Berita

Pameran Lukisan “Painting Exhibition Colours of Dreams”

Taman Budaya Jawa Timur melalui program Fasilitasi Kesenian, memberi ruang kepada Sanggar Lukis Semut Liart untuk mengadakan Pameran Lukisan dengan tajuk “Painting Exhibition Colours of Dreams”. Pameran berlangsung di Galeri Prabangkara berlangsung mulai 4 – 9 April 2026. Pameran ini diikuti oleh 9 pelukis diantaranya: Adinda, Hector, Kaelyn, Aerilyn, Helios, Megan, Aston, Jezlyn, Sherlyn. Sembilan pelukis yang ikut berpartisipasi pada pameran ini adalah para pelukis anak dan remaja yang tergabung dalam komunitas Semut Liart yang diketuai oleh Arief Wong.

Pameran “Colours of Dreams”, menghadirkan pengalaman visual yang mengajak pengunjung merenungkan hubungan antara warna, mimpi, dan realitas. Bagaimana pameran ini menyampaikan pesan artistiknya. Pameran seni ini memamerkan karya-karya dari sembilan pelukis muda yang mengangkat tema warna sebagai medium ekspresi mimpi dan aspirasi manusia. Pameran ini menjadi ruang dialog antara imajinasi dan realitas, di mana goresan kuas dan palet warna bercerita tentang harapan, kenangan, dan pandangan hidup para pelukisnya .

Tema “warna mimpi” yang diusung bukan sekadar judul menarik, melainkan pendekatan kuratorial yang berusaha menjembatani dunia bawah sadar dengan realitas visual. Seperti diungkapkan dalam berbagai pameran serupa, warna memiliki kekuatan emosional dan sensorik yang mampu membawa pengunjung pada pengalaman personal yang mendalam .

Kurator pameran sekaligus ketua Sanggar Lukis Semut Liart Arief Wong, menjelaskan bahwa pameran ini mengajak pengunjung untuk melambat dan merasakan warna sebagai sesuatu yang hidup dan terasa. “Ini tentang bagaimana seniman menggunakan warna untuk menelusuri ingatan, membangun suasana, dan mengundang kegembiraan yang tenang,” ujarnya dalam keterangan pers .

Menurut Arief, dukungan orang tua menjadi bagian penting dari motivasi anak-anak. Melalui Colours of Dreams, ia berharap anak-anak didiknya pun bisa bersosialisasi langsung dengan pengunjung melalui karya. Sepanjang pameran berlangsung, para seniman cilik juga berkunjung. Saat ada yang bertanya lebih lanjut tentang karyanya, sang seniman bisa menjelaskan dengan detail. Colours of Dreams tidak membatasi tema lukisan para senimannya. Meski begitu, mengajar anak-anak berbeda dengan orang dewasa. Arief mengatakan, pembimbing harus bisa menyelami pikiran murid-muridnya.

Salah satu kekuatan utama pameran ini terletak pada keberagaman pendekatan artistik para pesertanya. Eksplorasi permainan warna dan tekstur dengan pendekatan yang intuitif dan ritmis.  Namun, seperti halnya pameran besar lainnya, “Colours of Dreams” bukannya tanpa catatan kritis. Pameran “Colours of Dreams” berhasil menciptakan ruang partisipatif yang menarik.

Antusiasme publik terhadap eksplorasi tema mimpi dan warna terbukti cukup Apresiatif. Pameran ini menjadi pengingat akan kekuatan ekspresi kolektif, di mana seni mampu memantulkan vitalitas tradisi sekaligus eksperimen modern . Colours of Dreams mungkin bukan pameran yang sempurna, tetapi berhasil melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh sebuah pameran seni yang bermakna. Meninggalkan pengunjung bukan hanya dengan kekaguman, tetapi juga pertanyaan-pertanyaan untuk direnungkan. Dan dalam dunia yang semakin cepat, ruang untuk merenung barangkali adalah hal paling berharga yang bisa ditawarkan seni.

Dan yang cukup membanggakan sembilan pelukis yang ikut serta dalam pameran ini adalah pelukis anak dan remaja. Di tengah gemerlap seni rupa kontemporer yang sarat konsep dan teknologi, seringkali kita lupa bahwa denyut nadi paling murni dari sebuah peradaban seni justru berdetak di ruang-ruang kelas dan sanggar sederhana. Pelukis anak dan remaja bukan sekadar pengisi waktu luang, mereka adalah penerus estafet generasi pelukis yang sesungguhnya.

Apa yang membuat mereka begitu krusial? Jawabannya sederhanasaja, yakni kejujuran dan kebebasan. Anak-anak melukis bukan untuk pameran, bukan untuk kritikus, apalagi untuk pasar. Mereka melukis karena dorongan naluri untuk bercerita. Goresan kuas mereka tidak terjebak oleh aturan perspektif atau komposisi yang baku. Akibatnya, lahirlah dunia yang unik. Matahari bisa berwarna hijau, rumah bisa terbang, dan manusia bisa lebih besar dari gunung. Inilah esensi seni yang paling hakiki, yakni tentang ekspresi jiwa yang polos dan tanpa rekayasa.

Sebagai penerus, mereka mewarisi lebih dari sekadar teknik. Seorang remaja yang belajar melukis secara tidak langsung sedang belajar sejarah. Ketika ia melukis pemandangan sawah, ia mewarisi cara pandang Basoeki Abdullah. Ketika ia bereksperimen dengan titik-titik, ia berkenalan dengan semangat impresionisme. Mereka adalah penjaga memori visual bangsa. Jika generasi muda berhenti melukis, maka cerita tentang bagaimana generasi sebelumnya melihat dunia akan ikut terkubur.

Namun, tantangan besar menghadang. Di era dominasi kecerdasan buatan dan filter digital, imajinasi anak-anak seringkali dipangkas oleh konten yang instan. Kreativitas menjadi korban dari tuntutan akademis yang mengesampingkan seni sebagai “pelengkap”. Di sinilah peran orang tua, pendidik, dan pemerintah diuji. Memberi mereka kuas dan kanvas saja tidak cukup. Mereka butuh apresiasi, ruang untuk bereksplorasi tanpa takut salah, dan pemahaman bahwa menjadi pelukis bukanlah profesi kelas dua.

Maka, lihatlah lukisan seorang anak. Di sana, kamu tidak hanya melihat coretan. Kamu melihat calon Affandi yang berani meleburkan diri dengan kuasnya. Kamu melihat potret Raden Saleh masa depan yang akan mendokumentasikan zamannya dengan cara yang tidak bisa dilakukan oleh kamera. Selama masih ada anak-anak yang rela kotor oleh cat dan asyik dengan pensil warnanya, selama itu pula seni lukis Nusantara akan terus bernyawa. Mereka adalah benih. Dan tugas kita adalah menyirami, bukan membiarkannya layu di antara deru mesin zaman. (sn)

Seksi Dokumentasi Publikasi

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses