Tubuh-tubuh Spriritual : Pameran Lukisan Tunggal Welldo Wnophringgo
Seorang pelukis spiritualis tidak melukis dengan mata, tetapi dengan jiwa. Baginya, kanvas bukan sekadar tempat menumpuk warna, melainkan ruang sunyi tempat ruh dan materi bertemu. Kuasnya bergerak lambat, penuh penghayatan. Setiap goresan adalah doa, setiap sapuan adalah meditasi.

Pelukis spiritualis tidak peduli pada bentuk yang sempurna atau perspektif yang benar. Ia hanya rindu menangkap getaran yang tak kasat mata, cahaya dari dalam, hening yang berbicara, atau kehadiran Kebenaran yang menyelinap di sela-sela realitas.
Karya-karyanya sering terasa abstrak, mengambang, seperti mimpi yang diingat di pagi hari. Ada ruang kosong yang sengaja dibiarkan, sebab dalam kekosongan itulah para penikmat diajak berjumpa dengan dirinya sendiri.
Hal itu diakukan pula oleh Welldo Wnophringgo, salah seorang pelukis spiritualis Surabaya yang lama berkecimpung dengan lukisan-lukisan spiritual yang bagi kalangan apresiator mungkin agak kesulitan memahami karya-karyanya.
Karya-karya Weldo banyak mengeksplorasi relasi tubuh manusia dengan dimensi spiritual dan semesta. Dalam karya-karyanya, Welldo memandang penciptaan seni sebagai manifestasi keseimbangan antara alam kecil (diri manusia) dan alam besar (semesta). Figur-figur manusia dalam lukisannya tidak sekadar hadir sebagai representasi visual, tetapi menjadi medium untuk membaca mekanisme kehidupan yang penuh keteraturan sekaligus kejutan.

Menurut Kurator Agus Koecink (dosen senirupa STKW Surabaya), saat menatap karya-karya Welldo, tidak hanya melihat sosok manusia, tetapi juga mekanisme alam yang bekerja, penuh nyawa dan dinamika.
Welldo Wnophringgo lahir di Jakarta, 11 September 1965. Lebih dari 18 tahun menetap di Bali, di kawasan Kuta. Meski penampilannya sangar, Welldo termasuk lelaki yang pendiam. Selain sebagai pelukis, Welldo juga dikenal sebagai guru spiritual yang memimpin paguyuban “Tandava Nrtya” dengan pengikut yang berasal dari berbagai negara. Bahkan dia sering diundang dan terlibat aktif dalam acara-acara yang digelar oleh perkumpulan paranormal. Dia juga menekuni meditasi dan yoga. Bahkan dia pernah meditasi selama 99 hari guna menggali jati diri dan merenungi misteri kehidupannya. Pengalamannya itu banyak membuahkan perenungan spiritual.
Perenungannya tentang seni dan penjelajahan spiritualnya sering diungkapkannya lewat catatan-catatan hariannya. Dia banyak menulis untaian-untaian permenungan perihal kehidupan, kematian, cinta kosmis, pencarian jati diri, pendakian spiritualitas. Selain itu dia juga rajin menulis puisi yang kini ratusan jumlahnya. Semuanya itu dibendel dan dijilid sederhana. Dia termasuk perupa yang sadar akan arti penting dokumentasi karya. Semua karyanya terdokumentasi dengan baik, seperti ratusan sketsa, lukisan kanvas, catatan harian tulisan tangan, foto-foto, kliping, dan sebagainya.
Menurut Welldo Seni hanyalah sekadar medium, sebagaimana bahasa. Seni adalah suatu bahasa tanpa kata-kata. Sebagaimana jembatan yang mengupayakan penyatuan, sehingga lenyaplah keterpisahan jarak dan pikiran yang menciptakan komunikasi. Welldo tidak pernah mengenyam pendidikan seni secara khusus. Bakat seninya telah tumbuh alamiah sejak dia masih kanak-kanak. Pada tahun 1978, dia bekerja sebagai illustrator di sebuah majalah ibu kota. Pernah juga bekerja di dunia film tahun 1979. Pernah jadi drummer sebuah grup musik beraliran keras. Hanya untuk mengikuti naluri mengembara dan berkesenian, tahun 1991 dia hijrah ke Bali. Menjadi pelukis merupakan dorongan naluri bawah sadarnya. Dia belajar melukis secara otodidak.

Lukisan-lukisannya lebih banyak mencerminkan pengembaraan pikiran, perasaan, dan permenungannya tentang kehidupan manusia. Welldo sering menganggap karya-karya seninya sebagai buku harian atau media penumpahan berbagai macam unek-unek yang mengusik pikiran dan perasaannya. Pada sejumlah lukisan awalnya nampak berbagai simbol dan ikon saling tumpang tindih, berpadu dengan aneka macam grafiti. Lukisan-lukisannya seakan menjadi proyeksi dari dunia batin yang sedang berkecamuk, tarik ulur antara kesakralan dan keprofanan.
Pada pameran yang diselenggarakan di Galeri Prabangkara UPT Taman Budaya ini, Welldo memamerkan kurang lebih 28 karya seni rupa. Pameran berangsung mulai 15 – 21 April 2026. Pameran ini telah dpersiapkan selama tiga bulan. Awalnya terdapat sekitar 40 karya Welldo yang akan dipamerkan. Namun karena keterbatasan ruang Galeri Prabangkara, jumlah tersebut tidak bisa semua dipamerkan. Sehingga hanya 28 karya yang bisa dipamerkan kepada masyarakat. (pr)
