Nuansa Wayang Thengul Pada Gelar Seni Budaya Daerah Jawa Timur 2019 Kabupaten Bojonegoro

Taman Budaya Provinsi Jawa Timur yang bertempat di jalan Gentengkali 85 Surabaya pada tanggal 13-14 September 2019 kembali menyelenggarakan sebuah event Gelar Seni Budaya Daerah Jawa Timur 2019. Kali ini materi yang disajikan adalah potensi seni budaya yang ada di Kabupaten Bojonegoro. Dengan mengusung tema “Pinarak Bojonegoro”. Pinarak dalam kata bahasa Jawa berarti dipersilahkan, Pinarak Bojonegoro berarti kita dipersilahkan mampir ke Bojonegoro. Tentu saja mampir untuk menikmati kekayaan seni budaya dan destinasi wisata yang ada di Kabupaten Bojonegoro.

Dalang Wayang Thengul Ki Darno Asmoro. Foto dok./TBJT.

Pada Gelar Seni Budaya kali ini Kabupaten Bojonegoro sengaja memunculkan ikon “Wayang Thengul” sebagai branding promosi aset seni budaya sebagai suatu cara untuk mendongkrak nama Kabupaten Bojonegoro ke kancah nasional maupun internasional. Tak bisa dipungkiri bahwa “Wayang Thengul” adalah produk seni budaya yang lahir asli dari bumi Bojonegoro. Dari sumber sejarah yang ada, Wayang Thengul pertama kali diciptakan oleh Sumijan sekitar tahun 1930an. Pada awalnya Wayang Thengul digunakan untuk mengamen dari satu desa ke desa lain. Seiring dengan perkembangannya Wayang Thengul mulai dikenal oleh masyarakat dan mulai berkembang menjadi hiburan untuk masyarakat, seiring dengan sering ditampilkannya wayang ini di berbagai acara seperti hajatan, nikahan dan bersih desa.

Pertukaran Cinderamata oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur dan Wakil Bupati Bojonegoro. Foto dok./TBJT.

Wayang Thengul hampir mirip dengan Wayang Golek yang ada ditatar Pasundan Jawa Barat. Namun perbedaan yang jelas terlihat adalah pada cerita yang diangkat dan karakter tokoh yang ditampilkan. Apabila pada Wayang Golek Sunda lebih banyak mengangkat cerita Carangan atau cerita Wayang purwa seperti Mahabarata dan Ramayana, namun berbeda dengan Wayang Thengul yang banyak mengangkat cerita rakyat seperti cerita Wayang gedhog (cerita kerajaan majapahit) dan Wayang menak (cerita panji serta cerita para wali). Selain itu ada juga yang menceritakan cerita Serat Damarwulan.  Untuk bentuk karakter wayang biasanya disesuaikan dengan cerita yang diangkat dan setiap tokoh memiliki ciri khas atau karakter tersendiri. Selain bentuk karakter tokoh, suara setiap tokoh pun berbeda – beda. Sama dengan wayang lainnya, kemampuan Dalang dalam memainkan cerita dan suara wayang merupakan unsur terpenting dalam suatu pertunjukan wayang. Karena pada umumnya dari situlah ukuran kualitas dan kemampuan dalang bisa diketahui. Dalam pertunjukannya, Wayang Thengul diiringi oleh Sinden dan iringan musik gamelan jawa dengan laras slendro dan pelog yang menjadi ciri khas gamelan Jawa.

Tari Cekak Aos. Foto dok./TBJT.

Keberadaan Wayang Thengul yang mulai dilupakan khalayak inilah yang coba digaungkan oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Gebrakan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro dengan menghadirkan sebanyak 2.019 penari Thengul dalam Pergelaran Bojonegoro Thengul International Folklore Festival (TIFF) 2019 yang berlangsung Minggu, 14 Juli 2019 di beberapa wilayah di Kabupaten Bojonegoro seakan menghentak publik. Tari kolosal itu tercatat sebagai rekor dunia dan dibukukan dalam buku Guines Book of Record yang di Indonesia dimandatkan kepada Museum Rekor Indonesia (MURI). Tari Thengul yang sebenarnya sudah diperkenalkan ke publik sejak tahun 1991 belum juga mengangkat nama Bojonegoro ke kancah yang lebih luas. Tapi sejak 14 Juli 2019 Bojonegoro mulai dikenal khalayak luas sebagai Kabupaten yang identik dengan Wayang Thengul.

Pemukulan alat musik patrol sebagai tanda dimulainya Gelar Seni Budaya Daerah Kabupaten Bojonegoro. Foto dok./TBJT.

Pada Gelar Seni Budaya Daerah Jawa Timur 2019 “Pinarak Bojonegoro” Kabupaten Bojonegoro yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Jawa Timur bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, nuansa Thengul mewarnai setiap pergelaran seni dan pameran produk unggulan yang ditampilkan selama dua hari berturut-turut. Mulai tari, drama tari, kerajinan (batik, cinderamata) dan pada puncaknya pergelaran Wayang Thengul padat. Semua bercirikan Wayang Thengul. Bahkan motif batik bergambar Wayang Golek Thengul pun ada.

Persembahan Lagu Daerah “Pinarak Bojonegoro” dan “Ledre” yang dilatar belakangi oleh peragaan busana bermotif batik khas Bojonegoro. Foto dok./TBJT.

Sebelumnya tetabuhan gending-gending Jawa sebagai lelagon selamat datang dikumandangkan untuk menyambut penonton yang menempati tempat yang telah disediakan. Persembahan Hastungkara (pembacaan doa dalam bahasa Jawa) mengawali rangkaian acara Gelar Seni Budaya Daerah Jawa Timur Kabupaten Bojonegoro, pembacaan dilakukan oleh seorang Dalang dengan dilatar belakangi konfigurasi para penari perempuan yang memerankan gerakan-gerakan Wayang Thengul. Setelah itu dilanjutkan dengan persembahan tari Cekak Aos.

Penciptaan tari Cekak Aos terinspirasi dari pergelaran Wayang Thengul semalam suntuk yang diringkas menjadi sebuah karya tari. Cekak dalam bahasa Jawa berarti pendek dan Aos artinya padat. Bila digabung berarti sesuatu yang pendek namun terdapat isian yang padat. Sesuai ide garapan karya tari Cekak Aos yang merupakan pementasan Wayang Thengul semalam suntuk yang diringkas menjadi durasi tujuh (7) menit. Visualisasi gerak yang ditampilkan adalah hasil eksplorasi bentuk tubuh Wayang Thengul yang terbuat dari kayu dengan karakter gerak kaku dan methentheng (mengeluarkan tenaga ekstra) dan methungul (mengangkat setengah badan sampai kepala para penari) menirukan gerak wayang golek asal Bojonegoro tersebut. Rias wajah juga menirukan riasan pada bentuk Wayang Thengul yakni diblok dengan warna putih. Ekspresi wajah yang stagnan tanpa ekspresi menghiasi wajah-wajah para penari, bila dihayati secara mendalam memang mirip dengan gerakan-gerakan kaku sosok wayang golek yang terbuat dari kayu.

Prabu Angling Darma dengan Dewi Setyawati dalam pergelaran Wayang Wong Thengul.
Foto dok./TBJT.

Acara dibuka oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Dr. Ir. Heru Tjahjono, sebelumnya dilakukan pertukaran cindera mata sebagai kenang-kenangan jalinan kerjasama antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Dari Kabupaten Bojonegoro diwakili oleh Wakil Bupati Bojonegoro Budi Irawanto. Setelah seremonial selesai dilanjutkan dengan persembahan lagu daerah dengan judul Pinarak Bojonegoro dan Kota Ledre. Persembahan lagu-lagu tersebut dibawakan secara Medly dengan dilatar belakangi peragaan busana yang dibawakan oleh para duta wisata Kabupaten Bojonegoro. Berbagai ragam motif batik khas Bojonegoro dikreasikan menjadi busana laki-laki perempuan yang sangat indah. Motif Wayang Thengul dan Daun Jati mendominasi motif batik yang diperagakan. Setelah persembahan lagu dilanjutkan dengan Wayang Wong Thengul dengan lakon “Mbebedhag Kebacut Tresno”. Dikisahkan Raja Malawapati Prabu Angling Darma yang masih Bujang ingin berburu di hutan dan menyamar sebagai rakyat biasa. Sampailah di hutan Untara Segara dan bertemu dengan Batik Madrim dan Dewi Setyowati putra Begawan Manik Sutra, seorang Pandita di Untara Segara. Terjadi salah paham dan pertengkaran. Prabu Angling Darma menyerah dan dibawa ke Padepokan Untara Segara. Sesampai di Padepokan terbongkarlah penyamaran Prabu Angling Darma karena kesaktian Begawan Manik Sutra. Melihat kecantikan Dewi Setyowati, Prabu Angling Darma terpesona, maka dipinaglah Dewi Setyowati untuk dijadikan permaisuri di Malawapati. Semua pemain memakai rias wajah di blok dengan warna putih pada wajahnya, sebagai bentuk pengejawantahan bentuk Wayang Golek Thengul menjadi format Wayang Wong Thengul.

Pergelaran Jaranan Anthereret. Foto dok./TBJT.

Pada hari kedua acara dimulai pada pagi hari dengan persembahan tari yang diperagakan oleh sanggar-sanggar tari yang menjadi binaan Taman Budaya Provinsi Jawa Timur mulai tingkat anak sampai remaja. Setelah persembahan tari dari sanggar-sanggar selesai dilanjutkan dengan Pergelaran Jaranan Anthereret dari Kabupaten Bojoneoro. Kesenian Jaranan Anthereret sama dengan kesenian jaranan pada umumnya yang ada di Jawa Timur. Pada malam harinya dipergelarkan Wayang Thengul Padat. Sama dengan Pakeliran Padat pada Wayang Purwa, dipergelarkan hanya sekitar 2-3 jam, tidak semalam suntuk.

Wayang Thengul Padat dipergelarkan sebagai penutup rangkain acara Gelar Seni Budaya Daerah Jawa Timur 2019 “Pinarak Bojonegoro” Kabupaten Bojonegoro. Dibawakan oleh dua dalang Wayang Thengul asal Bojonegoro, yakni: Ki Darno Asmoro dan Ki Tri Bayu Aji. Dalang Ki Tri Bayu Aji yang juga anak dari Ki Darno Asmoro khusus membawakan Wayang Thengul pada adegan perang saja. Lakon yang digelar adalah “Sabda Palon Kridha”

Penyerahan gunungan berupa muka kala bermahkota bulu merak oleh PLT Kepala Taman Budaya kepada Dalang Wayang Thengul Ki Darno Asmoro disaksikan Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bojonegoro. Foto dok./TBJT.

Ringkasan cerita Wayang Thengul Padat dengan lakon “Sabda Palon Kridha”. Dikisahkan Raden Damarwulan setelah dinobatkan menjadi Raja Majapahit menjadi sombong dengan kekuasaan yang telah didapatnya. Menganggap bahwa semua kesuksesan itu adalah hasil jerih payah yang telah diusahakannya sendiri dari nol. Persaingannya dalam meraih tahta Majapahit dengan dua saudara iparnya, yakni Layang Seta dan Layang Kumitir yang didukung mertuanya, memantik dendam membara dalam hatinya. Raden Damarwulan menganggap tindakan itu tidak layak dimaafkan, dan mengganggap Layang Seta, Layang Kumitir dan mertuanya Patih Logender sebagai benalu yang sewaktu-waktu dipersepsikan bisa “njongkeng kawibawan” (mengadakan pemberontakan) kepada Raden Damarwulan suatu saat nanti. Tuduhan dan keurigaan yang tanpa dasar itu membuat ketiga orang ayah dan anak itu keluar dari lingkup Kerajaan Majapahit. Kemarahan Raden Damarwulan bahkan dilampiaskan juga kepada Dewi Anjasmara istrinya sendiri yang tidak lain adalah anak dari Patih Logender mertuanya sendiri. Dewi Anjasmara yang tidak ada urusan apapun dengan persaingan politik suaminya dengan kedua kakaknya menjadi korban salah sasaran.

Adegan peperangan yang dibawakan oleh Dalang Ki Tri Wahyu Aji. Foto dok./TBJT.

Tindakan Raden Damarwulan yang berlebihan itu diingatkan oleh dua abdi dalem raja yang sangat setia, bernama Sabda Palon dan Naya Genggong. Bukannya diterima nasihat itu malah kedua abdi itu diusir keluar kerajaan. Dengan sedih hati kedua abdi dalem itu keluar dari kerajaan dan berniat bunuh diri sekalian karena menganggap hidup mereka sudah tidak berguna lagi di dunia. Ketika kedua abdi dalem yang setia itu akan melakukan bunuh diri tiba-tiba Sabda Palon mendapatkan wangsit melalui suara gaib. Suara gaib itu memerintahkan agar mereka berdua menyamar menjadi dua ksatria bernama Bambang Sabda dan Bambang Naya dan mengadakan pemberontakan terhadap Kerajaan Majapahit. Gerakan pemberontakan yang dipimpin oleh dua abdi dalem yang menyamar itu rupanya tidak mampu diatasi oleh Raden Damarwulan, sehingga membuatnya “oncat keprabon” (lari dari kerajaan). Pelarian Raden Damarwulan akhirnya sampai kepada tempat ayahandanya yang bernama Begawan Paluamba. Raden Damarwulan meminta bantuan ayahandanya untuk mengatasi pemberontakan yang dilakukan oleh abdi dalem yang menyamar itu. Kesaktian Begawan Paluamba akhirnya mampu menyingkap jati diri kedua pemberontak yang ternyata adalah dua abdi kinasih raja sendiri yakni Sabda Palon dan Naya Genggong. Tindakan semena-mena yang dilakukan oleh Raden Damarwulan itu ternyata justru membawa bencana dan atas nasehat ayahandanya Raden Damarwulan meminta maaf kepada dua abdi dalem itu dan isterinya. Kerajaan Majapahit menjadi tentram kembali seperti sedia kala. (san)


Sanjoto Prijo Djatmiko

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.