Ringgit Wonosalam : Imajinasi Kecintaan Pada Wayang Dalam Goresan Teknik Dekoratif Abstrak Lukisan Karya Triyoso Yusuf

Triyoso Yusuf, nama pelukis kelahiran Wonosalam Jombang Jawa Timur 40 tahun lalu, berpenampilan tinggi besar berambut gondrong dan bercambang lebat, sepintas mirip dengan tampang Timur Tengah. Tapi siapa sangka, Triyoso Yusuf ternyata asli arek Wonosalam Jombang. Terlahir dari kerinduan Triyoso Yusuf akan masa kecilnya yang terukir kuat dalam ingatan, dari tanah kelahirannya dusun Plumpung, desa Galengdowo Wonosalam Jombang, sosok Yusuf kecil mendengarkan suara gamelan dari seberang rumahnya. Tepatnya di rumah Mbah Sir tetangganya, sesekali terdengar suara suluk dalang, percakapan antar wayang diiringi karawitan kerap terdengar dan disaksikan oleh Yusuf kecil setiap petang hari.

Waktu berlalu dan semakin sepi jarang lagi terdengar kenangan itu. Apalagi sepeninggal Mbah Sir, Mbah Sumopadi (kakeknya), Mbah Klumpuk, Mbah Nitirejo dan para sesepuh lainnya. Para wirayaga yang sebelumnya selalu kumpul dalam latihan pedalangan melanjutkan hidup dengan beralih profesi menjadi panjak Ludruk, Kuda Lumping, Tayub yang semua nyaris sama seperti berakhir menuju kepunahan. Bahkan Mbah Nitirejo sebelum wafatnya sempat menjual semua alat gamelannya yang sudah lama tidak terpakai. Tidak banyak yang Yusuf ketahui dari masa itu, hanya sekelumit kenangan yang memanggil hatinya untuk melahirkan karya lukis bernuansa wayang agar kenangan masa itu terukir abadi dihatinya.

Keindahan lukisan karya Triyoso Yusuf mengundang decak kagum dari Kadisbudpar Prov. Jatim yang juga seorang dalang yang tentu saja sangat memahami dunia pewayangan.
Foto dok./TBJT.

Ketrampilan melukis Triyoso Yusuf semakin terasah ketika pada tahun 1994 mulai memasuki Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) surabaya. Teknik melukisnya semakin matang berkat ilmu yang didapat semasa sekolah di SMSR yang sekarang menjadi SMKN 12 Surabaya. Bertempat di galeri Prabangkara Taman Budaya Jawa Timur pada 23-26 September 2019 Triyoso Yusuf berpameran tunggal untuk yang kedua kalinya. Dengan mengusung tema “Ringgit Wonosalam” Triyoso Yusuf memamerkan 13 karya lukisannya yang kesemuanya menggambarkan tokoh-tokoh dalam pewayangan yang dalam hal ini adalah bentuk wayang kulit (purwa) dengan teknik lukisan “Dekoratif Abstrak”. Semua lukisannya benar-benar menunjukkan kepiawaian Yusuf dalam menggoreskan kuas ke media lukis kanvas.

Ringgit Purwa atau wayang adalah kesenian yang sangat tua dari tanah Jawa. Dahulu wayang dibuat dari batu sesuai peruntukannya. Wa artinya Wadah, Yang artinya Ruh. Wayang adalah wadah ruh, tempat yang disiapkan untuk persemayaman ruh leluhur menurut keyakinan orang Jawa Kuno. Karena sifat dan fungsinya yang sakral kemudian wayang berkembang seiring waktu menjadi sarana untuk memberi ular-ular atau pitutur atau pituah nasehat leluhur. Dalam perjalanannya pitutur yang penuh falsafah luhur itu kemudian menjadi seni pertunjukan yang sarat makna filosofis. Wayangpun berkembang teknik pembuatannya, ada yang dari kayu, . daun, batang, ranting, rumput ilalang, kulit binatang dan ada juga yang dari kain dan disebut dengan wayang beber, demikian penjelasan Triyoso Yusuf.

Tamu dari Australia Barat yang sedang melakukan studi banding ke Disbudpar Prov. Jatim mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Triyoso Yusuf tentang makna filosofis salah satu lukisan karyanya. Foto.dok/TBJT.

Wayang bila dipentaskan dengan bahasa Jawa yang rumit menjadi susah dimengerti oleh generasi muda pada umumnya. Untuk itu Yusuf menuangkan pemahaman tentang wayang ke dalam sebuah lukisan dengan teknik lukis dekoratif abstrak dengan harapan siapapun mempu memahami tentang tokoh-tokoh dalam pewayangan. Misalnya saja lukisan dengan judul Arjuna & Punakawan, sangat mudah dipahami dalam lukisan itu keberadaan tokoh Arjuna sedang berdialog dengan 3 orang Punakawan yakni Gareng, Petruk dan Bagong. Keseluruhan karya Triyoso Yusuf yang bernuansa Wayang terasa indah untuk dinikmati. Permainan warna-warna dalam goresan cat minyak pada media kanvas, orang awampun pasti bisa merasakan ungkapan jiwa yang begitu halus dari sang pelukis. (san)

Sanjoto Prijo Djatmiko

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.