Pergelaran

Jeritan Bumi dari Ujung Timur Jawa: Sebuah Catatan untuk “Mangsa Iklim Mendidih”

Di tengah hiruk-pikuk wacana krisis iklim yang seringkali hanya menjadi jargon akademis atau berita utama yang cepat terlupakan, Studio Klampisan dari Banyuwangi hadir membawa kegelisahan itu ke atas panggung. Melalui karya terbaru mereka, “Mangsa Iklim Mendidih”, di bawah arahan sutradara Abi Muhammad Latif, kelompok teater ini tidak sekadar menyajikan tontonan, melainkan sebuah refleksi puitis yang mencekat.

Foto dok. TBJT

Sejak awal, panggung bukanlah sekadar ruang mati. Tata artistiknya yang minimalis namun sarat simbol langsung menarik penonton ke dalam dunia yang sedang sekarat. Bukan kemegahan yang ditampilkan, melainkan serpihan-serpihan, mungkin anyaman bambu yang reyot, kain lurik yang melambai lesu menyerupai tanah retak, dan permainan cahaya yang didominasi warna tembaga dan merah tua, seolah langit Banyuwangi benar-benar sedang mendidih. Di sinilah kecerdasan visual Abi Muhammad Latif dan tim terasa. Mereka tidak mencoba meniru bencana secara harfiah, melainkan menciptakan lanskap batin yang terbakar.

Para aktor Studio Klampisan tidak sekadar berakting, mereka meraga. Tubuh-tubuh mereka menjadi medium paling kuat untuk menyampaikan narasi “mendidih”. Gerak mereka adalah perpaduan antara tari tradisional Using yang patah-patah dan ekspresi tubuh kontemporer yang gelisah. Setiap hentakan kaki, setiap jemari yang gemetar, dan setiap punggung yang membungkuk seolah menanggung beban panas yang tak tertahankan. Teriakan mereka bukan hanya suara manusia, melainkan suara tanah kelahiran, suara hutan yang dibabat, dan suara laut yang tercemar. Ensemble ini bekerja dengan energi yang luar biasa, menciptakan ritme yang kadang mencekam, kadang meledak-ledak, persis seperti ketidakpastian iklim itu sendiri.

Foto dok. TBJT

Sutradara Abi Muhammad Latif tampaknya ingin menegaskan bahwa krisis iklim adalah wajah asli dari kolonialisme modern dan ketamakan. “Mangsa Iklim Mendidih” tidak memposisikan alam sebagai entitas yang marah tanpa sebab. Naskahnya dengan tajam menganyam kritik sosial, menyentil mereka yang lupa menjaga keseimbangan. Narasi yang diucapkan serta bahasa tubuh yang diperagakan oleh para aktornya seakan menjadi sebuah deklarasi identitas. Sebuah jeritan dari masyarakat agraris dan pesisir Banyuwangi yang paling rentan menjadi korban, yang kearifan lokalnya kerap diabaikan demi pembangunan yang katanya modern.

Namun, di balik segala kegelapan dan kemarahan, pertunjukan ini menyelipkan setitik asa yang tidak naif. Harapan itu hadir bukan dalam bentuk solusi instan, melainkan dalam gestur solidaritas antarmanusia di atas panggung. Ketika para aktor membaur dengan penonton di adegan awal, penonton baik yang di panggung maupun yang di kursi Gedunag Kesenan Cak Drasim diajak untuk mengingat bahwa kunci bertahan hidup adalah kebersamaan.

Foto dok. TBJT

Satu-satunya catatan mungkin terletak pada ritme di beberapa bagian tengah yang sedikit repetitif, di mana puncak emosi yang sudah tinggi dieksplorasi cukup lama hingga terasa sedikit menguras fokus. Meski demikian, ini adalah kelemahan minor yang tidak mengurangi kekuatan pesan secara keseluruhan.

“Mangsa Iklim Mendidih” bukanlah tontonan yang menghibur dalam arti konvensional. Tetapi sebuah pengingat yang menampar, sebuah puisi visual tentang luka bumi. Studio Klampisan dan Abi Muhammad Latif telah berhasil menerjemahkan isu global ke dalam bahasa seni yang sangat personal, lokal, dan mengena di hati. Mereka membuktikan bahwa dari sudut Banyuwangi, suara peringatan untuk bumi bisa terdengar begitu keras, begitu indah, dan begitu menyayat.

Pemberian piagam penghargaan oleh Kepala UPT. Taman Budaya Jatim Deddy Hariyono, S.E., kepada sutradara Abi Muhammad Latif, sebagai bentuk apresiasi atas pergelaran yang suskses terselenggara (Foto dok. TBJT)

Mangsa Iklim Mendidih adalah teater sensoris yang menerjemahkan data iklim, pengetahuan lokal petani, dan pengalaman agraris Banyuwangi ke dalam komposisi tubuh, bunyi, cahaya, tanah, serta proyeksi visual. Melalui perakitan unsur analog dan digital, karya ini mengundang penonton memasuki pengalaman tentang musim yang berubah, prediksi yang gagal, dan hubungan manusia dengan lanskap yang semakin tidak menentu. Sebuah perjalanan sensorik yang mempertemukan data, ingatan, dan spekulasi di tengah krisis iklim yang terus mendidih.

Teater Studio Klampisan Banyuwangi merupakan salah satu dari 6 grup teater yang lolos pada proses seleksi melalui “Menejemen Talenta Teater Jawa Timur 2026” yang diselenggarakan oleh UPT. Taman Budaya Jawa Timur pada bulan Mei 2026 lalu. Diperkuat oleh 20 orang personil yang rata-rata mash berusia muda. Mereka grup yang tampil pertama pada 20 Mei 2026,  sebagai grup yang lolos seleksi pada “Menejemen Talenta Teater Jawa Timur 2026.”. (sn)

Seksi Dokumentasi Publikasi

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses