Anak-anak Bermain Gamelan Mendapatkan Apa?

oleh: Dr. Suwarmin, M.Sn./Staff Pengajar Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya

Bila kita menonton pergelaran atau pementasan anak-anak bermain gamelan pada suatu acara dan mereka terampil trengginas, decak kagum dan pujian … huebat… masih anak-anak sudah terampil, selesai. Pernyataan tersebut karena anak-anak sering diasumsikan masih lemah, berpikir terbatas, belum bisa merasakan dan sebagainya. Sehingga bila melihat anak-anak sudah terampil bermain gamelan dianggap suatu hal yang luar biasa. Sudut pandang seperti itu akan berkesimpulan, o … o… kalau begitu gamelan bisa menumbuh kembangkan ketrampilan (skill) anak.

Kalau kesimpulannya itu, maka pertanyaan dalam judul diatas “anak-anak bermain gamelan dapat apa?”, sudah terjawab. Jawaban tersebut tentu tidak salah, karena memang pertanyaannya dapat apa?. Tetapi kalau pertannyaannya dapat apa (saja) dalam pengertian jamak, tentu masih ada jawaban-jawaban yang lain. Yang dimaksud dalam judul tersebut adalah makna yang kedua bersifat jamak. Singkatnya, anak-anak bermain gamelan dapat macam-macam apa saja, inilah yang akan dibahas sekilas dalam tulisan ini.

Foto dok./TBJT

Kita coba untuk menyimak kalimat “anak bermain gamelan”, secara struktur tata bahasa “anak” sebagai subyek, “bermain” predikat dan “gamelan” sebagai obyek. Kedudukan obyek merupakan pelengkap dari subyek yang derajatnya lebih rendah. Berikut penulis ingin berpikir dengan paradigma yang berbeda, “anak” sebagai subyek, “bermain” predikat dan “gamelan” juga sebagai subyek. Paradigma ini memposisikan “anak” sebagai subyek adalah pokok dan “gamelan” juga subyek atau pokok (penting). Paradigma tersebut memosisikan anak dan gamelan memiliki kedudukan sama-sama pentingnya seperti manusia dan kebudayaannya yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Manusia menciptakan budaya (falsafah) untuk landasan dalam berkehidupan menjadi manusia utama (Jawa: Manungsatama), manusia berbudi pekerti luhur. Pemikiran inilah yang penulis maksud sebagai tinjauan paradikmatik. Berpikir paradikmatik akan membawa pemahaman dan pola berpikir terbuka, kritis, kontemplatif. Berikut akan dibahas tiga domain yaitu, gamelan itu apa, siapakah anak-anak itu dan anak bermain gamelan mendapat apa saja.

Gamelan, Apa itu?

Jawaban (1): Gamelan sebagai “warisan” budaya nenek moyang bangsa Indonesia. Gamelan yang sekarang masih hidup dan berkembang di Indonesia bahkan di luar negeri merupakan resistensi budaya tradisi, hasil proses panjang sejarah, yang sudah tertempa dari pengaruh budaya luar serta berkembang menyesuaikan jaman berabad-abad lamanya. Gamelan merupakan budaya yang sudah mendarah daging masyakat, menjadi ekspresi dalam kehidupan. Di sisi lain sangat disayangkan pendidikan music di Indonesia berorientasi music barat, sedangkan di Indonesia sangat kaya budaya tradisi. Banyak orang luar yang kagum dan bermain gamelan, sebagian besar universitas di Amerika memiliki gamelan dan gamelan merupakan new music bagi orang-orang Amerika. Berbicara tentang budaya warisan perlu mengacu pada cerita La Fontain yang dikutip oleh Jacques Delors ahli pendidikan UNESCO untuk mengingatkan dunia karena issu modernisasi dan globalisasi masyarakat dunia semakin kehilangan nilai-nilai tradisinya. Cerita tersebut mengisahkan seorang petani tua yang berpesan atau permintaan yang sungguh-sungguh (Jawa: wanti-wanti) terhadap anaknya agar jangan sampai menjual warisan nenek moyang, karena terpendam harta karun di dalamnya (Be sure not to sell the inheritance, Our forebears left us a treasure lies consealed therein). Harta karun apa yang terpendam dalam gamelan sebagai warisan budaya Indonesia, secara akademik maupun non akademik belum banyak tersibak apalagi masyarakat umum.

Berikut akan dibahas sekilas berbagai aspek yang terdapat dalam budaya gamelan di Indonesia khususnya Jawa.

Jawaban (2): Gamelan secara kebendaan (phisical) merupakan perangkat berbagai jenis bentuk dan bahan ricikan (instrumen) music tradisi yang memiliki khasanah eksotis bila dibandingkan dengan music dunia manapun. Gamelan (Jawa) yang lengkap terdiri dari sekitar dua puluh lima instrumen dengan berbagai bentuk dan ukuran. Penataan semua instrumen dalam panggung memperhatikan bentuk serta besar kecil instrumen serta bentuknya sehingga enak dipandang mata. Peralatan atau instrumen gamelan secara kultural masyarakat tradisi tidak pernah dipandang sebagai sekedar benda semata. Suatu missal ricikan Gamelan Rebab secara organologis dipadankan dengan tubuh manusia kaki (sikilan),  busana (dodot), badan (watangan), lengan (bahu), telinga (kupingan), hidung (irung-irungan), mahkota (irah-irahan). Ricikan Rebab merupakan menifestasi atau simbol tubuh manusia, maka perlu dihormati, selalu bersih, tidak ditempatkan di tempat sembarangan, tidak boleh dilangkahi. Pada saat memainkan duduk bersila menghadap ke depan bagaikan orang bermeditasi (Jawa: semedi). Dengan instrumen Rebab, manusia mengungkapkan rasa yang paling dalam yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Nama-nama nada gamelan menggunakan istilah Panunggul (kepala), Gulu (leher), Dada (dada), Lima (lima) dan Nem (enem). Panunggul melambangkan pikir, Gulu melambangkan jalan, Dada melambangkan hati, Lima melambangkan pancaindra dan Nem melambangkan rasa. Jadi instrumen dan nada-nada gamelan melambangkan manusia baik pisikal dan spiritual secara utuh. Dari pemahaman inilah gamelan cenderung disakralkan dan sangat dihormati.

Jawaban (3): Bermain gamelan; bermain gamelan terdapat tingkat-tingkat mulai dari tingkat belajar, bisa, mahir, hingga kontemplatif (sumeleh). Secara psikologis tingkat resepsi, persepsi, konsepsi dan intuisi. Pada tingkat awal atau belajar menekankan olah piker (logic), ketrampilan (skill), kebersamaan dan kekompakan (etitute, social). Tingkat berikutnya mulai meninggalkan logika masuk pada komunikasi rasa (among rasa). Tingkat terakhir sudah meninggalkan semua masuk ke tingkat kontemplatif (olah rasa). Dalam Serat Sastra Gending karya Kanjeng Sulta Agung Hanyakra Kusuma pada pupuh sinom padha ketiga yang berbunyi”…..myang pangalah karawitan, mangasah mingising budi, pamardi yuning ngagesang, tesing kasedan jati,…..” (dalam bermain karawitan/gamelan, mengasah ketajaman budi, untuk mendapatkan keselamatan hidup serta mencapai kematian yang pratitis). Jadi bermain gamelan bila bermain gamelan kalau dilakukan berkelanjutan dan dilandasi dengan pemahaman budaya merupakan proses kehidupan individu mulai dari olah piker, olah ketrampilan, kebersamaan, etika, estetika hingga olah rasa atau spiritual.

Lagu gamelan (4): lagu gamelan lebih akrab dengan sebutan gending. Gending gamelan memiliki varian bentuk karakter atau rasa gending. Setiap gending memiliki rasa sendiri-sendiri yang khas. Marc Benamou dari The University of Michigan Amerika dalam disertasinya yang berjudul “Rasa in Javanese Musical Aesthetics” menggolongkan rasa gending menjadi enam clusters yaitu, regu, sereng, sedhih, prenes, berag dan gecul. Cluster regu meliputi: rasa agung, mrabu, gagah, lugu, tenang, khidmat, klasik dan wingit; Cluster sereng meliputi: krodha, tegang, greget, nafsu, kasar, giris; Cluster sedih meliputi: sungkawa, tlutur, kasmaran, kangen, nglangut, sepi, prasaja, tentrem, melas dan ngeres; Cluster prenes meliputi: suka, entheng, kenes, rame, rongeh, branyak, seger, tregel, nggodha; Cluster berag meliputi: gumbira, entheng, bregas, gobyok, semangat, sigrak; Cluster gecul meliputi: rasa lucu, ngglece, gojegan, gumbira. Rasa gending tidak bisa digeneralisasi, suatu missal gending Pangkur itu pernes dan gending Ayun-ayun juga memiliki rasa pernes. Meskipun keduanya mempunyai rasa pernes, namun pernesnya berbeda satu sama lain. Dengan demikian, betapa kekayaan akan rasa dalam gamelan atau karawitan dan di sinilah kekayaan nilai estetik yang menjadi titik pusat (central point) dalam dunia karawitan. Mendengarkan atau menghayati gending kalau hanya mendapatkan hiburan dan kesenangan merupakan penghayatan yang tergolong penghayatan yang dangkal. Penghayatan yang serius akan mendapatkan pengalaman estetik yaitu ketentraman batin ayem tentrem. “Musik gamelan sangat indah, gamelan adalah musik kalbu, musik yang datang dari hati”, demikian pernyataan Jessika Kenney, seorang guru dan Composer dari Cornisn Colege of Arts Amerika.

Jawaban (4): Gamelan dan mistik; terdapat kemiripan dalam peradapan kuno di berbagai belahan dunia antara kaitan music dengan mistik. Istilah music yang kita kenal dan pahami sebagai seni suara, berasal dari bahasa Yunani musike, dari kata muse-muse yaitu Sembilan dewi Yunani dibawah dewa Apollo yang melindungi seni dan ilmu pengetahuan. Dalam mitologi Yunani kuno music merupakan keindahan yang berasal dari kemurahan Dewa-dewi Yunani yang dihadiahkan kepada manusia. Pada abad pertengahan oleh orang-orang gereja di Eropa istilah musik untuk menyebut yang berhubungan dengan yang suci, religi dan gereja yaitu musica sacra. Menurut Serat sujarah utawi riwayating gending Wedhapradangga, gamelan pertama dibuat oleh Sang Hyang Guru ketika ngejawantah menjadi manusia raja di Tanah Jawa, yaitu Medhangkamulan yang terletak di gunung Mahendra (gunung Lawu, perbatasan Jawa Tengah Jawa Timur tahun 167). Gamelan itu dinamakan gamelan Lokananta atau Lokanata dengan perangkat yang masih sederhana terdiri dari lima ricikan yaitu Gendhing (kemanak), Pamatut (kethuk), Sauran (kenong) dan Maguru (gong ageng). Gamelan dalam budaya kraton di Jawa merupakan simbol yang menjadi legitimasi raja dan kerajaan yang penuh misteri hingga sekarang. Pada kalimat “Sang Hyang Guru ngejawantah menjadi manusia” dapat dimaknai ketika manusia menyatu manunggal dengan Hyang Tunggal dalam peristiwa spiritual.

Jawaban (5): Gamelan sebagai budaya, dalam pengertian semua masyarakat di Indonesia memiliki gamelan atau music etniknya sendiri-sendiri. Keberadaan gamelan sudah menyatupadu dalam kehidupan bermasyarakat baik dalam konteks kegiatan sekuler maupun ritual. Dari itu dalam budaya gamelan dan atau karawitan terdapat konsep-konsep filosofis sebagi acuan dalam hidup bermasyarakat dengan lingkungannya. Gamelan sebagai budaya senantiasa berkembang sesuai jamannya. Dengan kata lain gamelan merupakan ekspresi, identitas masyarakat dan bangsa Indonesia. Kuntjaraningrat seorang antropolog ternama Indonesia Indonesia, menyatakan bahwa dari semua unsur kebudayaan, seni budayalah yang dapat   mencirikan bangsa Indonesia dengan bangsa lain di dunia.

Foto dok./TBJT

Anak-Anak, Siapa Mereka?

Jawaban (1): anak sebagai generasi penerus; Sering anak-anak disebut sebagai generasi penerus bangsa yang berarti siapapun yang dilahirkan dalam suatu negara yang berdaulat akan meneruskan apa yang telah dilakukan oleh generasi pendahulunya sebagai warga Negara. Dalam kalimat tersebut terkandung pengertian, pertama; melestarikan nilai-nilai potensial maupun faktual yang ada, kedua; mengembangkannya dan ketiga; mempertahankan pengaruh negative dari dalam maupun dari luar. Nilai-nilai luhur warisan nenek moyang bangsa Indonesia sampai masa modern sekarang masih actual, sebagai contoh Pancasila dan Binneka Tunggal Ika yang bersifat filosofis universal. Nilai-nilai luhur tersebut terkandung dalam seni budaya tradisi di Indonesia. Mempelajari seni budaya tradisi akan mengenali dan sekaligus memiliki (mewarisi) nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya sekaligus menjadi karakter bangsa. Negara yang besar dimiliki oleh bangsa yang besar seperti dicitakan oleh para pendiri Republik ini yang tercantum dalam syair lagu kebangsaan Indonesia Raya: ….. “bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia raya” …. (jiwanya bukan pikirnya).

Jawaban (2); anak-anak akan menjadi warga masyarakat, warga negara, sekaligus warga dunia secara global. Meskipun mereka belum memiliki hak sepenuhnya untuk mendapatkan apa yang diperlukan untuk menyongsong masa depan mereka. Sebagai anak bangsa perlu dipersiapkan secara serius agar mampu mengembangkan potensi yang dimiliki Negara sekaligus mempunyai daya saing tinggi secara global yang berbasis local wisdom dan local genius bangsa.

Jawaban (3): hak anak adalah mendapatkan pendidikan, belajar dan belajar menjadi dirinya sendiri. Menurut Jacques Delors ahli pendidikan UNESCO ada empat pilar pendidikan yaitu belajar mengetahui, belajar berbuat, belajar hidup bersama dan belajar menjadi seseorang. Di alam Indonesia yang memiliki budaya heterogen, belajar mengetahui perjalanan sejarah bangsanya, alam serta nilai-nilai luhur local genius dan local wisdom yang diwariskan leluhurnya. Belajar berbuat membudidayakan potensi alamnya menjadi kekayaan Negara dan bangsa. Belajar hidup bersama dalam kebinnekaan serta belajar menjadi seseorang yang berkepribadian Indonesia yang berbudi luhur.

Anak-anak bermain gamelan mendapatkan apa saja?

Anak tumpah darah Indonesia semestinya merasa beruntung. Indonesia memiliki kekayaan alam yang subur, suku bangsa dengan aneka budayanya. Anak Indonesia tumbuh kembang dalam habitat alam yang kaya raya. Budaya gamelan dimiliki semua suku dalam berbagai ragam bentuk dan budayanya. Anak belajar bermain gamelan berarti sudah belajar semua dasar-dasar semua aspek dalam tumbuh kembangnya jiwa raga mereka. Mulai dari belajar mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam gamelan sebagai warisan budaya nenek moyangnya sendiri, ajaran budi luhur, keindahan, religious. Belajar bermain gamelan merupakan belajar hidup bersama, toleransi, among rasa, komunikasi rasa, sopan santun dalam kebersamaan, tidak saling mengungguli, hidup dalam keselarasan yang harmonis. Masing-masing pemain belajar mencari jati diri sesuai dengan instrument yang dipegangnya.

Semua itu berlangsung secara bersamaan dalam setiap peristiwa pembelajaran bermain gamelan. Di sinilah inti dari pemikiran paradikmatik anak bermain gamelan, bagaikan wadah dan isi. Anak sebagai wadah memerlukan isi yang menjadikan anak berisi, berkarakter menjadi dirinya yang utuh sebagai pribadi dan bangsa Indonesia yang berkarakter. Bila pemikiran idealistik ini terjadi, akan terbangun negara yang memiliki ketahanan budaya. Ketahanan budaya merupakan landasan bagi ketahanan yang lain seperti politik, ekonomi dll.

Yang perlu diingat bahwa, “penjajahan ideologi dan budaya adalah lebih kejam” salam.

Seksi Dokumentasi Publikasi

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.