Dalang Dikejar Zaman

Oleh: Nanang Hape

WAYANG DAN MASYARAKAT

Perubahan di berbagai bidang yang semakin cepat dan sulit diduga akibat dari kemajuan teknologi komunikasi dewasa ini telah menimbulkan dikotomi-dikotomi yang melibatkan unsur-unsur kehidupan sosial termasuk kesenian untuk menyesuaikan diri, bertahan dan mengembangkan diri untuk tetap eksis, mempertahankan fungsinya di tengah kehidupan masyarakat.

Pergelaran Wayang Kulit dalang Ki Redi Suyoto, lakon: Petruk Kridha yang dipentaskan di Taman Budaya Jatim tahun 2017. Foto Dok. TBJT

Sudah barang tentu perubahan itu tidak serta merta terjadi. Di negara dengan akar tradisi kuat (termasuk Indonesia), semua orang merasa memiliki kesenian. Kesenian bukan monopoli seniman profesional yang memang mengkaryakan hidupnya untuk seni, tapi juga menjadi milik penonton, milik masyarakat. Sisi baiknya, kita bisa berharap kelangsungan kehidupan kesenian akan tetap terjaga. Tetapi di sisi lain, karena masyarakat merasa punya hak yang sama dengan seniman, proses kreatif seringkali terbentur pada pertentangan nilai yang tak jarang menimbulkan perbedaan pendapat dan perdebatan. Secara garis besar bisa dikatakan ada dua kelompok besar pendukung kesenian, yang satu menempatkan diri untuk menjaga nilai-nilai lama dan kelompok yang lain memilih untuk melakukan pengembangan dan pembaharuan.Masalah terbesar dari dikotomi ini umumnya berhubungan dengan ekonomi. Dalam kondisi kemakmuran yang belum merata, sebagian besar seniman terpaksa menempatkan karyanya di posisi tawar sebagai komoditas yang mau tidak mau harus bergantung pada kebutuhan pasar. Seniman butuh pendapatan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Mereka akan berusaha dengan bermacam-macam cara agar tetap eksis. Proses inilah yang kemudian menimbulkan banyak variasi sesuai dengan motif dan tujuan seniman dalam berkarya. Ada yang menempuh proses panjang dengan mempertimbangkan aspek etis –estetis, tapi banyak juga yang menempuh jalan pintas, sekedar laku dan karyanya kemudian bisa menjadi sumber pendapatan.

Sejauh mana kemampuan masyarakat dalam mengapresiasi seni juga bukan masalah sederhana. Tingkat pendidikan dan ekonomi yang beragam adalah kondisi nyata yang harus dihadapi. Pada tingkat masyarakat kebanyakan, waktu luang yang semakin sempit karena tersita oleh rutinitas sehari-hari, kelelahan yang menuntut pelepasan (salah satunya adalah tontonan ringan) membuat mereka lebih memilih wayangan yang ringan dan menghibur, bukan wayangan yang dirasa berat, yang mengajak berpikir dan merenung. Media elektronik yang sering dikritik karena berita dan acara-acara yang tidak mendidik, hanya memberikan mimpi-mimpi, kesuksesan instan, seks, kekerasan, tema-tema cengeng dan lain-lain tentu ikut memberikan andil dalam masalah ini.Daya tahan orang pada umumnya untuk menonton pertunjukan serius telah jauh menurun.Banyak orang berpendapat bahwa kelemahan seni terutama seni tradisi pada umumnya terletak pada unsur komunikasi dengan penonton, terutama kalangan generasi muda. Di dunia pewayangan, penggunaan bahasa pedalangan yang mengacu pada pola serta strata bahasa yang rumit dan khusus, yang mana menjadi kendala bagi sebagian besar penonton muda adalah persoalan yang tidak sederhana. Bahasa Pedalangan memiliki ciri tersendiri, ditambah tidak digunakan untuk bahasa percakapan sehari-hari. Seandainya penonton memilik bekal yang cukup untuk mengapresiasi bahasa pedalangan, maka anggapan bahwa penonton sekarang hanya menyukai adegan Limbukan dan Gara-gara tentu masih bisadidiskusikan. Kenapa penonton lebih menyukai dua adegan itu, belum tentu disebabkan semata-mata oleh joke-joke dan lagu-lagu yang dimainkan. Dalam kaitannya dengan bahasa, sangat mungkin penonton nyaman karena pada dua adegan di atas, dalang umumnya menggunakan bahasa sehari-hari yang lebih lugas, sederhana, lebih mudah dicerna.Hal ini tentu membutuhkan penelitian yang mendalam.

Dua unsur pertunjukan wayang lainnya, Sabet (gerakan wayang) dan Karawitan cenderung tidak mengalami masalah ini, karena simbol estetika yang digunakan bersifat universal. Orang lebih mampumenikmatidan memaknai gerakan wayangdisbandingmemahami teksnya. Demikian pula dari sisi karawitan. Menikmati alunan gending dan lagu,sulukan, sindhenanmasih lebih mungkin dilakukan oleh penonton disbandingmenikmati dialog wayang, kecuali bagi mereka yang menguasai Bahasa Pedalangan atau teks sudah digarap oleh dalang sedemikian hingga mampu ditangkap oleh penonton,baik makna maupun ekspresinya. “SENI LEBIH DIANGGAP SEBAGAI HIBURAN”.

DALANG MILIK SIAPA

Pergeseran yang nyata mengenai posisi dalang dalam masyarakat dewasa ini adalah makin tipisnya peran sebagai tokoh masyarakat. Dalang bukan lagi milik masyarakat. Secara umum dalang lebih dilihat sebagai individu dengan bidang pekerjaan unik, sebuah bidang yang tidak lazim dipiliholehorangkebanyakan. Eksistensinya lebih ditentukan oleh popularitas, seberapa sering ditanggap oleh orang, seberapa mahal tarifnya, seberapa luas daerah cakupan pentasnya dan lain-lain. Hal ini menyebabkan dalang lebih banyak bekerja sendiri sebagaimana pekerja-pekerja bidang lain meningkatkan derajad eksistensinya.

Penonton di sisi lain, makin banyak dari mereka yangtidak lagi melihat dalang dan pewayangan sebagai sebuah kesatuan utuh melainkan lebih tertarikuntuk menandaiperca-perca yang disenangi dan dipahami saja.Mereka yang hanya tertarik pada hiburan 4misalnya, akan mengejar informasi tentang siapa bintang tamu, baik pesindhen maupun pelawak yang akan menyertai pertunjukan seorang dalang yang sedang ingin didatanginya.Kelompok ini akan pulang setelah adegan Limbukandan/atau Gara-garakarena bagian pertunjukan wayang yang disenanginya sudah selesai.Dalang ditinggalkan dan meneruskan pertunjukannya bersama kelompok penonton yang masih menyukai unsur lakon,meskipun jumlah mereka umumnya tidak terlalu banyak.

Pergelaran Wayang Kulit dalang Ki Redi Suyoto, lakon: Petruk Kridha yang dipentaskan di Taman Budaya Jatim tahun 2017. Foto Dok. TBJT

Kebutuhan masyarakat terhadap hiburan ini kemudian ikut pula mempengaruhi dalang untuk menitikberatkan penggarapan unsur pertunjukan lebih pada sisi bungkus dan kemasan dan tidak jarang mengorbankan unsur lain yang sesungguhnya penting. Sebagai contoh, karena durasi adegan Limbukan dan Gara-gara dibuat lebih panjang mengakibatkan penggarapan cerita menjadi tidak maksimal. Lakon bukan lagi menjadi unsur utama dalam pertunjukan. Hal ini sudah berlaku umum, meski tentu masih ada sebagian kecil dalang yang tidak berlaku demikian.

Kondisi umum seperti di atas membuat situasi dunia pedalangan dewasa ini relatifsepi dari kritik disebabkan masyarakat tidak lagi memiliki kepedulian yang cukup terhadap kualitas pertunjukan wayang.Ketidakterkaitan dalang dan masyarakat membuat pewayangan cenderung menjadi hak milik dalang, sehingga kritik sering dimaknai sebagai kecemburuan atau ketidaksukaan pengkritik terhadap dalang.Hal ini cukup menghambat kemajuan seni pewayangan dewasa ini.Beberapa ungkapan yang cukup menggelitik di kalangan penonton dewasa iniantara lain : “Sudah capek bekerja, menonton kok masih disuruh mikir.” “Siapa bintang tamunya?” “Wayangnya ngomong terus, nggak perang-perang.” “Kalau nggak suka jangan banyak protes, nggak usah nonton. Masih banyak dalang lain.”

DALANG DIKEJAR ZAMAN

Masyarakat dikepung berbagai tawaran dan pilihan. Hal ini berlaku pula untuk dunia kesenian.Dalam gejolak kehidupan yang serba mementingkan materi ini, wayang sesungguhnya memiliki ruang untuk memfungsikan dirinya memenuhi kebutuhan masyarakat yang bersifat non materi. Wayang dan Pelaku Pewayangan adalah subyek yang dewasa ini sedang diharapkan untuk berusaha kembali pada jalurnya. Fungsi wayang sebagai penyampaigagasan, baikmoral maupun estetik adalah hal yang sebaiknya tidak ditawar lagi. Kesadaran akan pentingnya pertunjukan seni yang berkualitas dalam rangka membangun kembali ruang-ruang ekspresi berakar tradisi adalah hal mendesak yang semestinya segera diupayakan.Seni tradisi hakekatnya wajib digarap sedemikian rupa hingga mampu menarik minat penonton dengan tetap bersetia padaruanglingkup khasnya. Semestinya, wayang justru mampu menyentuh sisi kemanusiaan tanpa harus terikat pada perbedaan-perbedaan fisik yang menjadi kendala hubungan antar manusia. Wayang wajib untuk meruang dan merespon segala bentuk kemajuan zaman, bukansaja terbatas pada bungkus dan kemasantapi juga muatan-muatan yang disampaikan dalam teks pertunjukannya.Tantangan di dalam jagad pewayangan tidak akan berhenti. Dunia digital yang sedang berkembang dewasa ini menjadi sebuah peluang pengembangan sekaligus ancaman bila tidak disikapi secara cerdas. Dalang dituntut untuk beradaptasi dan tanggap terhadap perkembangan terkini. Pertunjukan wayang tidak boleh berhenti 6menjadi semacam artefak peninggalan masa lalu. Menonton wayang bukan seperti mengunjungi museum. Sungguh celaka bila orang menonton wayang semata-mata karena ingin bernostalgia, sementara isi dalam wayang itu sendiri sudah tidak sejalan dengan kehidupan di zamannya.

_____________________________________________________________________________________________________________________________________

Nanang Hape, Sekretaris PEPADI Pusat juga aktifis kesenian di Indonesia.

Sanjoto Prijo Djatmiko

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.