Pergelaran

Manajemen Talenta #5: Awal dan Mira Tampil Memukau di Gedung Cak Durasim

Sabtu, 22 Agustus 2026 Pergelaran Manajemen Talenta  Teater ke-5 di UPT Taman Budaya Jawa Timur, kembali menemani malam minggu Sobat Budaya ( Sebutan untuk Penonton di Taman Budaya ) dengan menghadirkan pertunjukan teater yang dibawakan oleh grup Sendratasik dari UNESA Surabaya.

(Foto dok. TBJT )

Antrian panjang penonton sejak sore memenuhi halaman Gedung Cak Durasim jauh sebelum pintu dibuka. Antrean tersebut terus bertambah panjang seiring penonton berduyun-duyun berdatangan untuk menyaksikan pertunjukkan yang dibawakan oleh grup Sendratasik. Pemandangan itu menjadi bukti nyata betapa besar minat masyarakat dari berbagai macam usia terhadap kesenian Jawa Timur khususnya teater. Penonton Pada pergelaran teater kali ini di dominasi dari kalangan Gen Z yang diperkirakan 85 % dari total pengunjung Taman Budaya Jawa Timur yang membuat Gedung Cak Durasim penuh, baik dari kursi on the spot (OTS) maupun free seating yang semuanya digelar secara Gratis.

(Foto dok. TBJT )

Grup Teater Sendratasik sukses mementaskan lakon berjudul “Awal dan Mira” yang berhasil menarik perhatian publik. Lakon ini diadaptasi dari naskah Awal dan Mira karya Utuy Tatang Sontani, dengan mengangkat isu kontemporer tentang penolakan masyarakat pesisir terhadap rencana reklamasi Surabaya Waterfront Land (SWL). 

(Foto dok. TBJT )

Pementasan ini tidak hanya bercerita tentang romansa antara dua insan, Awal dan Mira. Lebih dari itu, “Awal dan Mira” mengajak penonton untuk merenungkan bagaimana hiruk-pikuk pembangunan dan kepentingan ekonomi yang seringkali mengabaikan suara-suara kecil dari masyarakat pinggiran yang mempertaruhkan identitas dan tempat tinggalnya.

Awal” dan “Mira” bukan sekadar nama tokoh. Mereka adalah representasi dari dua sisi kehidupan yang dipertemukan oleh ketidaksengajaan. Konflik muncul ketika perasaan yang tumbuh di antara mereka harus berhadapan dengan realitas pahit: pilihan antara mempertahankan cinta, keluarga, dan tempat tinggal, atau tunduk pada arus perubahan yang menghanyutkan. Pesan kuat tergambar dalam dialog mereka, “Aku bukan kamu, dan kamu bukan aku“, yang menyiratkan perbedaan nasib dan pilihan di tengah badai masalah yang sama.

Karakter dari tokoh Awal yang digambarkan sebagai sosok idealis, serta Mira yang terjepit antara kasih sayang keluarga dan ketidakpastian masa depan. Penampilan aktor Aldhi Teguh Andrian Syah sebagai Awal dan Nabila Giri Ramadhani sebagai Mira berhasil menyuguhkan emosi yang mendalam hingga para penonton hanyut saat menyaksikan pertunjukan.

(Foto dok. TBJT )

Di balik penampilan yang memikat penonton malam itu, ternyata tersimpan pergulatan tersendiri bagi para pemainnya. Pemeran tokoh Awal mengungkapkan bahwa tantangan terbesar justru datang dari sisi yang tak terlihat penonton: membangun chemistry dengan lawan mainnya yang memerankan Mira.

“Saya mengalami kesulitan pada chemistry kita berdua karena di sini saya dan Mira sebelumnya memerankan teater dengan judul yang memiliki peran bermusuhan, dan sebaliknya di teater ini saya dan Mira harus membawakan peran yang saling mencintai,” ungkap pemeran Awal. Pengakuan ini menjadi potret kecil betapa proses di balik panggung tak selalu semulus yang tersaji di depan penonton. Berpindah dari peran yang saling berhadapan menjadi sepasang kekasih tentu menuntut penyesuaian emosi dan pendekatan yang tidak sederhana.

(Foto dok. TBJT )

Pementasan ini menjadi refleksi untuk kita semua bahwa pentingnya menjaga ruang hidup serta nilai-nilai kemanusiaan di tengah gempuran pembangunan yang serba cepat. pagelaran ini diperkuat oleh 35 orang personil yang terdiri dari 20 laki-laki dan 15 perempuan. Bertindak selaku: Pimpinan Produksi: Henny Relawaty Widiastuti; Sutradara: Yoga Yan Wardana; Penata Artistik (dalam hal ini Make Up/Kostum): Niken Ayu Permata dan tim; Penata Musik/Komposer: Yohannes Christian Manullang dan Fandy Eka Prasetya; Penata Lighting: Arsyad Fariz Rafi’uddin; serta Penata Multimedia: Vadyas Andrean Saputra.

Kegiatan ini diselenggarakan UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur yang didukung penuh oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur selaku OPD yang menjadi induk dalam struktur birokrasi di Pemprov Jatim dan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang turut andil mengambil peran sebagai bentuk dukungan untuk para seniman yang berada di wilayah Jawa Timur dan sebagai wadah dan rumah bagi seniman untuk terus berekspresi serta melahirkan karya – karya yang luar biasa. (pr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses