Menata dan Mengelola (Ulang) Ludruk

Oleh: Cak Edy Karya

Pada tanggal 28 Mei 2012, Ludruk Karya Budaya Mojokerto menggelar forum seminar ludruk bertema “Menyongsong Ludruk Masa Depan” dalam rangka merayakan ulang tahun yang ke-43.Sayaturut menjadi narasumber dalam forum tersebut bersama Pak Henricus Supriyanto dan Pak Tri Broto Wibisono. Beberapa hari sebelum peristiwa tersebut digelar, ada pertanyaan yang berlelayapan dalam kepala saya: “Ludruk iki enake diapakna?,” bunyinya. Jawaban atas pertanyaan saya tersebut lantas saya tuangkan dalam makalah saya yang berjudul “Ludruk Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan”[3] yang esensinya lebih saya tekankan pada keprihatinan saya terhadap kondisi ludruk yang dalam pembacaan saya waktu itu, mengalami stagnasi dan kualitas pertunjukannya mengalami penurunan yang drastis. Seiring bergulirnya waktu, penurunan kualitas tersebut lantas direspon dengan adanya kegiatan workshop yang materinya lebih ditekankan pada tema ‘ludruk garapan’. Sementara itu, bagi saya, upaya meningkatkan kualitas pertunjukan ludruk – terutama dari sisi ‘art’nya – tidak bisa dilepaskan dari urusan manajemen yang diterapkan oleh pimpinan ludruk terhadap ludruk yang dipimpinnya. Intinya, ada beragam faktor yang menjadikan sebuah kelompok ludruk menjadi terpuruk hingga akhirnya ambruk (baca: mati). Dan bagi saya, faktor utamanya adalah persoalan manajemen organisasi. Berkualitas seperti apa pun sumber daya manusia ludruknya, jika tidak ditopang dengan seorang pimpinan ludruk tidak memiliki pengetahuan tentang manajemen organisasi dan leadership yang mumpuni, maka ludruk yang dipimpinnya tidak akan bertahan lama.

_____________________________

[1]Makalah ringkas ini disampaikan dalam Workshop Ludruk yang diselenggarakan oleh UPT. Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, 23-24 September 2019. Dalam makalah ini saya hanya menuliskan hal seperlunya saja. Perluasan materi nantinya bisa melalui sesi dialog interaktif. Hal ini mengingat betapa kompleksnya urusan yang terkait dengan manajemen ludruk. [2] Bestir Ludruk Karya Budaya Mojokerto [3]Agar kegelisahan saya mengenai nasib ludruk yang tertuang dalam makalah tersebut juga bisa dibaca oleh publik, makalah saya tersebut saya kirimkan ke Jawa Pos Radar Mojokerto yang kemudian dimuat dalam rubrik Serambi Budaya, Minggu, 27 Mei 2012.

Menjadi pimpinan atau bestir ludruk(ada juga yang menyebutnya dengan “juragan ludruk”) bukanlah perkara mudah. Serupa nahkoda, seorang pimpinan ludruk dituntut punya kemampuan navigasi dan ‘membaca, pergerakan angin (baca: cuaca) agar kapal (baca: ludruk) yang dikemudikannya bisa menjadi adaptif terhadap setiap perubahan yang terjadi sewaktu-waktu. Oleh karena itu, seseorang yang harus berpikir berkali lipat sebelum menceburkan dirinya ke dalam dunia ludruk. Ada begitu banyak pelajaran yang bisa kita petik dari perjalanan ludruk dari masa ke masa terkait dengan betapa susah dan beratnya menjadi seorang pimpinan ludruk. Tidak hanya di dunia ludruk saja, ketoprak sekelas “Siswo Budoyo” asal Tulungagung yang dipimpin dan dikelola oleh Pak Siswondo dan sempat mencicipi masa kejayaan dalam jangka waktu yang lama, pada akhirnya perjalanannya terhenti dengan segala sebabnya. Dan, meskipun diwariskan kepada keturunannya, eksistensinya juga nyaris tidak terdengar. Jika kita menengok riwayat perjalanan ludruk, kita juga akan menjumpai kelompok-kelompok ludruk tobong yang pernah berjaya lalu ‘ambruk’ lantaran tidak mampu menjadi adaptif. Danboleh jadi, pimpinan ludruk beserta manusia ludruk lainnya, mengalami kegagapan dalam membaca tuntutan zaman. Saya sendiri merasakan dan mengalami betapa susah dan beratnya menata dan mengelola ludruk beserta sumber daya manusia yang berumah di dalamnya. Terlebih, saya mewarisi ludruk yang pernah dipimpin oleh bapak saya, Cak Bantu.Dalam proses perjalanannya, pada akhirnya saya menemukan sebuah formula yang dikemudian hari saya sebut sebagai “manajemen banci”[4.] Dan untuk manajemen sumber daya manusianya, saya menerapkan “manajemen kemanusiaan”. Tata kelola yang saya terapkan terhadap Ludruk Karya Budaya Mojokerto ini merupakan hasil perpaduan antara manajemen organisasi dan manajemen njuragan. Secara pribadi, saya juga banyak belajar dari bapak saya dan sesepuh-sesepuh yang pernah turut menghidupi Ludruk Karya Budaya Mojokerto. Di samping itu, tentu saja saya juga mengembangkan pengetahuan saya ihwal manajemen melalui ‘pintu yang lain’. Pada akhirnya, saya juga mengawin-silangkan tata kelola ludruk era bapak saya dengan hasil pengetahuan tata kelola yang bersumber dari pengalaman empiris saya. Mengambil nilai-nilai yang baru, tanpa meninggal-tanggalkan nilai-nilai yang lama, istilah lainnya. Ikhtiar yang saya lakukan, tentu saja dalam proses penerapannya pernah menimbulkan gesekan-gesekan. Bagi saya, itu sebuah kewajaran dan sebuah fase yang memang harus saya lakoni dengan penuh kesadaran. Bukankah dalam setiap pilihan senantiasa dibarengi dengan adanya sebuah konsekuensi logis? Nah, pertanyaan yang muncul kemudian, apakah mereka yang telah mendaku sebagai pimpinan ludruk ini sadar akan konsekuensi logis tersebut?

________________________________

[4]  Ihwal “manajemen banci” ini juga bisa dibaca dalam buku saya yang berjudul “Ludruk Karya Budaya Mbeber Urip”.

Jika pertanyaan di atas kita tarik ke dalam peta dan data ihwal ‘kondisi ludruk yang saat ini’, maka kita akan menemukan beragam jawaban yang kesemuanya itu bisa dikembalikan ke bagaimana cara masing-masing pimpinan ludruk menata dan mengelola ludruk dan sumber daya manusianya (paparan lebih lanjut, nanti saya lisankan saja). Terkait dengan Ludruk Karya Budaya Mojokerto sendiri, dan demi memenuhi kebutuhan, sekali lagi: kebutuhan, maka saya pada akhirnya membentuk yang namanya tim kreatif serta beberapa program lain yang juga terkait dengan ludruk. Untuk melengkapi makalah saya ini, berikut ini saya kemukakan ulang bahasan yang erat kaitannya dengan (manajemen) ludruk.

Ihwal Ludruk Masa Lalu, Masa Kini Dan Masa Depan

Ludruk merupakan kesenian khas Jawa Timur, karena ludruk sebagai teater tradisional hadir di tengah-tengah masyarakat yang memiliki budaya tertentu, yakni budaya daerah yang dibina oleh suatu tradisi. Sehingga ludruk sebagai kesenian khas Jawa Timur, hidup dan berakar dalam masyarakat Jawa timur yang memiliki ciri-ciri kedaerahan dan ketradisionalan. Bertolak dari hal tersebut di atas ludruk sebagai teater masyarakat ditinjau dari kedudukan sosialnya adalah suatu kegiatan yang didukung oleh masyarakat di daerahnya sehingga kebanyakan  anggota masyarakat di Jawa Timur merasa bertanggung jawab terhadap kehidupan ludruk (melu andarbeni). Dengan demikian kesenian ini benar-benar  sudah mengakar di hati masyarakat Jawa Timur.

Rupanya kondisi ludruk saat ini lambat laun mulai mengalami kemunduran, bahkan stagnan, dengan berbagai kendala. Salah satu faktornya adalah semakin maraknya televisi swasta di tanah air yang menawarkan berbagai alternatif hiburan. Hal ini lambat laun membuat kesenian ludruk semakin terdesak jauh ke pelosok desa. Karena dari hari ke hari ludruk semakin tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat kota maupun pinggiran. Melihat fenomena tersebut saya tergerak untuk menyampaikan pemikiran tentang ludruk masa lalu, masa kini dan masa depan. Mudah-mudahan bisa menggugah hati para seniman ludruk maupun pengelola ludruk dengan harapan ludruk bisa bangkit lagi di masa mendatang.

Ludruk Masa Lalu

Ludruk masa lalu bisa dikelompokkan dalam 3 (tiga) kategori.Pertama, Ludruk masa penjajahan. Pada masa penjajahan, kehadiran ludruk memiliki peran yang vital dalam rangka penanaman jiwa (baca: semangat) nasionalisme demi meraih kemerdekaan bangsa. Semangat tersebut tercermin dalam kidungan yang dipekikkan oleh Cak Durasim saat ngludruk :Pagupon omahe dara… Melok Nippon tambah sengsara. Kidungan lain yang semakna dengan itu, semisal, Jemuwah legi nang pasar gentheng// Tuku semanggi nang Wonokromo// Merah putih kepala banteng// Iku genderane dokter Soetomo, dan Kembang melati arum gandane// Awar-awar godhonge ombo// Merah putih iku genderane// Adhedasar Pancasila.

Kedua, ludruk masa Orde Lama.Pada masa orde lama (Orla) kebanyakan ludruk dibina oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Saat itu ludruk benar-benar mendapat tempat di hati masyarakat karena dalam pementasan ludruk selalu menyuguhkan kritik-kritik segar pada kebijakan-kebijakan penguasa yang tidak pro rakyat. Melalui kritik-kritik yang disuarakan dalam pertunjukan ludruk tersebut, masyarakat terpuaskan dan merasa terwakili karena uneg-unegnya telah tersampaikan.Dan, ketiga adalah ludruk masa Orde Baru (Orba).Pada awal masa Orde Baru, penguasa sangat khawatir terhadap pertunjukan ludruk, karena sering melontarkan kritik.Maka dari itu, akhirnya semua ludruk dibubarkan karena dianggap Lekra. Dengan kecerdikan penguasa Orde Baru, pada tahun 1967 kesenian ludruk dihidupkan kembali dengan dibina langsung oleh kesatuan-kesatuan ABRI (Gema Tri Brata Brimob Surabaya, Teratai Jaya Brimob Porong, Wijaya Kusuma Rampal Malang, Putra Bhirawa Kodim Jombang, Trisula Dharma Kopasgat Madiun dll). Kesenian ludruk saat itu benar-benar dimanfaatkan menjadi corong Pemerintah Orde Baru.Pentas ludruk diisi propaganda-propaganda dan promosi program-program pemerintah (Bimas, Repelita, KB, dll).Hal ini mengakibatkan antusias masyarakat terhadap kesenian ludruk mulai sedikit ada penurunan.Pentas ludruk dirasakan tidak lagi menyuarakan hati nurani rakyat, tidak lagi membela rakyat dan tidak lagi ada kritik tajam dan berani.Pentas lawak ludruk nyaris persis dengan ceramah/ pidato juru penerang (Jupen).Dengan demikian, nilai seni dalam pertunjukan ludruk dirasa mengalami kemerosotan, walau frekuensi pertunjukan ludruk masih padat dan mendapat tempat di masyarakat.

Ludruk Masa Kini

Pada sekarang nampak jelas penurunan baik segi kualitas maupun kuantitas pertunjukan, dibanding pada masa sebelumnya (Orla maupun Orba).Pada masa lalu, meskipun dalam ludruk tidak pernah ada workshop atau diklat, seniman ludruk masih sangat disiplin mengikuti kebiasaan seniornya, yakni Nyebeng, Tedean dan Sepelan.Tiga hal inilah yang mampu mendongkrak kualitas keaktoran seniman ludruk.

Karena tiga hal tersebut dilakukan mandiri (individual), sehingga peningkatan kualitas keaktoran seniman ludruk kemajuannya menjadi tidak merata.Semua tergantung pada niat/ kegetolan pemain dalam melakukan tiga hal tersebut.Dengan demikian, muncullah figur publik/ pemain bintang yang jumlahnya tidak terlalu banyak.Aktor-aktor tersebut yang menjadi tumpuhan andalan di masing-masing kelompok paguyuban ludruk. Apabila salah satu pemain bintang meninggalkan kelompoknya entah meninggal dunia atau berpindah mengikuti kelompok lain, maka kelompok tersebut akan mencari ganti, karena kalau tidak mendapat ganti kelompok tersebut akan collapse alias ditinggal penggemar, penonton dan akhirnya bubar. Untuk menghindari hal tersebut tidak jarang di antara kelompok-kelompok ludruk saling jambret pemain bintang.Dampak ini juga banyak memengaruhi dan membuat banyak aktor yang dikatakan bintang sering membuat ulah, jual mahal dan seenaknya sendiri, karena merasa dirinya dibutuhkan.Hal ini yang membuat kehidupan kelompok-kelompok ludruk pada masa sekarang tidak kondusif dan mengalami kemerosotan tajam jika dibandingkan saat zaman Orla maupun Orba.

Saat ini jumlah pemain ludruk yang mumpuni jumlahnya minim sekali, dikarenakan selain tidak pernah ada workshop atau diklat, juga hampir tidak ada seniman ludruk yang disiplin dengan tiga hal yang penulis sampaikan di atas, yaitu Nyebeng, Tedean dan Spelan.Orientasi aktor ludruk sekarang bergeser jauh, niat bekerja lebih dominan dari pada niat berkesenian. Orientasi ini tersirat dalam kidungan: Gerdu papak Parimana, nabuh bedhug ndhuk jero bale… Mbok bapak  idenana, aku ngludruk niat nyambut gawe. Apakah tidak sebaiknya jika teks kidungan di atas dirubah dengan: Gerdu papak Parimana, nabuh bedhug ndhuk pinggir kali… Mbok bapak idenana, aku ngludruk niat uri-uri seni tradisi.

Kalau boleh, penulis hendak mengatakan jika kesenian ludruk masa kini banyak kehilangan arah, bahkan kehilangan jati diri (identitas).Tontonan ludruk terlihat mengambang dan tidak jelas. Dengan mengatasnamakan “inovasi”, pentas ludruk saat ini banyak dikolaborasi dengan bentuk lain yang tidak senafas dengan pakem yang sudah ditanamkan para pendahulunya (Remo, Kidungan, dan iramanya Jula-juli). Yang lebih memprihatinkan adanya kesenian ludruk yang dipadukan dengan tari ular yang diiringi musik dan joget India.Ada pula yang digabung dengan musik dangdut. Jika hal ini merupakan bentuk kreatifitas, maka  upaya ini telah melenceng jauh dan lebih berkesan hanya sekadar ingin laku/ laris dengan menghalalkan segala cara yang muaranya hanya demi kepentingan rupiah semata.

Ludruk Masa Depan

Berpijak pada uraian di atas, penulis punya pemikiran agar bisa keluar dari belenggu yang selama ini melilit kita.Konsep ludruk yang mengandalkan pemain bintang/ figur publik sudah waktunya beralih menjadi paguyuban ludruk seutuhnya yang berorientasi pada kebersamaan kelompok (kerja kolektif).Hal tersebut memang tidak mudah kita lakukan, apalagi mengingat telah mengakarnya kebiasaan menggantungkan tersebut dalam diri pemain ludruk. Namun sedikit demi sedikit kalau mau melakukan dengan serius dan sungguh-sungguh, penulis yakin akan kebiasaan njagakno tersebut akan berkurang dan akhirnya hilang.

Adapun beberapa konsep ludruk masa depan yang hendak penulis tawarkan, yakni :

Kesatu.Kegiatan nyebeng (melihat seniornya pentas ), sepelan (semayan dengan patner setiap adegan), dan tedean (kewajiban yunior minta petunjuk senior atau kewajiban senior membimbing yunior) tetap wajib dilakukan seperti pendahulunya. Karena hal tersebut saat ini hampir pasti tidak pernah dilakukan.Karena sekarang sudah tidak adanya tobongan ludruk, maka kesempatan untuk melakukan hal tersebut sulit sekali. Menyempitnya kesempatan melakukan tiga hal tersebut akanmenghambat munculnya pemain bintang, saat ini hampir-hampir sudah tidak adanya pemain bintang. Kalau hal ini dipertahankan, apalagi dibiarkan terus dan ludruk tidak beregera merubahnya dengan latihan rutin, saya percaya kesenian ludruk akan punah.

Kedua.Kalau dahulu dan sekarang hampir-hampir tidak kenal latihan atau workshop pada kelompok ludruk, sudah saatnya kelompok ludruk mengadakan latihan dengan kontinyu seperti yang telah diterapkan oleh kelompok/ sanggar kesenian yang lainnya (tari, teater, musik, dll). Penerapan latihan rutin ini akan menciptakan kekompakan, kebersamaan selain peningkatan kualitas individu yang lebih merata. Sebagai contoh; dahulu dan sekarang kita memiliki penari remo handal, kalau dia tidak hadir dalam pertunjukan penonton/ penggemarnya menggerutu dan marah. Untuk mengubah kebiasaan tersebut perlu diadakan latihan rutin, sehingga  kita bisa menampilkan penari remo yang sifatnya kelompok lebih dari 4 orang dengan dilatih komposisi yang bagus, pola lantai yang dikemas dengan bagus, maka yang nampak adalah kelompok, bukan lagi masing-masing personal.

Di dalam penampilan lawak maupun lakon perlu diberikan pembekalan yang dalam, luas dan terkini dalam bentuk latihan, bahkan bila perlu dibentuk khusus tim kreatif untuk menyusun materi bahkan mencari materi. Penampilan tidak hanya berharap pada kelebihan pemain bintang/ ikon (beberapa orang saja yang menonjol), namun kita lebih mengedepankan pada materi lawakan dan lakon yang diusung sehingga keindahan dan kelucuan muncul dari kekompakan (team work).Bila perlu setiap pementasan, walau tidak ada naskah dialog seperti teater modern, wajib dibuat naskah sederhana yang mudah difahami seniman ludruk.

Upaya di atas untuk mencegah adanya siasat memperpanjang durasi yang kerap diisi dengan dangdutan atau tari ular.Akan lebih gayeng dan indah bila diisi dengan tari klasik/ kreasi yang sesuai dengan nuansa jawa timuran/ ludruk.Sehingga kreatifitas yang tercipta tidak ditanggapi secara nyinyir oleh para seniman tradisi lainnya.

Ketiga.Untuk bisa memenuhi beberapa konsep tersebut di atas agar kelompok ludruk tidak ambruk, maka dibutuhkan orang-orang kreatif (kreator) di dalamnya (kalau kita menyadari selama ini di dalam kelompok ludruk minim sekali tenaga kreatif), bila perlu merekrut dari luar kelompok bahkan mungkin dari kalangan akademisi.Hal inilah yang selama ini belum dilakukan oleh sebuah kelompok/ paguyuban ludruk. Demi mewujudnya kaidah seni pertunjukan yang bagus, akan lebih baik jika setiap kelompok memiliki minimal tiga tenaga kreatif, masing-masing dalam bidang tari, musik gamelan/ karawitan, dan teater. Hal ini dikarenakan pertunjukan ludruk erat sekali hubungannya dengan tiga bidang tersebut.

Keempat.Dengan pesatnya perkembangan teknologi, agar kesenian ludruk tidak semakin terpuruk alangkah baiknya informasi-informasi tentang keberadaan, perkembangan dan aktifitas kesenian ludruk masing-masing kelompok bisa terpublikasikan melalui sistem IT yang ada saat ini, minimal ludruk memiliki e-mail. Hal ini untuk memudahkan pihak lainmendapatkan informasi-informasi penting dari masing-masing kelompok ludruk. Pengalaman ludruk Karya Budaya mendapatkan penghargaan dari Aburizal Bakrie, di mana Lingkaran Survey Indonesia (LSI) mendapatkan data Karya Budaya yang bersumber dari Internet (Geogle) saja, yang selanjutnya ditindaklanjuti dengan mendatangi secara langsung markas ludruk Karya Budaya.

Kelima.Teknik artistik panggung ludruk selama ini sangat tertinggal oleh kelompok selain ludruk.Kita sebagai seniman ludruk tentu harus segera berbenah, mulai dari teknik lampu, LCD, kekuatan Sound system, bentuk panggung, kostum dan lain-lain.Wilayah-wilayah tersebut penting dan harus ditata-benahi, karena selama ini hal-hal tersebut masih disepelekan oleh beberapa kelompok ludruk.

Keenam.Segi management perlu ditata.Walaupun rata-rata kelompok ludruk memakai sistem juragan, para juragan seharusnya tidak hanya sekadar berfikir mencari uang saja. Paling tidak, juga berfikir untuk berkesenian yang baik selalu muncul di benaknya, karena selama ini persaingan yang tajam pada masing-masing kelompok ludruk hanya bagaimana bisa memperoleh tanggapan yang sebanyak-banyaknya dengan cara apapun, dan cenderung mengarah pada persaingan yang tidak sehat (saling menjatuhkan, provokasi, bahkan permainan paranormal). Alangkah indahnya dunia ini kalau berkompetisi dalam berkesenian yang benar-benar menjunjung tinggi nilai-nilai berkesenian (bukan sekadar mencari uang), walau ujung-ujungnya ke sana. Namun kalau kita mendahulukan art-nya, ini akan lebih indah. Setiap kelompok/ paguyuban tidak selalu membagi habis hasil pertunjukannya. Perlu diupayakan menyisihkan beberapa prosen pendapatan sebagai cadangan perbaikan sarana prasarananya, kesejahteraan anggotanya, kepentingan IT-nya, kebutuhan latihan/ diklat, serta untuk membayar tim kreatif dan lain-lain. Falsafah Jer basuki mawa bea memang sangat penting sebagai modal kekuatan, kelestarian suatu kelompok/ paguyuban. Hal tersebut sebenarnya tidak sulit untuk dilakukan.Silahkan dimulai/ dicoba.

________________________

Eko Edy Susanto (Cak Edy Karya), pimpinan Ludruk Karya Budaya Mojokerto. HP : 08123189347 E-mail: cakedikarya@yahoo.com; cakedikarya@gmail.com. Sekretariat: Jl. Suromulang Barat 11/5, Kel. Surodinawan, Kec. Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Alamat Pondok : Pondok Jula Juli “Karya Budaya”, Dsn. Sukodono, RT. 02/ RW. 01, Ds. Canggu, Kec. Jetis, Kab. Mojokerto.




Sanjoto Prijo Djatmiko

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.