Jaranan: Fenomena Sosial Seni Pertunjukan Rakyat dalam Budaya Jawa

Oleh: Rohmat Djoko Prakoso

Pengantar

Dikotomi penyebutan wilayah kesenian dalam wacana perkembangan kesenian memposisikn seni pertnjukan yang tumbuh dan berkembang dalam lingkungan social kerakyatan dipersesikan sebagai kesenian yang terbelakang, kasar, dan tidak memiliki kualitas estetik yang mapan. Dalam era orde lama seni petunjukan rakyat mengalalami perkembangan menggembirakan karena digunakan sebagai bagian dari Gerakan politik partai-partai politik di nusantara. Tetapi ketika  rezim orde lama ditumbangkan oleh orde baru maka kesenian rakyat yang dibina; dimanfaatkan oleh partai tertentu maka kesenian tersebut dicekal dan dilarang oleh partai yang memenangkan pertarungan politik.

Pada masa orde baru kesenian rakyat menjadi kelu karena dibina dan diarahkan oleh rezim  orde baru sebagai media promosi program-program pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Hampir sebagian besar seni pertunjukan rakyat terhegemoni oleh kekuatan politik orde baru, tetapi kesenian yang mengkritik maupun yang dianggap bagian dari kesenian terlarang maka kesenian tersebut dicekal dan terbekukan. Beberapa kesenian yang mengkriktik pemerintah dicekal.

Era reformasi yang dibarengi dengan era hight tech memberikan peluang bagi kesenian untuk membebaskan diri dalam dunia kreatif, dalam berbagai wilayah kreatif untuk mengembangkan nilai ideologi maupun nilai ekonomi kesenian. Terjadi kompetisi yang bersifat horizontal dan vertical dalam seni pertunjukan rakyat. Secara vertical seni pertunjukan rakyat mencoba berebut peluang “berebut kue” dari program pemerintah. Secara hosrisontal persaingan terjadi pada wilayah pasar, setiap bentuk seni pertunjukan mengarahkan kreativitasnya untuk memproduksi bentuk baru yang disukai pasar.  Dalam hal ini media rekam menjadi factor penting yang mendorong tumbuhnya produk-produk rekaman seni pertunjukan rakyat.

Pada pasca reformasi pemerintah menggalakkan issu ekowisata yang memposisikan potensi alam dan kebudayaan sebagai asset ekonomi negara. Maka kebijakan politik ekonomi ini merangsang kreativitas yang mengarah pada produk-produk identaitas local dan pengembangan ekowisata yang diisiuekan sebagai pengembangan ekonomi kerakyatan yang berbasis potensi local. Ada dua factor penting yang mendorong pertumbuhan seni pertunjukan rakyat, yang pertama perkembangan hight tech yang menumbuhkan era informasi. Ke dua kebijakan politik ekonomi pemerintah yang mendorong kapitalisasi potensi alam dan budaya.

Seni pertunjukan jaranan,  gandrung, kethoprak, ludruk, campur sari, dangdut dan berbagai seni pertunjukan yang potensial mengembangkan nilai ekonomi mendapatkan angin segar dari media rekam, media social yang melipatkan gandakan informasi produk demikian cepat viral dalam dunia maya. Ini merupakan media promosi efektif. Ini merupakan dimulainya era kebangkitan kesenian rakyat.

Kebangkitan jaranan

Jaranan merupakan seni pertunjukan rakyat yang menyajikan penggambaran tarian prajurit yang mengendarai kuda kepang/kuda lumping. Dalam tradisi pertunjukan rakyat jaranan memiliki beberapa genre sesuai dengan bentuk sajian serta muatan filsafatinya. Di jawa timur dikenal beberapa jenis seni pertunjukan jaranan, antara lain jaranan jawa, jaranan breng, jaranan pegon, jaranan sentherewe, turangga yaksa, jaranan buta. Jaranan memiliki ruang publiknya dalam berbagai wilayah social, diperkotaan jaranan tumbuh dipinggiran kota dalam komunitas urban. Jauh dipedesaan  jaranan tumbuh dan berkembang sebagai bagian penting dalam menciptakan harmoni dan sekalaigus membangun integritas sosial para pelaku pertunjukan jaranan.  

Berkembangnya media rekam memiliki dampak luar biasa bagi kebangkitan seni pertunjukan jaranan. Merebaknya house production dalam komersialisasi mereka merekam dan mengedarkan vcd jaranan dalam berbagai motif memiliki dampak promosi luar biasa bagi pertunjukan jaranan. Turonggo Safitri Putra pada masa tahuan 2000-an mengalami masa puncak tenar dan laris, efek teknologi bagi jaranan ini meningkatkan apresiasi masyarakat meningkatnya nilai komersial. Pertunjukan jarana biasanya hanya menerima job sekitar Rp 1.500.000,- meningkat significan sampai Rp 6.000.000,- dan secara terus meningkat. Hal ini berdampak pada kesenian jaranan yang lain sehingga timbul kompetisi pasar makin meningkat. Semakin banyak kelompok pertunjukan jaranan direkam oleh house production local yang kemudian vcd rekaman mereka laku keras di pasar. Penjualan vcd jaranan memberi dampak positif bagi promosi dan meningkatnya komersialisasi pertunjukan jaranan pada berbagai daerah.

