Pameran Seni Rupa “Simulakra”, Menggugat Realitas di Era Digital
Ketika unggahan lebih dipercaya daripada kenyataan, ketika filter lebih jujur daripada wajah, dan ketika kebenaran hanyalah soal berapa banyak yang menekan tombol “like”, di situlah masyarakat memasuki era simulakra. Realitas tak lagi hadir sebagai acuan, melainkan sebagai salinan dari salinan yang justru kita rawat sebagai kebenaran baru.

Pameran “Simulakra” hadir untuk membongkar ilusi itu. Dua belas seniman rupa kontemporer menggali kegelisahan yang tumbuh di tengah hingar-bingar digital, identitas yang cair, fakta yang terdistorsi, tubuh yang dimediasi layar, hingga ingatan yang dikendalikan algoritma. Melalui lukisan, instalasi, seni media baru, dan karya partisipatif, pameran ini mengajak publik untuk tidak sekadar menonton, tetapi sungguh-sungguh mempertanyakan kembali realitas mana yang kita hidupi sekarang.
Pameran ini merupakan undangan untuk berhenti sejenak dari arus informasi, menatap karya, lalu menatap diri sendiri. Di dalam ruang Galeri Prabangkara, pengunjung akan berhadapan dengan cermin-cermin kritis yang memantulkan bukan sekadar rupa, melainkan juga hantu-hantu digital yang setiap hari kita peluk.

Kedua belas seniman yang berpameran mereka datang dari berbagai latar dan kota, menyatukan kegelisahan yang sama bahwa era digital telah melipatgandakan realitas ke dalam simulasi yang sulit dibedakan dari yang asli. Karya-karya mereka tidak memberi jawaban, tetapi membuka luka dan tanya. 12 seniman rupa tersebut diantaranya:
- Ady Idong
- Ahmad Zaeni
- Budiamin
- Esthi Hayati
- Feri Widyo
- Hary Eko
- Imam Su’udy
- Markus Karang Surojo
- Paul Hendro
- Saiful Yatim
- Sutrisno
- Yudi Hariyanto
Pameran diselenggarakan di Galeri Prabangkara Taman Budaya Jawa Timur pada 24 – 30 Juni 2026, mulai pukul 10.00 – 20.00 WIB. Pameran ini terselenggara atas Kerjasama UPT. Taman Budaya Jawa Timur dan Komunitas K5 Art Project. (sn)
