“Tumbang Tambang”, Ungkapan Kritis Tentang Derita Pekerja Pertambangan
Sabtu, 25 Juli 2026, Taman Budaya Provinsi Jawa Timur Kembali menggelar pertunjukan Teater hasil dari Menejemen Talenta Teater yang di diselenggarakan pada bulan Mei lalu. Grup yang pentas adalah Komunitas Bengkel Seni Ujung dari Kabupaten Sidoarjo. Naskah yang dipentaskan berjudul “Tumbang Tambang”. Penampilan Komunitas Bengkel Seni Ujung SIdoarjo merupakan penampilan ketiga dari 6 grup teater yang lolos seleksi.

Naskah “Tumbang Tambang” sangat mengedepankan bahasa tubuh sebagai ungkapan ekspresi, minim dialog atau mini kata. Di tengah gegap gempita panggung besar yang memborbardir penonton dengan dialog jenaka atau monolog emosional, teater mini kata hadir sebagai sebuah oasis kontemplatif. Format ringkas berdurasi pendek bisa dikatakan pernyataan artistik yang berani bahwa kata-kata bukanlah satu-satunya tuan dalam seni peran.
Ketiadaan teks verbal yang dominan membuat penonton tidak lagi pasif mendengarkan, tapi aktif membaca visual. Imaji menjadi raja. Pencahayaan redup yang tiba-tiba berwarna jingga bukan hanya pergantian suasana, melainkan bisa berarti luka batin tokohnya. Helaan napas panjang yang diperdengarkan lewat tata suara bukan sekadar efek, melainkan sebuah kalimat utuh. Teater mini kata menghapus batas panggung dan penonton, mengundang setiap orang untuk menjadi rekan pencipta makna. Apa yang penonton tafsirkan dari tumpukan koral batu mungkin berbeda dengan tafsiran penonton lainnya, dan di situlah keindahannya.
Namun, genre ini bukannya tanpa tantangan. Bagi aktor, teater mini kata adalah ujian ketrampilan tertinggi. Tidak ada dialog yang bisa menyelamatkan. Tidak ada naskah yang bisa dihafal untuk menyembunyikan kegugupan. Setiap detik harus dihayati penuh, sebab penonton yang dekat bisa mencium kepalsuan. Bagi penonton, bentuk ini bisa jadi mengasingkan jika mereka datang dengan ekspektasi hiburan instan. Teater mini kata menuntut kesabaran, kepekaan, dan kesediaan untuk “merasa” alih-alih sekedar “mengerti”. Di era serba cepat dan verbal macam sekarang, menikmati teater mini kata adalah sebuah pemberontakan tersendiri yakni memilih diam yang kaya ketimbang bising yang kosong.

Teater mini kata mengingatkan siapa saja bahwa tak semua hal perlu diucap agar dimengerti. Dalam diam dan ruang kecil, justru luas semesta bisa terbentang. Sebuah perayaan bahasa tubuh yang tak kalah fasih, dan undangan lembut untuk kembali mendengarkan dengan mata. Bagi siapa pun yang rindu pada kedalaman yang tak cerewet, teater mini kata adalah pulang.
Naskah “Tumbang Tambang” merupakan ungkapan kritis tentang derita pertambangan di Indonesia. Mengusung genre teater progresif tentang semangat perlawanan dan keprihatinan sosial di sebuah proyek pertambangan. “Tumbang Tambang” mengangkat narasi kelam di balik megahnya industri tambang Bumi Pertiwi. Lakon ini merupakan sebuah refleksi mendalam tentang: 1. Kerusakan lingkungan yang sistematis; 2. Bobroknya tata kelola dan sistem kuasa; 3. Kesenjangan ekonomi yang mencolok antara pemodal dan pekerja; 3. Serta ketidakpastian jaminan hidup, bahkan kematian, bagi para buruh tambang.
Melalui pendekatan olah rasa dan olah tubuh yang intens, pertunjukan ini hadir sebagai wadah pelampiasan pergolakan batin para pekerja ketika suara mereka tak lagi didengar oleh telinga kekuasaan. Menurut sutradara Oki Pratama pergelaran ini merupakan bentuk ungkapan ekspresi keprihatinan tentang peliknya persoalan sosial para pekerja tambang yang penuh derita. Dari pergelaran teater dengan judul naskah “Tumbang Tambang” ini Oki Tama berharap penonton merasakan sendiri gejolak yang selama ini terpendam di balik lubang-lubang tambang yang sering hanya dilihat dari sisi ekonomi semata.

Sebagai kelompok teater yang konsisten dengan isu-isu kerakyatan, Bengkel Seni Ujung berharap pementasan ini dapat menggugah kesadaran publik dan menjadi ruang dialog atas ketidakadilan yang masih terus terjadi di negeri ini. Jumlah personil yang memperkuat pergelaran ini 25 orang. Bertindak selaku: Sutradara: Oki Tama; Penata Artistik: Zainal Abidin; Penata Musik: Syafiq Tito; Penata Rias / kostum: Nur Alya; Penata Lighting : Dimas Adi Putra; Penata Suara : Syaifullah; Penata Property : Reza Muara.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh UPT. Taman Budaya Provinsi Jawa Timur yang didukung penuh oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur selaku OPD yang menjadi induk dalam struktur birokrasi di Pemprov Jatim serta Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. (pr)
