Pameran Lukisan Komunitas Patria Seni Rupa Kota Blitar : Ketika “Bergerak” Menjadi Mantra Perlawanan
Galeri Prabangkara Taman Budaya Jatim kembali menjadi ajang Pameran Lukisan yang berlangsung mulai 15 – 21 Juli 2028. Pameran lukisan bertajuk “Bergerak” yang digelar Komunitas Patria Seni Rupa Kota Blitar, bisa dikatakan sebuah deklarasi. Di tengah kecenderungan seni rupa yang kerap berkutat pada kegelisahan personal yang hening, 21 pelukis dari Blitar justru memilih untuk menghadirkan riuh rendah gerak. Mereka datang dari dua generasi—remaja yang masih mencari bentuk, dan pelukis dewasa yang mulai menemukan pijakan.

Memasuki Galeri Prabangkara, pengunjung langsung disambut oleh energi visual yang nyaris melompat dari kanvas. Ini bukan pameran untuk mereka yang mencari ketenangan meditatif. Ini adalah pameran tentang denyut nadi.
Yang menarik dari tajuk “Bergerak” adalah tafsirnya yang berlapis. Di permukaan, kita melihat eksplorasi gerak fisik yang dinamis, goresan ekspresif, figur manusia yang seolah tertangkap kamera dalam kecepatan tinggi, hingga abstraksi penuh warna yang menciptakan ilusi vibrasi. Sapuan kuasnya spontan, seolah mengejar waktu dan emosi yang tak ingin surut.
Namun, di lapisan yang lebih dalam, “Bergerak” adalah metafora psikologis. Para pelukis remaja dalam pameran ini menyuarakan kegelisahan transisi mereka. Karya-karya mereka cenderung eksplosif, dengan warna-warna berani yang kadang bertabrakan. Ada semangat memberontak yang khas anak muda, namun tetap terbungkus dalam pencarian jati diri yang jujur. Mereka benar-benar “bergerak” dari zona nyaman belajar ke ranah profesional.
Sementara itu, para pelukis dewasa menampilkan kematangan teknis. Gerak yang mereka tawarkan lebih terukur namun dalam. Jika anak-anak muda itu berlari, para seniornya memilih untuk melompat dengan presisi. Mereka tidak lagi sekadar menangkap gerak tubuh, tetapi juga gerak batin, gerak sosial, hingga dinamika budaya yang terus bergeser.
Pameran ini berhasil menjadi ruang dialog yang sehat. Tidak ada sekat “senior” dan “yunior” yang kaku. Justru di situlah letak kekuatan Patria Seni Rupa. Mereka menempatkan karya pelukis belia berdampingan dengan pelukis kawakan, menciptakan semacam percakapan estetik yang saling melengkapi. Kita bisa melihat bagaimana energi mentah remaja 15 tahun berdialog dengan kontemplasi pelukis berusia 40 tahun. Hasilnya adalah tegangan yang produktif, yang tua belajar untuk lebih berani, yang muda belajar untuk lebih dalam.

Karya-karya yang ditampilkan juga membuktikan bahwa realisme bukanlah satu-satunya cara untuk merepresentasikan “gerak”. Beberapa pelukis justru berhasil menangkap esensi gerak melalui dekonstruksi bentuk yang nyaris abstrak. Di titik ini, pameran “Bergerak” menunjukkan bahwa komunitas ini terbuka terhadap eksplorasi gaya, dari realis-figuratif hingga ekspresionisme-abstrak.
Memilih Galeri Prabangkara sebagai venue adalah langkah strategis sekaligus simbolik. Ini adalah upaya membawa “gerak” dari Blitar ke panggung yang lebih besar, ke ekosistem seni rupa Jawa Timur yang lebih mapan. Ini menunjukkan bahwa komunitas di kota-kota seperti Blitar tidak hanya berkutat pada nostalgia Bung Karno, tetapi juga melahirkan seniman-seniman muda yang siap bersaing secara wacana.
Pameran “Bergerak” pada akhirnya adalah cermin dari komunitas itu sendiri: sebuah entitas yang terus beregenerasi, tidak takut berkolaborasi, dan menolak stagnasi. Di saat dunia terasa kian sulit dan banyak orang memilih untuk menyerah pada keadaan, 21 pelukis ini memilih untuk terus bergerak. Dan melalui goresan mereka, kita diingatkan bahwa bergerak adalah kodrat seni, dan kodrat manusia yang paling hakiki. (sn)
