Ulang Tahun I PARIJATI Gelar Wayang Kulit Lakon Kahyangan Kembar oleh 6 Dalang

Dari kanan ke kiri 1. Ki Tetuko Aji, 2 Ki Tanoyo, 3. Ki Didik SA., 4. Ki Agung Ndo, 5. Ki Sholeh Adipramono, 6. Ki Rahmad.
Foto dok./TBJT

Sejak satu tahun yang lalu (2018) organisasi Pedalangan Jawa Timur yang sebelumnya bernama PARIPUJA berubah nama menjadi PARIJATI (Paguyuban Ringgit Purwa Jawa Timuran). Untuk memperingati ulang tahunnya yang petama PARIJATI bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur menggelar pertunjukan wayang kulit gaya Jawa Timuran dengan lakon Kahyangan Kembar. Pertunjukan dilaksanakan pada senin, 08/07/2019 di Pendapa Jayengrana Taman Budaya Jawa Timur. Pertunjukan Wayang ini dibawakan oleh 6 dalang yunior dan senior.

Penyerahan tokoh wayang Gatotkaca oleh Kabid. Kebudayaan Disbudpar Prov. Jatim kepada Ki Tetuko Aji. Foto dok./TBJT

Ke-6 dalang tersebut adalah: 1. Ki Tetuko Aji, 2 Ki Tanoyo, 3. Ki Didik SA., 4. Ki Agung Ndo, 5. Ki Sholeh Adipramono, 6. Ki Rahmad. Para dalang tersebut membawakan gaya baik sabet dan sastra yang masing-masing punya keunikan tersendiri. Tapi semua dalam lingkup gaya Jawa Timuran yang tentunya sangat berbeda dengan wayang Gaya Jawa Tengah (Surakarta, Yogyakarta)

Wayang Jawa Timuran sendiri adalah konvensi pertunjukan wayang Kulit di wilayah Brangwetan artinya di seberang timur daerah aliran Sungai Brantas yang secara geografis mengacu pada wilayah pusat pemerintahan Majapahit tempo dulu. Daerah yang dimaksudkan adalah Kabupaten Lamongan, Mojokerto, Jombang, Gresik, Surabaya , eks karesidenan Malang (Malang, Pasuruan, Probolinggo dan Lumajang). Istilah Jawa Timuran ini diperkirakan muncul sesudah tahun 1965 dan semakin populer sekitar tahun 1970 –an seiring dengan didirikannya Pendidikan Formal Sekolah Karawitan Konservatori Surabaya.

Penyerahan gunungan oleh PLT. Kepala Taman Budaya Jatim kepada Ki Agung Ndo. Foto dok./TBJT

Tentang istilah yang digunakan untuk menyebut seni pedalangan atau pewayangan di Jawa Timur, sebenarnya di Surabaya khususnya, telah memiliki istilah yang telah lama popular yaitu dengan penyebutan Wayang Jekdong suatu istilah yang bersumber dari bunyi kepyak (jeg) yang berpadu dengan bunyi kendhang bersama Gong Gedhe (dong). Ada lagi yang menyebut Wayang Dakdong bunyi kendhang dengan bunyi gong besar, yang terjadi ketika sang dalang melakukan kabrukan tangan (berantem) di awal adegan perangan. Namun istilah tersebut tak bisa  merata di seluruh kawasan etnis Jawa Timuran (di luar kota Surabaya) karena sebutan tadi timbul bukan dari para seniman dalang itu sendiri tapi dimungkinkan istilah lama itu timbul dari suara penonton, konon istilah ini dilansir oleh dalang terkenal Ki Nartosabdo.

Adegan Pembuka oleh Ki Tetuko Aji.
Foto dok./TBJT

Acara Pergelaran Wayang Kulit Jawa Timuran diawali dengan penyerahan Gunungan kepada 6 dalang oleh PLT. Kepala Taman Budaya Provinsi Jawa Timur Drs. Edi Iriyanto MM. dan Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Prov. Jatim Drs. Handoyo M.Pd. Tidak ada seremonial khusus pada pergelaran kali ini, karena pergelaran ini memang semacam puncak dari rentetan kerja PARIJATI sejak berdiri satu tahun yang lalu, dalam arti sejak berdirinya sudah ada kegiatan diantaranya penggalian gending iringan Jawa Timuran, teknik sabet, antawacana gaya Jawa Timuran, dll. yang dilakukan di beberapa tempat atau rumah para dalang senior yang dianggap sesepuh. Dan puncaknya adalah Pergelaran di Pendapa Jayengrana Taman Budaya Jawa Timur senin, 08/07/2019.

Acara yang sederhana ini ternyata mampu mengundang jumlah penonton terutama penggemar wayang Jawa Timuran yang lumayan besar. Kursi yang disediakan terisi penuh, bahkan banyak penonton yang duduk lesehan di lantai pendopo dan sekitarnya. Wayang Jawa Timuran memang memiliki banyak penggemar di Surabya dan sekitarnya. Dengan publikasi yang sederhana (melalui media sosial)pun ternyata mampu mengundangg penonton yang banyak.

Para pesinden. Foto dok./TBJT

Kahyangan Kembar adalah lakon carangan khas Jawa Timuran yang tidak ada di Wayang gaya Jawa Tengahan, Berkisah tentang tindakan dan perbuatan seorang Dewa (Betara Guru) yang tidak sesuai antara ucapan dan kebijakannya terhadap tokoh muda Pandawa yakni Gatotkaca. Janji kemulyaan yang diberikan kepada Gatotkaca oleh Betara Guru tenyata hanya sekedar ucapan, janji hanya sekedar janji, sehingga membuat Gatotkaca murka dan membuat Kahyangan Tandingan sebagai tindakan atas kemunafikan seorang Dewa yang seharusnya perilakunya adalah sebagai contoh para penduduk Marcapada. (san)

Sanjoto Prijo Djatmiko

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.