Pelantikan Pengurus PEPADI Surabaya 2019-2024 Dimeriahkan Wayang Kulit Lakon Wahyu Cakraningrat

Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) adalah organisasi profesi yang independen, beranggotakan dalang, pengrawit, swarawati, pembuat wayang dan perorangan yang memenuhi persyaratan tertentu. Disebut organisasi profesi karena PEPADI mewadahi  kegiatan seni pedalangan yang merupakan keahlian berkesenian khusus, sebagai sarana pengabdian dan peningkatan kualitas hidup para seniman pewayangan dan pedalangan. Independen karena PEPADI merupakan organisasi seni pewayangan dan pedalangan yang merupakan milik dari semua golongan, aliran dan seluruh strata masyarakat Indonesia.

PEPADI didirikan oleh Jenderal Surono yang waktu itu menjabat sebagai PANGKOWILHAN II (Jawa Madura) pada tanggal 14 April 1971 dalam musyawarah pedalangan se-Jawa dan Madura di Yogyakarta sebagai organisasi pedalangan yang bersifat nasional. Sebelumnya Jenderal Surono telah mendirikan organisasi pedalangan yang bersifat regional bernama GANASIDI (Lembaga Pembina Seni Pedalangan Indonesia) pada tanggal 12 Juli 1969 pada waktu beliau menjabat sebagai PANGDAM VII DIPONEGORO. Dalam musyawarah nasional PEPADI di Yogyakarta tanggal 31 Juli 1975 diputuskan mengubah organisasi pedalangan yang bersifat kedaerahan menjadi bersifat nasional sehingga GANASIDI secara bertahap meleburkan diri menjadi PEPADI.

Pengucapan Sumpah dan Janji Pengurus PEPADI Kota Surbaya Periode 2019-2024, dipandu oleh Sekretaris PEPADI Jawa Timur. Foto Dok./TBJT

Pada perkembangannya PEPADI menjadi organisasi yang besar dengan komisariat yang tersebar di 23 Provinsi, masing-masing Provinsi membentuk komisariat di tingkat Kabupaten/Kota. Salah satunya adalah PEPADI Kota Surabaya yang pada hari Sabtu, 4 Mei 2019 menyelenggarakan Pelantikan Pengurus Baru Periode 2019-2024 di Pendapa Jayengrana Taman Budaya Jawa Timur. Kepengurusan baru yang dilantik oleh Ketua PEPADI Provinsi Jawa Timur yang diwakili oleh Sekretatis adalah sebagai berikut : Ketua : Madiro, Wakil Ketua : Punjul Kasranto, Sekretaris : Heri Saptono, S.Sn., Bendahara I : Slamet Pendik, Bendahara II : Andri, serta empat bidang yang masing-masing diketuai oleh seorang ketua. Usai prosesi pelantikan dilanjutkan dengan penyerahan gunungan oleh Sekretaris PEPADI Jawa Timur kepada Ki Sudiro, salah satu dari lima Dalang yang akan melakonkan Cerita dengan judul Wahyu Cakraningrat. Kelima Dalang tersebut adalah : Ki Sudiro, Ki Bambang Dwi Sumanto, Ki Slamet Pendik, Ki Kukuh Setyo Budi, Ki Punjul Kasranto .

Wahyu Cakraningrat menceriterakan tentang perjalanan tiga orang satriya menempuh marabahaya dalam usahanya untuk dapat memperoleh kekuasaan. Ketiga satriya tersebut adalah raden Lesmana Mandrakumara, raden Samba Wisnubrata dan raden Abimanyu. Wahyu Cakraningrat sendiri adalah wahyu yang dianggap sebagai syarat untuk mendapatkan kekuasaan tersebut. Konon, siapapun yang mendapatkannya maka keturunannya akan dapat memegang tampuk kekuasaan.

Swarawati yang melantunkan tembang dalam Pergelaran Wayang Kulit Lima Dalang.
Foto Dok./TBJT

Untuk mendapatkan wahyu cakraningrat ini sendiri tidak mudah karena harus melalui laku tapa brata yang berat. Semula wahyu Cakraningrat tersebut masuk kedalam tubuh raden Lesmana Mandrakumara yang melakukan tapanya di hutan Gangguwirayang. Namun Lesmana Mandrakumara tidak bisa mengontrol diri ketika muncul godaan dari putri Pamilutsih yang merupakan jelmaan dari dewi Maninten. Akhirnya wahyu cakraningrat keluar dari tubuhnya.

Orang kedua yang mendapatkan kesempatan berkah wahyu cakraningrat adalah raden Samba Wisnubrata. Putra dari prabu Kresna itupun dianggap tidak lulus ketika ujian menghampirinya. Ketika dua orang, lelaki dan perempuan yang mengaku anak dan bapak menghampirinya dan ingin mengikutinya, dengan sikap sombong dan arogan dia mengusir sang bapak karena dianggap sudah terlalu tua untuk mengikutinya. Namun dia merayu anak perempuannya agar bersedia ikut dengannya. Lelaki tua dan anak perempuan itu akhirnya mengaku sebagai jelmaan dari wahyu cakraningrat dan dewi Maninten dan memutuskan bahwa wahyu cakraningrat tidak pantas berada dalam tubuh yang arogan. Dan keluarlah wahyu itu dari tubuh raden Samba.

Pergelaran diawali oleh Dalang Ki Sudiro.
Foto Dok. TBJT

Wahyu Cakraningrat kemudian masuk ke tubuh Abimanyu sebagai pertapa ketiga. Wahyu itu masuk ketika hari telah menjelang malam. Segera setelah mendapatkan wahyu, raden Abimanyu keluar dari pertapaannya. Tubuhnya segar, wajahnya terlihat berseri-seri bercahaya sebagai tanda wahyu Cakraningrat telah manjing bersatu dengannya. Ketika raden Abimanyu akan kembali pulang ke negerinya Amarta, ditengah jalan dicegat oleh para kurawa yang hendak merebut wahyu cakraningrat. Namun niat itu tidak berhasil dengan baik karena Abimanyu tetap bisa mempertahankan keberadaan wahyu itu dalam dirinya.

Prabu Kresna ketika mengetahui raden Samba anaknya gagal mendapatkan wahyu cakraningrat, berkehendak menikahkan salah seorang putrinya, Dewi Siti Sundari, dengan Abimanyu. Harapannya agar kelak keturunannya dapat menjadi penguasa. Namun dewa berkehendak lain karena Siti Sundari ternyata mandul. Abimanyu hanya mempunyai satu putra yaitu Parikesit dari rahim dewi Utari. Kelak, Parikesit yang akan menjadi penerus tahta kerajaan Astina setelah perang Bharatayudha berakhir. Konon, Parikesit juga dianggap sebagai orang yang telah menurunkan raja-raja yang berkuasa di pulau Jawa.(san)

Sanjoto Prijo Djatmiko

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.