Kolaborasi Ludruk Remaja Jawa Timur, Bukan Sekedar Ludruk Biasa Tapi Dikemas Lebih Kekinian
Ludruk, teater rakyat khas Jawa Timur yang sarat dengan kritik sosial, humor segar, dan musik tradisional, selama ini terlanjur dipersepsikan sebagai tontonan untuk kalangan orang tua. Bahasa arekan yang khas dan tembang-tembang macapat seolah menjadi tembok tinggi yang membuat generasi Z dan milenial enggan mendekat. Padahal, jika dibedah lebih dalam, jiwa ludruk sebenarnya sangat “kekinian”, ia lahir dari rakyat, bicara tentang rakyat, dan selalu mengkritisi kondisi sosial zamannya.

Taman Budaya Jawa Timur kali ini coba menampilkan kesenian ludruk dalam bentuk lain, menampilkan para pemain muda yang datang dari sekolah menengah dan pergruan tinggi seni yang ada di Surabaya. Mereka datang dari SMKN 12 Surabaya, Unesa dan STKW Surabaya. Diperkuat oleh kurang lebih 70 pemain yang rata-rata berusia muda dan sangat energik. Penganggungjawab pergelaran ini adalah Dr. Joko Winarko, S.Sn., M.Sn. dan Abing Santoso, S.Sn., M.Pd., pimpinan dipegang oleh Agung Kasas. Pergelaran dilaksanakan di Pendapa Jayengrana Taman Budaya Jawa Timur pada 14 Februari 2026 mulai pukul 19.00 wib. sampai dengan selesai.
Lakon yang diusung pada pergelaran ini adalah “SABU”. Yang merupakan kepanjangan dari “Sedia Aku Sebelum Hujan”. Judul ini bercerita tentang kisah perjuangan para pejuang zaman era perang kemerdekaan yang sempat mengkoyak persatuan dan kesatuan Republik Indonesia yang baru berdiri. Di bawah langit yang menggantungkan hujan, seorang pejuang berdiri di antara dua medan perang, tanah air dan hatinya sendiri. Senjata, janji, dan sehelai kerudung menjadi saksi bahwa kemerdekaan tidak hanya ditebus dengan darah, tetapi juga dengan pilihan yang melukai.

Di tengah gemuruh sejarah dan sorak kemenangan, ia justru diuji oleh sunyi, ketika perintah menjadi rantai, dan cinta menjelma rumah yang terus memanggil pulang. Mawar, hujan, dan pangkat hanyalah lambang, tentang manusia yang belajar bahwa membebaskan bangsa belum tentu mampu membebaskan diri. Maka sebelum hujan benar-benar jatuh, ia memilih satu kemerdekaan terakhir setia pada janji, meski harus menanggalkan dunia.
Secara umum cerita ini mengisahkan tentang perjalanan Letnan Bandi yang diperankan oleh Jefri Dio yang sedang dilanda dilema akibat dua pilihan antara membela kemerdekaan dari penjajahan dan kerinduan yang mendalam pada kampung halaman. Pada akhirnya mempertahankan kemerdekaanlah yang menjadi pilihan. Karena kemerdekaan itu pada hakekatnya hak siapapun manusia Ciptaan Tuhan untuk bebas dari penjajahan.
Yang menarik dari pergelaran ini, hampir semua instrumen pendukung pergelaran dikemas dalam model kekinian. Mulai musik yang dikolaborasikan dengan unsur modern (baca: elektrik), Kostum penari remo yang lebih bernuansa anak muda, hingga lawakan-lawakan khas gaya anak muda. Menjadikan pergelaran ini enak untuk ditonton.

Ludruk sendiri bukanlah stagnasi yang hanya dilihat dari balik kaca hiburan klasik semata. Ia adalah entitas hidup yang bisa terus bernapas, tumbuh, dan beradaptasi. Kuncinya adalah keberanian untuk keluar dari zona nyaman, membuka diri terhadap kolaborasi lintas disiplin, dan yang terpenting, mendengarkan bahasa yang digunakan oleh generasi sekarang. Dengan resep yang tepat, ludruk tidak akan menjadi sekadar tontonan nostalgia, melainkan ruang berekspresi dan berdialog yang relevan, menggelitik, dan membanggakan.
Di tengah derasnya arus globalisasi, anak muda zaman sekarang justru mencari sense of belonging atau rasa memiliki terhadap akar budayanya. Menyukai ludruk menjadi semacam pernyataan. “Aku gaul, tapi aku juga paham budayaku.” Ini semacam kebanggaan baru. Mereka tidak lagi malu menggunakan bahasa Jawa di ruang publik, justru mereka merasa keren bisa memahami dan menikmati seni yang penuh dengan filosofi dan kearifan lokal.
Mereka belajar bahwa di balik topeng humor, ludruk menyimpan nilai-nilai luhur tentang gotong royong, keteguhan, dan kebersamaan. Cerita kepahlawanan yang dibawakan pada pergelaran ini, terasa lebih membumi dan menggetarkan jiwa nasionalisme mereka dibanding sekadar membaca buku teks.

(F0tp dok. TBJT)
Pola semacam ini tidak terjadi secara spontan. Dibutuhkan peran aktif dari seniman-seniman lintas generasi yang membuka pintu lebar-lebar, termasuk sebagaimana pertunjukan yang digelar oleh Taman Budaya Jawa Timur ini. Banyak pegiat ludruk senior yang kini justru senang karena ada anak muda yang datang untuk nyantrik (belajar). Komunitas-komunitas ludruk mudapun bermunculan di berbagai kota, tidak hanya di Jawa Timur. Mereka rajin mengadakan workshop, diskusi, dan pertunjukan kolaboratif dengan musisi indie, komika, atau seniman tari kontemporer. Kolaborasi ini membuat ludruk terasa relevan dan tidak eksklusif.
Jadi, anak muda sekarang tidak sekadar “nonton ludruk”. Mereka ikut “nguri-uri” (merawat) dan bahkan ikut bermain di dalamnya. Mereka menemukan bahwa ludruk bukanlah peninggalan usang, melainkan cermin yang memantulkan realitas sosial dengan cara yang cerdas dan menghibur. Ludruk adalah ruang tertawa bersama, ruang untuk mengkritik dengan jenaka, dan pada akhirnya, ruang untuk pulang ke rumah sendiri. (sn)
