“Alaras Terang”, Pameran Seni Rupa Mahasiswa Universitas Adi Buana
Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur, menjadi saksi perbincangan sunyi antara warna, bentuk, dan cahaya dalam pameran seni rupa bertajuk “Alaras Terang”. Pameran ini merupakan hasil kerja sama antara mahasiswa Jurusan Seni Rupa Universitas Adi Buana (Unipa) dengan Taman Budaya Jawa Timur, berlangsung selama delapan hari, mulai 3 hingga 10 Juni 2026.

Kata “Alaras” sendiri diambil dari akar bahasa Jawa yang bermakna selaras, serasi, atau harmonis. Digandengkan dengan “Terang”, tema ini menjadi semacam manifesto atau sebuah upaya untuk menciptakan keselarasan yang benderang, baik dalam tata artistik, gagasan, maupun relasi antara seniman muda dan publiknya. Bagi para mahasiswa yang terlibat, pameran ini bukan sekadar ajang unjuk karya, melainkan juga ruang untuk menyelami bagaimana “cahaya” hadir dalam berbagai wujud: sebagai elemen visual, simbol pencerahan, hingga metafora harapan di tengah zaman yang kerap remang.
Pameran bertajuk “Alaras Terang” ini diikuti oleh lima belas mahasiswa/mahasiswi dari berbagai angkatan di Jurusan Seni Rupa Unipa. Mereka menampilkan karya-karya dalam beragam medium lukisan, drawing, seni instalasi, seni grafis, hingga eksplorasi media campuran yang sebagian besar diciptakan khusus untuk pameran ini. “Kami ingin menunjukkan bahwa berkarya bukan sekadar menciptakan objek estetis, melainkan juga membangun keselarasan antara imajinasi, teknik, dan konteks sosial. Cahaya yang kami tampilkan adalah cahaya yang bergerak, tidak diam, dan selalu mencari keseimbangan baru,” ujarnya.
Pemilihan Galeri Prabangkara sebagai lokasi pameran memiliki makna tersendiri. Terletak di bawah naungan Taman Budaya Jawa Timur, galeri ini selama bertahun-tahun menjadi rumah bagi dialog seni rupa di Jawa Timur, menjembatani seniman akademik, otodidak, hingga komunitas. Dengan membawa mahasiswa ke ruang tersebut, pameran “Alaras Terang” mencoba mempertemukan energi eksperimental anak muda dengan atmosfer mapan yang dimiliki lembaga kebudayaan. Kolaborasi ini diharapkan membuka jalan baru bagi mahasiswa untuk menguji karya mereka di hadapan publik yang lebih luas, sekaligus memperkuat posisi kampus sebagai bagian dari ekosistem seni rupa regional.

Salah satu daya tarik pameran ini adalah bagaimana para peserta menginterpretasikan “terang” secara personal dan kontekstual. Ada yang merespons secara harfiah melalui eksplorasi sinar dan bayangan dalam lukisan, ada yang menggunakan material transparan dan reflektif untuk menciptakan pengalaman ruang yang imersif, dan ada pula yang mengangkat isu-isu sosial sebagai bentuk “penerangan” kesadaran. Pengunjung tidak hanya diajak melihat, tetapi juga merasakan bagaimana Cahaya entah datang dari alam, teknologi, atau batin manusia mampu menyusun kembali fragmen-fragmen realitas menjadi satu kesatuan yang selaras.
Pameran dibuka secara resmi pada 3 Juni 2026 pukul 16.00 WIB dengan agenda pembukaan, sambutan dari pihak kampus dan Taman Budaya, serta pertunjukan seni singkat dari mahasiswa. Selama masa pameran, pengunjung dapat hadir setiap hari pukul 10.00—20.00 WIB tanpa dikenakan biaya masuk. Tersedia pula program pendampingan berupa artist talk dan workshop terbuka pada akhir pekan, yang dirancang untuk mendekatkan pengunjung dengan proses kreatif di balik setiap karya. (sn)