Fenomena  tersebut memberikan rangsang kreatif bagi kelompok-kelompok pertunjukan jaranan pada berbagai wilayah budaya. Ribuan vcd beredar dipasaran menjadi penanda penting bangkitnya pertunjukan jaranan yang telah lama tertimbun oleh timbunan ruang, waktu, dan peradaban. Selama ini seni pertunjukan jaranan dipersepsikan sebagai kesenian rakyat yang terkungkung ketidakberdayaan dalam lingkungan kumuh dipinggiran kota, terisolasi dalam kosmologi desa tertinggal maupun wilayah keterasingan.

Situasi politik ekonomi pasca reformasi memberikan angin segar bagi tumbuhnya kreativitas. Kebijakan politik ekonomi yang mengoreintasikan ekonomi kreatif berbasis kerakyatan. Pertunjukan jaranan dimaknai sebagai asset ekonomi kerakyatan. Komodivikasi terhadap semua aspek kebudayaan dan potensi alam dimaknai sebagai komoditas. Popularitas jaranan makin menanjak yang kemudian diikuti oleh kelompok-kelompok pertunjukan jaranan diberbagai kota. Rogo Samboyo putra salah satu kelompok jaranan sekarang ini sedang naik daun, pada bulan-bulan musim hajat, bulan-bulan hari besar nasional tidak pernah libur. Kelompok ini berkeliling  menerima jobnya dengan penuh semangat. Kontrak pentasnya memiliki fenomena melebihi kelompok jaranan lainnya. Pertunjukan siang hari maupun malam hari selalu penuh dikunjungi penonton dari berbagai kota. Para pendhemen jaranan hampir selalu hadir menyaksikan pertunjukan Rogo Samboyo Putro.  

Perimbangan nilai ideologis menuju nilai ekonomi  

dampak dari kecanggihan highttech memberikan efek pengembangan nilai ekonomi bagi seni pertunjukan jaranan. Produksi jutaan keping vcd yang mulai merebak pada tahun 1990-an, perkembangan media social memberi dampak posistif bagi kebangkitan pertunjukan jaranan mulai dari turangga safitri putra, sampai yang terakhir Rogo Samboyo Putro memberikan dampak ekonomi yang luar biasa bagi kelompok-kelompok jaranan mauun lingkungan social pertujukannya. Ini menjadi awal kebangkitan pertunjukan rakyat pada umumnya, pertunjukan jaranan khususnya. Kesadaran memproduksi pertunjukan agar disukai masyarakat melahirkan kreativias penggarapan medium dan unsur-unsur pertunjukan secara maksimal, kelompok jaranan mengembankan menejemen pertunjukan secara generic relevan dengan lingkungan social budaya masing-masing. Dari berbagai kerja kreatif kelompok jaranan Nampak pada tatanan yang semakin apik “kedah sae ditonton” dari visual auditif, “kenging dipun raosaken”. Busana, peralatan pentas, para pemain muda  yang gagah dan cantik, iringan yang mengelora mengumandangkan gendhing jaranan, memberikan cita rasa baru yang disukai masyarakat.

Laris tanggapan, harga tanggapan semakin baik memenuhi harapan memberikan semangat bagi para pemain untuk meyakini dirinya sebagai penari “jaranan” yang professional, pembarong yang professional, panjak-panjak jaranan yang professional. Bayaran mereka sebagai seniman pertunjukan jaranan dapat dibanggakan, hal ini terkait dengan harga tanggapan kelompok jaranan mereka menerima job puluhan juta rupiah. Kelomok semakain punya banyak pendhemen yang akan selalu hadir pada setiap pertnjukan mereka. Popularitas, “laris” semakin banyak para pendhemen yang hadir memberikan dampak ekonomi pada lingkungan pertunjukan.

Pada lingkungan pertunjukan kelompok jaranan yang laris dan populertumbuh pasar malam yang ramai, basar dari warga setempat, dan yang paling menarik tumbuhnya komunitas pedagang kaki lima dan asongan yang selalu mengikuti  kemanapun kelompok jaranan Rogo Semboyo putro. Komunitas pedhemen, pedangan kaki lima dan asongan berkelompok pada media social kelompok wa dan face book melalui media social iinilah mereka berbagi informasi. Terjadi simbiosis mutualisma  yang direkatkan melalui media social, keuntungan komersial.

Dalam setiap pertunjukan kelompok jaranan selalu muncul simbiosis mutualisme antara lingkungan social,  komunitas pedangan kaki lima, bazar warga, parkir.  Perolehan bazar warga setempat, perolehan parker oleh warga setempat merupakan nilai “plus-plus” bagi lingkungan. Dampak pertunjukan kelompok jarana rogo semboyo putro terutama sekali dari pemasukan parker motor dan mobil sangat luar biasa. Parkir motor Rp 5000,-s/d Rp10,000,- ;parkir mobil antara Rp 10.000,- sampai Rp20.000,-.

Dampak kecanggihan teknologi, menumbuhkan proses kreatif yang membangkitkan pertnjukan jaranan untuk mengemas pertunjukannya sehingga layak rekam dan viral diberbagai media social, layak dipasarkan dalam rekam vcd  dipasaran. Hal tersebut menjadi media promosi yang sangat baik bagi hamper sebagian besar kelompok pertunjukan jaranan maupun kelompok pertunjukan rakyat yang lainnya. Media social face book, kelompok WA menjadi perekat yang  mengntegrasikan komunitas seni pertnjukan rakyat. Terdapat perimbangan antara nilai idelogi pertnjukan rakyat dan pengembangan nilai ekonomi yang sangat baik. Semoga selalu tumbuh kerja kreatif..terus menerus.

Seksi Dokumentasi Publikasi

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.