Workshop Pendokumentasian Warisan Budaya Seni Tradisi: “Merekam Warisan Budaya Melalui Lensa Perancangan Naskah Dokumenter”
Di era disrupsi digital dan derasnya arus informasi global, tugas Aparatur Sipil Negara (ASN) di bidang kebudayaan tidak lagi cukup hanya sebagai administrator atau pengawas pelestarian fisik. Tuntutan zaman mengharuskan ASN bertransformasi menjadi jembatan narasi antara warisan leluhur dan generasi masa depan.

Sayangnya, masih banyak pegawai di bidang kebudayaan yang mengalami “krisis dokumentasi”. Data tersimpan dalam laporan tebal, foto-foto usang, atau sekadar arsip tekstual yang sulit dicerna publik. Padahal, di tengah gempuran konten visual, dokumenter hadir sebagai medium pelestarian yang paling efektif dan emosional. Untuk menjawab tantangan ini, workshop pembuatan film dokumenter seni budaya bagi ASN bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan sebuah kebutuhan strategis.
Generasi muda saat ini adalah visual learner. Mereka lebih mudah terhubung dengan budaya melalui YouTube, TikTok, atau Netflix daripada membaca jurnal atau brosur budaya pariwisata. Workshop dokumenter membekali ASN dengan kemampuan menerjemahkan data-data kebudayaan (yang seringkali kaku) menjadi cerita visual yang hidup. Ketika seorang ASN bisa membuat film tentang filosofi Batik Mega Mendung atau prosesi ritual adat yang hampir punah, ia tidak hanya mendokumentasikan, tetapi menyelamatkan budaya tersebut dari kepunahan epistemologis.

Guna menjawab tantangan pelestarian warisan budaya tak benda di era modern, Taman Budaya Jawa Timur menyelenggarakan sebuah workshop intensif bertajuk “Merekam Warisan Budaya Melalui Lensa Perancangan Naskah Dokumenter” yang dilaksanakan di lobi depan Gedung Kesenian Cak Durasim pada 10 – 11 Februari 2026.
Workshop ini dilaksanakan bertujuan untuk membekali para peserta dengan keterampilan teknis dan konseptual dalam mendokumentasikan seni tradisi dan warisan budaya, bukan hanya sebagai rekaman statis, tetapi sebagai cerita visual yang hidup, bernafas dan mampu menyentuh berbagai kalangan. Pendekatan melalui naskah dokumenter dipilih sebagai fondasi agar proses dokumentasi memiliki kedalaman narasi dan pesan yang kuat.

Sasaran peserta yang ikut serta pada workshop ini adalah para ASN yang bekerja di bidang dokumentasi khususnya yang bekerja pada bidang yang yang menangani persoalan kebudayaan di Kabupaten Kota yang ada di daerah mereka masing-masing. Para peserta diajak untuk memanfaatkan media visual sebagai alat preservasi yang efektif. Dengan dokumentasi yang baik, warisan seni tradisi dapat lebih mudah diakses, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Workshop ini menghadirkan tiga praktisi profesional di bidangnya sebagai pembicara kunci, diantaranya adalah:
1. Eric Ireng (Photojournalist): Jurnalis foto ternama yang karyanya banyak mengangkat kehidupan sosial-budaya Indonesia. Eric akan membagikan ilmu tentang “Merekam Warisan Budaya dari Sudut Pandang Foto Jurnalistik”. Tema ini lebih menekankan pada kepekaan visual dan etika dalam merekam momen budaya.
2. Antok Agusta (Film Maker): Sineas dengan segudang pengalaman membuat film dokumenter bertema budaya dan human interest. Materi yang akan disampaikan berjudul “Film Dokumenter, Sebuah Karya Audio Visual yang Kontekstual”. Tema ini akan membahas tahap konseptual hingga persiapan produksi.
3. Violano Tenori (Sutradara Film): Sutradara yang dikenal dengan karya-karya sinematik dan naratif yang kuat. Violano akan mengupas “1. Evolusi Peran Sang Editor 2. Menyutradarai Realita: Spektrum Sang Penutur Kisah”, isi tema ini lebih kepada membimbing peserta mengubah data budaya menjadi narasi yang menarik.

Bertindak selaku moderator Sudibyo Eddy Setiyono. Selama dua hari, peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga mendapatkan materi:
– Kelas interaktif dan studi kasus dokumentasi budaya.
– Brainstorming dan pengembangan ide naskah dokumenter singkat.
– Simulasi perencanaan produksi dokumenter.
– Networking session dengan sesama peserta dan narasumber.
Workshop ini diselenggarakan sebagai bentuk kontribusi nyata dalam upaya pelestarian kekayaan budaya Jawa Timur dan Indonesia pada umumnya, dengan harapan akan lahir lebih banyak dokumentator budaya baru yang kompeten dan inspiratif. Diikuti oleh 50 peserta yang datang dari Kabupaten Kota di Jawa Timur dengan latar belakang ASN yang menangani bidang dokumentasi kebudayaan di daerah masing-masing. Kegiatan ini diselenggarakan oleh UPT. Taman Budaya Provinsi Jawa Timur yang didukung penuh oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur selaku OPD yang menjadi induk dalam struktur birokrasi di Pemprov Jatim.

Dari program kegiatan Workshop ini para peserta diharapkan bisa membangun civitizen curator di daerahnya masing-masing. Mereka tidak sekedar mendokumentasikan obyek kebudayaan, tetapi mampu membuat narasi kontekstual yang berbasis riset namun dikemas secara sinematik. Workshop ini mengubah paradigma ASN dari sekadar “penjaga” menjadi “pendongeng”*. Dengan keterampilan ini, setiap peristiwa budaya atau kegiatan seni tidak lagi berlalu tanpa jejak, melainkan menjelma menjadi arsip bergerak yang dapat diputar ulang puluhan tahun mendatang.
ASN yang piawai membuat dokumenter dapat menjadi “duta visual” bagi daerahnya. Alih-alih menunggu kru televisi nasional datang, ASN bisa memproduksi sendiri potensi budayanya dan mengunggahnya ke kanal resmi pemerintah. Ini sejalan dengan semangat transformasi digital dan satu data Indonesia, di mana arsip film menjadi bukti autentik kekayaan budaya yang terkelola dengan baik.

Ancaman klaim budaya oleh negara lain sering terjadi karena minimnya bukti otentik yang dipublikasikan secara luas. Film dokumenter yang diproduksi secara resmi oleh ASN memiliki kekuatan legal dan naratif. Workshop ini diharapkan mampu memberikan pengajaran aspek legalitas produksi, etika pengambilan gambar di ruang sakral, hingga tata cara pelabelan arsip yang baik. Dengan begitu, dokumentasi yang dihasilkan tidak hanya indah secara artistik, tetapi juga sah secara hukum dan administratif. (sn)
