai Merapen marah dan semua muridnya berpencar. Raden Kejayan lari bersama Mayangsari. Nyai Merapen mengejar Joko Susilo. Joko Susilo berhasil lolos  dan menghilang di sebuah gua, di Pace. Tempat itu dinamai desa Pace dan tempat berpencarnya para murid tersebut lalu dinamai Sempolan, berasal dari kata sempalan. Tari Bedaya Jember ditarikan oleh 9 orang wanita yang masih perawan, tarian ini menggambarkan ritual pemujaan Putri Mayangsari kepada para hyang penguasa alam di gunung Raung. Tarian dibawakan dengan penuh penghayatan dan kelembutan.

Pemukulan kentongan sebagai tanda dimulainya acara Gelar Seni Budaya Daerah Kabupaten Jember 2019. Foto dok./TBJT.

Setelah persembahan Tari Bedaya Jember dilanjutkan dengan seremonial acara yakni sambutan-sambutan yang disampaikan diantaranya oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jember yang mewakili Bupati karena berhalangan hadir. Dilanjutkan dengan pertukaran cinderamata dan terakhir sambutan Asisten I Provinsi Jawa Timur sekaligus membuka jalannya Gelar Seni Budaya Daerah Kabupaten Jember.

Setelah seremonial selesai dilanjutkan Tari Larung Bedadung, Lagu Daerah Jember Pendalungan dan ditutup dengan Drama Tari Rantak-rantak Wong Bumi Jember. Tari Larung Bedadung adalah sebuah Tarian yang menggambarkan semarak kerukunan orang-orang Jember dalam memelihara kerukunan hidup. Bedadung sendiri adalah nama sebuah sungai di Jember, dan dipercayai sebagai batas untuk merendam dan melarung segala kekisruhan dan kesialan yang terjadi, sehingga setelah selesai dilarung diharapkan tinggal jiwa suci dan keteguhan hati untuk membangun diri dan negeri.

Tari Larung Bedadung. Foto dok./TBJT.

Lagu Daerah Jember Pendalungan diciptakan oleh Kang Partu, salah seorang seniman dan budayawan Jember, lagu ini ramah ditelinga warga Jember. Dinyanyikan oleh 2 orang penyanyi pria dan wanita dengan latar para pemenang Gus dan Ning Kabupaten Jember. Di rangkaian penutup acara hari pertama dipergelarkan Drama Tari dengan judul Rantak-rantak Wong Bumi Jember. Drama Tari ini menggambarkan perjalanan komunitas masyarakat Pendalungan di Jember sejak jaman megalithikum sampai dengan kedatangan orang Mataraman, Ponoragan, Madura dan suku-suku yang lain sehingga terjadi sebuah Akulturasi budaya yang membentuk sebuah budaya baru bernama Pendalungan yang hingga saat ini berkembang di Jember.

Persembahan Lagu Daerah Jember Pendalungan. Foto dok./TBJT.

Pagi hari pada hari kedua diisi dengan lomba menghias gelas Family untuk anak-anak PAUD se-Kota Madya Surabaya dan dilanjutkan dengan pergelaran Jaranan dan Gendang Patrol Khas Jember. Seni tradisi Jaranan dikenal sebagai seni tradisi daerah Mataraman di Jawa Timur. Di Kabupaten Jember, seni tradisi ini banyak dipentaskan di wilayah selatan yang memang dihuni warga keturunan kawasan Mataraman. Konon kesenian ini muncul bersamaan dengan terpecahnya Kerajaan Kahuripan menjadi Kerajaan Jenggala dengan ibukota Kahuripan dan Kerajaan Panjalu atau Kediri dengan Ibukota Dhahapura. Jaranan selalu terkait dengan hal-hal yang bersifat gaib. Masa dulu, seni tradisi ini digunakan untuk upacara terkait pemujaan terhadap roh leluhur keraton. Di Jember, seni tradisi ini kini tak terkait dengan urusan keraton atau hal-hal bersifat keningratan. Namun saat menyaksikan jaranan masih bisa dirasakan adanya sesuatu yang bernuasa supranatural. Pemeran jaranan bertingkah laku seperti orang kesurupan dan kadang membuat penonton tertawa atau menjerit. Kendati demikian, atraksi ini tidak membahayakan, karena ada pawang yang senantiasa menjaga agar seniman jaranan yang beraksi tak mengganggu. Seni tradisi jaranan memang tak berjarak dengan masyarakat. Di kawasan selatan, seni tradisi ini tak kehabisan bakat-bakat muda yang melestarikannya. Banyak sanggar untuk melatih anak-anak muda menekuni kesenian Jaranan.

Drama Tari dengan judul Rantak-rantak Wong Bumi Jember. Foto dok./TBJT.

Gendang patrol sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat Jember, Jawa Timur, terutama di Bulan Puasa. Selain menghibur dan membangunkan warga untuk makan sahur, musik yang biasanya dimainkan 10 orang pemain ini juga bertujuan mengamankan kampung di malam hari. Tak heran, anggota kelompok musik jenis patrol selalu menyelipkan senjata tajam di pinggang. Lazimnya kesenian rakyat, musik ini hanya mengandalkan harmonisasi dan apresiasi dadakan para pemain. Personel kelompok musik ini terdiri dari pemain kentongan berbagai ukuran, pemain seruling bambu, perkusi, dan rebana. Mereka melantunkan sejumlah lagu daerah, seperti “Kendang Kempul Banyuwangi”, “Macapat Madura”, dan lagu-lagu dangdut. Konon, istilah patrol mengacu pada makna kata patroli atau berjaga-jaga. Tiap tahun, musik pengantar sahur ini mengalami perkembangan karena perangkat musik yang dipergunakan kian bertambah. Sayang, para pemuda di sana tak lagi tertarik menjadi anggota kelompok jenis musik yang sudah ada sejak zaman Belanda. Ada satu inovasi baru yang menambah kerampakan musik ini, yakni dengan ditambahkannya unsur Kendang Banyuwangi dalam komposisinya, sehingga populer dengan nama Gendang Patrol.

Pada akhir acara Gelar Seni Budaya Daerah Kabupaten Jember ditutup dengan pergelaran Ludruk Surya Utama dengan mengambil cerita Babad Jember. Sebelumnya disampaikan sambutan oleh Kepala Bidang Kebudayaan Kabupaten Jember, penyerahan foto mozaik tokoh Cak Durasim yang disampaikan oleh PLT. Kepala Taman Budaya dan rangkaian acara ditutup oleh PLT. Kepala Taman Budaya.

Musik Gendang Patrol. Foto dok./TBJT.

Cerita Babad Jember yang dibawakan oleh Ludruk Surya Utama Jember berkisah perihal asal-usul nama-nama tempat di Jember, yang disajikan secara naratif. Nama-nama tokoh dalam lakon Babad Jember identik dengan nama-nama tempat di Jember, antara lain Pangeran Arjasa (Kecamatan dan Desa Arjasa), Roro Mangli (Desa Mangli), Mpu Patrang (Kecamatan dan Desa Patrang), Mpu Baratan (Desa Baratan), Nyai Kasengan (Dusun Kasengan) dan Adipati Gebang Taman (Desa Gebang). Secara garis besar, Babad Jember bercerita tentang masuknya agama Islam yang dibawa oleh Syekh Maulana Maghribi.

Sebagai pendatang, agama Islam tersebut mendapat tentangan dari para pejabat kadipaten Gebang Taman. Syekh Maulana Maghribi ditangkap dan hendak dihukum gantung. Menjelang hukuman gantung, angin besar datang dan membatalkan eksekusi. Semua orang di sana kemudian berlutut mengakui kebenaran agama Islam, kecuali Mpu Patrang. Mpu Patrang merasa dirinya cukup sakti untuk tak mengakuinya. Karena hubungan dengan pejabat kerajaan yang retak, Mpu Patrang berusaha memutuskan hubungan cinta Pangeran Arjasa dan Roro Mangli.

Ludruk Surya Utama dengan lakon “Babad Jember”. Foto dok./TBJT.

Roro Mangli adalah putri Mpu Patrang dan Pangeran Arjasa adalah Putra Mpu Baratan. Kedua Mpu tersebut adalah pejabat kerajaan. Sampai pada kelanjutannya, Mpu Patrang membunuh Roro Mangli dan Pangeran Arjasa. Mpu Patrang kemudian diburu oleh pejabat beserta pasukan Kadipaten Gebang Taman. Pada akhirnya, Mpu Patrang dikeroyok dan terbunuh di sebuah rawa yang becek atau jembrek. Tempat itu kemudian diberi nama Jember.

Pelakonan Ludruk dengan cerita Babad Jember yang dibawakan oleh Ludruk Surya Utama, menggambarkan sebuah alur cerita berbau Akulturasi budaya yang bagi para penonton yang terbiasa melihat dan menyaksikan Ludruk yang ada di wilayah arek (Surabaya dan sekitarnya) agak sedikit bingung. Dialog dalam cerita bercampur baur antara bahasa Jawa, Indonesia, Madura dengan pembawaan karakter dalam dialog yang mungkin tidak sama dengan versi Ludruk arek. Seorang Tokoh Adipati Gebang Taman yang notabene beragama Hindu menggunakan bahasa Indonesia dalam dialognya (red.: jaman dahulu bahasa Indonesia belum ada) , ditilik dari sisi kesejarahan rasanya tidak mungkin digunakan oleh seorang Adipati beragama Hindu, lebih masuk akal menggunakan bahasa Jawa, Jawa Kuna atau Bali (Karena Kedekatan secara geografis dengan Bali). Dari sisi garap iringanpun mungkin terdengar aneh bagi para penikmat Ludruk di wilayah arek, gending yang umum dipakai pada Ludruk arek adalah Jula-juli, Cakranegara atau gending-gending berciri khas Jawa Timuran. Tapi pada Ludruk dari Jember ini alunan gending Srepeg, Kebo Giro yang notabene biasa digunakan pada Kesenian Wayang Kulit atau Ketoprak justru lebih mendominasi garap iringan selama pertunjukan. Barangkali itulah sisi lain dari keunikan Ludruk dari Jember ini, ibarat makanan identik dengan gado-gado, percampuran dari sayuran, lontong, tomat, tahu, tempe, sambal bumbu kacang, kecap, kerupuk, buah ketimun dicampur jadi satu hingga menimbulkan rasa lezat. (san)

Sanjoto Prijo Djatmiko

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.