Pergelaran

Seni Wayang Topeng Malangan  Lakon “Candrasmara”, Upaya Pelestarian Warisan Budaya di Taman Budaya Jawa Timur

Wayang Topeng Malang bukan sekedar pertunjukan seni. Tapi artefak hidup peradapan Jawa Timur yang menyimpan filosofi, sejarah, dan identitas masyarakat Arek. Namun di era digital, regenerasi seniman tradisi terhambat, dan dokumentasi yang ada masih bersifat arsip statis, belum dikemas sebagai narasi visual yang hidup.

Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Galuh Candrakirana dua sejoli simbol percintaan abadi diringi para dayang
(Foto dok. TBJT)

Workshop yang diselenggarakan Taman Budaya Jawa Timur hadir untuk menjawab tantangan tersebut. Dengan menggabungkan riset etnografi dan teknik sinematografi dokumenter, peserta akan belajar bagaimana “membaca” Wayang Topeng Malang lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa film. Wayang Topeng Malang tidak boleh hanya menjadi tontonan wisata yang kehilangan ruh. Melalui workshop ini, kamera tidak hanya menjadi alat rekam, tetapi juga medium untuk membaca, menghayati, dan menghidupkan kembali filosofi di balik setiap gerak topeng.

Wayang Topeng Malangan, sebagai salah satu seni pertunjukan khas Kabupaten Malang yang sarat filosofi, kembali dihadirkan di Taman Budaya Provinsi Jawa Timur. Pagelaran ini tidak hanya sekadar sebagai materi obyek pengambilan gambar sebagai pembelajaran bagi peserta workshop tentang teknik pembuatan film dokumenter saja, tapi juga merupakan sebuah pertunjukan yang menghadirkan satu rangkaian cerita yang turut menghadirkan penonton untuk mengapresiasi pertunjukan tersebut. Tetapi merupakan upaya nyata untuk menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan relevan di tengah masyarakat, khususnya generasi muda. Pelaksanaan pergelaran dilaksanakan di Pendapa Jayengrana Taman Budaya jatim pada 10 Februari 2026 pukul 17.00 wib. sampai dengan selesai.

Dari kiri ke kanan, Kasie Penyajian Seni Budaya Retno Wijayanti, S.St.Par., M.M., Kepala Taman Budaya Jatim Deddy Hariyanto, SE., Kepala Bidang Kebudayaan Sadari, S.Sn. (mewakili Kadisbudpar), Suroso (tokoh seniman watang topeng Malangan),
Foto dok.TBJT

Lakon “Candrasmara” dipilih karena kisahnya yang universal tentang percintaan, pengorbanan, dan nilai-nilai kehidupan. Cerita ini mengisahkan tentang perjalanan cinta Raden Panji Asmoro Bangun (Inu Kertapati) dan Dewi Sekartaji (Galuh Candrakirana) dengan segala rintangan dan lika-likunya. Melalui tarian topeng yang penuh makna, gamelan yang mengalun dinamis, dan narasi yang dibawakan oleh dalang, nilai-nilai kesetiaan, keteguhan hati, dan kebijaksanaan akan disampaikan dengan apik.

Pagelaran ini menampilkan Grup Seni Tari dari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya. Kolaborasi antara seniman senior dan generasi penerus ini diharapkan dapat menampilkan pertunjukan yang autentik, dinamis, dan memukau. Mengapa pertunjukan ini penting untuk ditonton?:

1. Warisan Budaya Tak Benda: Menyaksikan langsung kekayaan tradisi yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.

2. Edukasi Budaya: Memperkenalkan cerita Panji, siklus epik asli Jawa Timur yang mendunia, kepada masyarakat luas.

3. Pertunjukan Berkualitas: Menampilkan karya terbaik dari para penari terbaik yang berdedikasi penuh.

4. Untuk Semua Kalangan: Cerita yang dibawakan universal dan disajikan dengan kemasan yang menarik, cocok untuk segala usia.

Salah satu adegan pada pergelaran wayang tpeng di Pendapa Jayengrana Taman Budaya Jatim (Foto dok. TBJT)

Dengan mengundang seluruh masyarakat Surabaya, Jawa Timur (terutama kalangan millenial), dan wisatawan untuk hadir dan menyaksikan keagungan seni tradisi ini diharapkan kesenian produk asli nenek moyang ini akan semakin digemari oleh masyarakat. Wayang Topeng Malang sendiri berdiri dengan seribu pesona. Di balik setiap gerak tari dan ukiran topeng, tersimpan filosofi dan kearifan lokal yang mengakar. Namun di era disruptif ini, seni tradisional menghadapi tantangan besar: bagaimana tetap relevan di tengah gempuran konten digital yang menawarkan hiburan instan?

Milenial, generasi yang lahir antara 1981-1996, bukanlah penonton yang apatis. Mereka hanya perlu dijemput dengan cara yang berbeda. Bukan dengan memaksa mereka duduk berjam-jam menyaksikan pertunjukan yang belum mereka pahami, melainkan dengan merancang pendekatan yang lebih manusiawi, kontekstual, dan tentu saja, kreatif. Wayang Topeng tidak harus tampil dalam format klasik yang sakral setiap saat. Eksperimentasi justru menjadi pintu masuk bagi apresiasi yang lebih dalam. Ciptakan kolaborasi dengan musisi elektronik menciptakan soundscape baru yang tetap menghormati pakem.

Cerita Panji yang menjadi repertoar utama Wayang Topeng Malang sesungguhnya kaya akan relevansi. Kisah Panji Asmoro Bangun yang mencari Dewi Sekartaji bisa dibaca sebagai pencarian jati diri, tema universal yang dekat dengan fase kehidupan milenial yang sedang membangun karier dan relasi. Taman Budaya Jatim berupaya menggaet mileniel tidak berhenti pada satu pertunjukan yang meriah.  

Para wisatawan asing sangat antusias mengapresiasi pertunjukan wayang topeng (Foto dok. TBJT)

Di tengah berbagai strategi adaptif ini, satu hal yang tidak boleh hilang: ruh Wayang Topeng itu sendiri. Gerakan tari tetap harus diajarkan oleh penari yang memahami pakem. Suara gamelan tetap harus bersumber dari instrumen asli, bukan sekadar rekaman. Topeng tetap harus diukir dengan pengetahuan tentang karakter tokoh.

Adaptasi bukan berarti vulgaritas. Menyederhanakan bahasa bukan berarti mengorbankan kedalaman. Milenial cerdas membedakan antara upaya tulus membumikan tradisi dan sekedar komodifikasi murahan. Wayang Topeng Malang memiliki peluang besar untuk tidak sekadar bertahan, tetapi hidup berdampingan secara setara dengan bentuk-bentuk hiburan modern. Kuncinya terletak pada kemauan untuk terus berdialog, membuka ruang kreatif, dan yang terpenting tidak pernah meremehkan kapasitas generasi muda untuk mengapresiasi keindahan. Karena pada akhirnya, seni sejati akan selalu menemukan jalannya sendiri menuju hati yang tepat, lintas generasi, lintas zaman. (sn)

Seksi Dokumentasi Publikasi

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses