Mujiadi al. Mujek Sosok Aktor Ludruk Lintas Zaman

Menjadi Aktor profesional sebuah kesenian teater tradisi di zaman yang serba digital seperti sekarang menjadi sesuatu yang amat langka. Tak banyak orang yang mau menekuni profesi yang satu ini. Namun tidak demikian dengan seorang lelaki kelahiran Mojokerto 59 tahun lalu. Namanya Mujiadi, biasa mendapat julukan panggung Mujek. Sudah 46 tahun lebih dia menggeluti dunia peran pada kesenian tradisi ludruk. Tiada kata jenuh dan bosan terucap dari kedua bibirnya, namun semakin lama justru semakin mendalam kecintaannya pada kesenian asli Jawa Timur ini.

Mulai mengenal ludruk sejak usia SMP (1974-1976), waktu itu Mujiadi bersekolah di SMP PGRI Mojoagung Kabupaten Mojokerto. Begitu cintanya pada kesenian ludruk membuat Mujiadi kecil tak pernah melewatkan semalampun untuk senantiasa menonton ludruk, tiap kali ada ludruk tobongan main di daerahnya. Kebetulan lokasi tempat tinggal Mujiadi dengan lokasi tobong tidak jauh. Sehingga selesai belajar Mujiadi tak melewatkan semalampun untuk nonton ludruk yang memang sangat disukainya. Beberapa ludruk yang pernah singgah di tempat tinggalnya diantaranya adalah: ludruk Bintang Terang Anjasmara, ludruk Sekar Budaya, ludruk Sari Murni, ludruk Sari Warni dll. Era tahun 70-an memang menjadi era keemasan teater tradisi ludruk di Jawa Timur. Pertunjukan ludruk Tidak hanya laris di Jawa Timur saja, bahkan banyak ludruk asal Jawa Timur yang nobong (pentas) di Jawa Tengah dan mendapat sambutan luar biasa dari penonton. Pada Zaman itu teknologi belum berkembang seperti sekarang, hiburan utama paling hanya radio, televisi malah masih menjadi satu media yang langka. Yang bisa memiliki televisi biasanya hanya orang kaya karena harga televisi memang mahal. Tidak aneh bila dalam satu desa hanya ada satu sampai dua orang saja yang memiliki. Menjadi tidak aneh bila ada pertunjukan apa saja selalu ramai penonton. Mulai film layar tancap, ketoprak, ludruk, wayang orang, wayang kulit dll.

Mujiadi alias Mujek, aktor ludruk lintas zaman (foto dok./TBJT)

Memasuki jenjang SLTA Mujiadi mulai serius berkeinginan menjadi seorang aktor ludruk. Ketika kelas dua STM Kusuma Bangsa Mojoagung sekitar tahun 1977, untuk pertama kali Mujiadi bergabung dengan grup ludruk Bintang Terang Anjasmara asal Jombang. Masuk dunia tobongan Mujiadi tidak punya bekal kemampuan bermain ludruk sama sekali alias nol. Karena belum punya keahlian peran, Mujiadi dipekerjakan pada bagian dekorasi (artistik). Kelengkapan properti artistik pertunjukan dalam setiap lakon, Mujiadi selalu harus mencarikan kelengkapannya. Mulai daun-daunan, bambu, pohon pisang, atau apa saja yang dibutuhkan. Untuk mendukung pertunjukan Mujiadi harus selalu siap menyediakan. Awal menekuni dunia artistik pada kesenian ludruk semakin melatih kepekaanya akan kenaturalan pada setiap adegan. Ketika adegan pada ruang terbuka dan ruang tertutup pasti butuh dekorasi (artistik) yang berbeda pula. Perlahan tapi pasti kemampuan Mujiadi dalam hal artistik semakin mumpuni, kelak semua itu akan sangat berguna baginya ketika memasuki dunia pemeranan.

Tiga tahun Mujiadi bergabung dengan grup ludruk Bintang Terang Anjasmara, kemudian pindah ke grup ludruk Tambah Tresno pimpinan Pitono. Di grup ludruk ini walau masih menekuni bidang dekorasi (artistik) panggung Mujiadi mulai belajar tentang teknik bermain ludruk. Mulai dari teknik dasar keaktoran, tarian, lawakan dan garap iringan. Proses pembelajaran dijalaninya dengan melihat langsung, bertanya serta meminta pengajaran pada para pemain, juga berlatih sendiri pada dialog-dialog yang sulit kala jeda istirahat. Ketekunan belajar yang dijalaninya secara otodidak pada akhirnya membuahkan hasil. Tiga tahun kemudian Mujiadi mulai diajak bermain memerankan tokoh. Awal berperan sebagai tokoh Mujiadi didapuk (diberi peran) sebagai tokoh pembantu (figuran), seperti tokoh anak, tokoh pemuda kampung, dan tokoh apa saja yang fungsinya hanya sebagai pendukung cerita.

Kiprah Mujiadi menerjuni dunia peran pada kesenian ludruk selalu mendapat pantauan dan bimbingan dari Tokoh Utama ludruk Tansah Tresno bernama Junaedi. Mujiadi digembleng keras oleh Junaedi dengan harapan kelak bisa menggantikan posisi Junaedi sebagai pemeran utama. Pada Suatu saat Junaedi berhijrah ke Jakarta mencoba peruntungan nasib yang lebih baik. Kekosongan peran yang biasa dibawakan oleh Junaedi digantikan oleh Mujiadi. Ibarat sebuah strata sosial kedudukan Mujiadi naik satu tingkat. Yang semula hanya memainkan peran pelengkap menjadi peran utama. Bermain sejajar dengan para aktor papan atas ludruk Tansah Tresno seperti Suroto dan Karjo AC/DC. Ludruk Tansah Tresno pada waktu itu malang melintang di kawasan Jawa Tengah, tidak pernah sepi dari penonton dan karcis pertunjukan selalu ludes terjual.

Mujiadi al. Mujek (kanan berbaju merah) dalam sebuah peran ludruk lakon Lutung Gandrung yang dipentaskan Taman Budaya Jatim di Malang tahun 2018. (foto dok./TBJT)

Merasa sudah cukup belajar ilmu seni ludruk pada grup ludruk Tansah Tresno yang main Jawa Tengah, Mujiadi menyatakan keluar dan hijrah ke Jombang Jawa Timur. Bergabung dengan grup ludruk Masa Baru. Ludruk ini sangat banyak penggemarnya, dalam satu bulan bisa bermain antara 50 – 60 kali pertunjukan. Tentu saja volume bermain yang sangat padat tidak memungkinkan para pemainnya untuk selalu bermain dalam setiap pertunjukan. Akhirnya ludruk Masa Baru dipecah jadi dua unit, yakni unit I dan II. Mujiadi bermain pada grup ludruk Masa Baru Unit I. Stagnasi lakon cerita yang hanya itu-itu saja membuat Mujiadi ingin mengembangkan teknik bermain ludruk yang lebih menjanjikan dalam tantangan. Lama di grup ludruk Masa Baru akhirnya Mujiadi hengkang ke grup ludruk Putra Bhirawa pimpinan pak Trimo.

Dari proses belajar langsung dari grup ke grup Mujiadi mulai bisa menyerap dan memilah bagaimana teknik menjadi seorang aktor yang baik, bagaimana teknik menyajikan lawakan yang baik, bagaimana pula menyajikan sebuah iringan yang mendukung kekuatan cerita yang baik. Proses belajar dari grup ke grup berjalan amat panjang dan susah. Diperolehnya dari melihat, mendengar, memahami, menganalisa dan membuat kesimpulan sendiri. Proses pembelajaran otodidak yang bila ditempuh di dunia perguruan tinggi bisa memakan waktu empat tahunan.

Akhir 80-an memasuki awal 90-an Mujiadi bergabung dengan grup ludruk Pancamarga Kabupaten Nganjuk bareng dengan Bagio, Kirun dan Kholik. Tiga orang tersebut sukses mengisi acara di TVRI Surabaya bertajuk Depot Jamu Kirun. Kekosongan pimpinan grup ketika ditinggal oleh para pimpinannya shooting membuat Mujiadi diberi mandat oleh Bagio untuk mengendalikan grup tersebut. Pada awalnya Mujiadi menerima mandat tersebut. Tapi lama kelamaan Mujiadi menjadi tidak enak, karena dirinya bukan pemilik grup ludruk Pancamarga. Perintah koordinasi kadang malah menimbulkan ketidak kompakan sesama anggota grup. Pada akhirnya Mujiadi hengkang dari grup ludruk Pancamarga dan sejak 1992 sampai sekarang bergabung dengan grup ludruk Karya Budaya kota Mojokerto pimpinan pak Edi Karya.

Mujiadi al. Mujek (sebelah kanan) berperan sebagai warok pada lakon ludruk berjudul “Suminten Edan” di gedung kesenian cak Durasim Taman Budaya Jatim tahun 2019. (foto dok./TBJT)

Selain bermain ludruk sebagai pekerjaan utama, Mujiadi juga menekuni pekerjaan sampingan sebagai seorang pemantau kesenian tradisi yang layak untuk didokumentasikan dan dijual hasil pendokumentasian tersebut. Tidak hanya satu label rekaman yang memanfaatkan jasa Mujiadi, tapi ada beberapa, misalnya perusahaan rekaman Perdana, CHGB, dll. Mujiadi biasa turun ke lokasi pertunjukan kesenian tradisi digelar, sebagai contoh kesenian Bantengan, Tayub, Campursari, Wayang Kulit, dll. Kesenian tersebut dipantau dan dipetakan oleh Mujiadi, kira-kira laku apa tidak bila didokumentasikan dan dijual, bila ternyata laku maka Mujiadi melapor ke pihak pemilik rekaman. Kadang-kadang pihak perusahaan rekaman meminta jasa Mujiadi untuk melihat dan memantau sebuah kesenian kira-kira layak apa tidak untuk didokumentasikan dan dijual hasil dokumentasi tersebut. Dari jasa seperti inilah Mujiadi mampu menambah penghasilan.

Kesederhanaan dan ketulus ikhlasan seorang pekerja seni seperti Mujiadi al. Mujek tak banyak dilakukan oleh orang pada zaman sekarang. Banyak orang mengaku seniman tapi apa wujud karya seni yang dihasilkan?, apa bentuk perjuangan dan pengabdiannya pada seni yang diaku sebagai profesinya?, tidak ada. Banyak orang mengaku seniman tapi hanya bermain proposal untuk menarik donatur agar mau mengucurkan pundi rupiah untuk keuntungan kantong sendiri. Memanfaatkan teman lain untuk berkesenian dengan bayaran seadanya sementara sebagaian besar keuntungan dikantongi sendiri. Tapi semua itu tidak berlaku untuk seorang seniman ludruk bapak dari dua anak dua cucu bernama Mujiadi al. Mujek. Kecintaannya yang luar biasa pada seni yang menghidupinya begitu mendalam. Pengabdiannya yang tanpa pamrih pada kesenian ludruk mulai zaman orde baru, reformasi dan milenial sekarang tak menggoyahkan sedikitpun akan kecintaan dan dedikasi pada kesenian yang ditekuninya. Pantaslah bila sebutan “aktor ludruk lintas zaman” disematkan padanya. (san)

Sanjoto Prijo Djatmiko

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.