Berita

Mamasura II : Distopia, Penyadaran Jatidiri Manusia Akibat Egoisme Berlebihan karena Pengaruh Informasi

Teater Lingkar, sebagai salah satu wadah berkesenian mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Alamamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS) pada rabu, 14 Agustus 2019 bertempat di gedung kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur menggelar sebuah pertunjukan teater dengan judul: Mamasura II Distopia, naskah ditulis oleh Maya Sofyan.

Mamasura Kota II : Distopia adalah sebuah karya teater yang lebih mengedepankan pada bahasa tubuh atau eksplorasi gerak atau dalam dunia teater lebih dikenal dengan nama teater minikata. Teater minikata merupakan seni pertunjukan teater yang sedikit sekali menggunakan dialog. Istilah itu dilontarkan oleh Gunawan Mohammad dalam menanggapi pementasan teater Rendra (1968), “Bip Bop” dan “Rambate-Rate Rata”. Pementasan drama yang dilakukan W.S. Rendra dengan “Bengkel Teater”-nya pada nomor pementasan “Bip Bop” dan Rambate-Rate Rata” itu sedikit sekali menggunakan kata. Pementasan itu lebih banyak mempergunakan gerak atau improvisasi yang dilakukan secara spontan. Pendapat Goenawan Mohamad itu disampaikan dalam sebuah esai yang berjudul “Mengapa Minikata?” (Kompas, 28 Juni 1969). Istilah itu kemudian dikemukakan pula oleh Goenawan Mohamad dalam makalahnya yang berjudul “Sebuah Pembelaan untuk Teater Indonesia Mutakhir” yang disampaikan pada acara diskusi sastra di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, 27 November 1973, dan kemudian dimuat dalam buku Seks, Sastra, Kita (1980).

Setelah kembali dari studinya di Amerika, pada tahun 1968, Rendra bersama kelompok Bengkel Teater mencipta suatu pertunjukan teater nonverbal dan nonlinear yang dikenal dengan nama minikata. Teater minikata mengubah bentuk pertunjukan teater Indonesia ke arah pembaruan. Peristiwa politik dan sosial yang terjadi di Indonesia memberi inspirasi kuat pada hadirnya minikata. Di Amerika pada tahun 1960-an juga terjadi bentuk estetis yang bergolak. Teater minikata maksi dalam kata tetapi maksi dalam makna. Sedikit ujaran dan kaya gerak tubuh ciptaan aktor yang memiliki makna berlapis-lapis. Suatu penyadaran akan keterbatasan dunia verbal, yaitu sebuah kehendak puisi untuk menghindarkan diri dari kecerewetan kata-kata, sedapat mungkin langsung menggambarkan suatu situasi.

Foto dok./TBJT.

Pada waktu itu pertama kali penonton menyaksikan teater modern tanpa naskah. Pemberontakan dan pembaruan Rendra melalui minikata drama relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia pada saat itu, yaitu pemberontakan terhadap nilai-nilai kehidupan yang dianggap mandeg dan pembatasan nilai-nilai sosial sebagai antisipasi terhadap kebobrokan sosial. Selain itu, gagasan urakan yang ditawarkannya menjadi bermakna di tengah tradisi Jawa yang hanya mementingkan tata krama dan sopan santun tanpa mengindahkan pemahaman didaktis dari penggemarnya. Teater minikata W.S. Rendra diawali dengan semacam keyakinan yang sama seperti yang dimiliki Ron Tavel, yaitu keyakinan kepada kemampuan faktor aktor di atas pentas. Aktor bukanlah mesin kata-kata, tetapi dia adalah artis. Di atas segalanya, aktor menjadi pusat perhatian dan tumpuan harapan seni pertunjukan. Teater yang kurang atau sedikit sekali didukung oleh bentuk plot kata-kata, tetapi dipenuhi oleh gerak, menjadikan unsur kata tidak mutlak ada dan posisi kata tidak dominan dalam sejarah sebuah pertunjukan teater. Teater minikata, dalam pelatihan, bukanlah murni kreativitas Rendra, tetapi hasil dari suatu forum bersama anggota Bengkel Teater mengembangkan ide. Sebelum minikata hadir, Teater Indonesia didominasi oleh bentuk pertunjukan teater realisme yang dibentuk oleh sekolah tinggi teknik, sekolah putri, sekolah seni drama di film, dan Fakultet Sastra, Pedagogi dan Filsafat UGM.

Berdasarkan pendapat Goenawan Mohamad itu apa yang dinamakan teater minikata hanya ada dalam dua pementasan teater Rendra, “Bib-bob” dan “Rambate-Rate Rata”. Pementasan teater lain tidak ada yang serupa dengan teater Rendra itu. Istilah minikata belum ada yang serupa dengan teater Rendra itu. Bahkan, yang menggunakan untuk bentuk pementasan yang lain pun belum ada. Istilah minikata bukan terjemahan dari istilah pantonim karena pantomim hanya menggunakan gerak-gerik yang diiringi dengan suara musik, tetapi tanpa menggunakan kata-kata. Istilah lain untuk minikata adalah teater murni (menurut Subagio Sastrowardojo), teater primitif (menurut Arifin C. Noer), dan teater puisi (menurut Dami N. Toda). Metode penciptaan minikata merupakan langkah-langkah mengenali potensi energi alam bagi pelatihan tubuh. Untuk itu, diperlukan pilihan tempat yang baik seperti di Parangtritis. Teknik minikata adalah “gerak indah”, bukan gerak tari, tetapi gerak tanpa struktur. Intinya berangkat dari spontanitas dan improvisasi dalam rangka menanggapi rangsangan dari luar kata-kata diungkapkan secara minim dan berfungsi mengekpresikan imaji.

Foto dok./TBJT.

Teater Lingkar melalui judul Mamasura Kota II : Distopia, mencoba mengungkap sebuah keegoisan manusia dalam sebuah Distopia (ruang imajiner) yang ada dalam pikiran manusia. Sebuah tempat yang bahkan tidak pernah diharapkan dalam kenyataan. Sebuah tempat yang penuh dengan Mamasura atau iblis penyebab keegoisan. Ada upaya oleh rasa ataupun logika manusia untuk tidak patuh pada ego. Namun Mamasura sudah tersebar masif, masuk hingga ke denyut-denyut nadi manusia dan tak tersadari sudah mempersilahkan ego untuk menjadi Tuhan. Arus informasi yang sedemikian kuatnya dalam kehidupan manusia begitu hebatnya menerjang segala bentuk aturan, norma, perilaku, hukum, agama dan apa saja yang membatasi ruang gerak perilaku manusia. Manusia sudah menjadikan egonya sebagai Tuhan ketika Mamasura sudah kuat mencengkeram ego manusia. Hanya dengan menutup semua indera pemberontakan ego mampu dicegah, atau kita akan tersiksa, atau mungkin kitalah Mamasura itu sendiri. Dengan bahasa tubuh sebagai terjemahan pada perang melawan sebuah ego, penonton diajak berdialog dengan dirinya sendiri melalui gambaran visual dalam sebuah pertunjukan di depan mata mereka. Butuh ketenangan dan kejernihan berfikir untuk mampu memahami sebuah pertunjukan yang memang tidak hanya logika yang mampu mencerna tapi rasa yang menterjemahkan dan menyelami makna sebenarnya.

  • Judul Naskah: Mamasura Kota II : Distopia
  • Pimpinan Produksi: Nanda Esa
  • Sutradara: Iqbal Jazuli
  • Penata Artistik: Achmad Prayoga, Karens Sabrina, Krisna Putraudi
  • Penata Lampu: Rakhmad Wahyudi
  • Penata Rias/Kostum: Nisfa Alfiya, Ayu Agustin
  • Penata Musik: Shayna Rosinta
  • Pemain: -Tokoh Rasa: Natasya Prada; Tokoh Logika: Rafil Naufal; Tokoh Ego: Safrial Anggra; Tokoh Khalayak/Perundung: Miftachus Syahril, Gerry Julian, Anisia Trilenia, Shofia Maidah, Nabila Alif
  • Dipentaskan oleh Grup Teater Lingkar Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS). (san)

Seksi Dokumentasi Publikasi

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.