Harmoni, Keselarasan Hidup Dalam Bingkai Pameran Seni Rupa Jawa Timur 2019

PLT Kepala Taman Budaya meninjau pameran dipandu oleh kurator. Foto dok./TBJT.

Kehidupan berbangsa dan bernegara pada akhir-akhir ini terasa ada kesenjangan dikarenakan situasi politik kehidupan sehari-hari yang pada awalnya teduh dan damai tiba-tiba terasa mengalami goncangan sehingga berpotensi terjadi desintegrasi. Apalagi didukung adanya berita-berita yang berseliweran di dunia maya yang belum tentu bisa dipertanggung jawabkan kebenaran informasinya. Masyarakat terkadang dengan sangat mudah terprovokasi dan hanyut dalam emosi yang tidak terkontrol.

Kehidupan terasa tidak seimbang atau selaras dengan lingkungan dan alam semesta. Dengan dilatarbelakangi gambaran situasi tersebut. Dibutuhkan harmoni dalam kehidupan sehari-hari atau dalam bidang seni. Unsur yang berbeda-beda bisa menjadi kekuatan untuk membangun tujuan luhur menciptakan kehidupan yang harmonis baik dalam lingkungan keluarga, sosial dan negara.

Kekuatan untuk menuju bangsa dan negara yang kuat makmur dan sejahtera harus juga didukung oleh gerak dan aksi. Dalam seni rupa gerak dan aksi para pelukis untuk menyelaraskan dengan fenomena sosial yang terjadi dilakukan pameran sebagai refleksi gambaran tentang corak, gagasan yang berbeda-beda dan beragam tapi tetap bersatu dalam kebersamaan. Harmoni atau keserasian adalah timbul dengan adanya kesamaan, kesesuaian dan tidak adanya pertentangan. Dalam seni rupa prinsip keselarasan dapat dibuat dengan cara menata unsur-unsur yang mungkin sama, sesuai dan tidak ada yang berbeda secara mencolok.

Pemberian piagam penghargaan oleh PLT Kepala Taman Budaya kepada para perupa yang telah mengikuti pameran dan juga kepada kurator. Foto dok./TBJT.

“Harmoni atau selaras merupakan paduan unsur-unsur yang berbeda dekat. Jika unsur-unsur estetika dipadu secara berdampingan maka akan timbul kombinasi tertentu dan timbul keserasian/harmoni” (Dharsono Sony Kartika: 2004). Demikian pemaparan makna filosofis tema Harmoni yang disampaikan oleh Agus Kucink, pelukis dan penulis seni rupa muda berbakat yang ditunjuk oleh Taman Budaya Jawa Timur sebagai kurator dalam perhelatan Pameran Seni Rupa Jawa Timur 2019, yang berlangsung mulai 22-26 Juni 2019 bertempat di Galeri Prabangkara Taman Budaya Jawa Timur.

Pameran diikuti oleh 20 orang perupa yang berasal dari Jawa Timur dengan mengusung berbagai aliran pada seni lukis seperti realis, abstrak, ekspresif, dekoratif dll. ke-20 perupa tersebut diantaranya:

  1. Agung Aji Sasongko, Kediri, karya: – Cupang 1, Acrylic on canvas 100×100 cm; – Cupang 2, Acrylic on canvas, 100×100 cm.
  2. M. Akhyak, Kediri, karya: – Gembok & kunci, Acrylic on canvas, 100×120 cm; – Cengek, Acrylic on canvas, 100×120 cm.
  3. Arfandi, Malang, karya: – Sendiko Dawuh, Media tikar dan cat minyak, 110×75 cm; – Keseimbangan, Media tikar dan cat minyak, 120×120 cm.
  4. Andiek Eko S., Sidoarjo, karya: – my bike, Acrylic on canvas, 100×100 cm; – top speedy, Acrylic on canvas, 100×100 cm.
  5. Basuki Ratna Kurniawan, Madiun, karya: – Kasih sayang tiada batas, Mixed media, 100×90 cm; – Menunggu ayah pulang, Mixed media, 100×90 cm.
  6. Subeki, Gresik, karya: – Damai, Acrylic on canvas, 135×135 cm; Simbiosis, Acrylic on canvas, 135×135 cm.
  7. Camil Hadi, Lamongan, karya: – Indonesia Kaya 1, Acrylic on canvas, 140×110 cm; – Indonesia Kaya 2, Acrylic on canvas, 140×110 cm.
  8. Eddy Kuas/Edi Santoso, Sidoarjo, karya: – The Legends, Acrylic on canvas, 120×100 cm; – Old Boxer Engine, Acrylic on canvas, 120×100 cm.
  9. Handoko Sumahan, Bojonegoro, karya: – Perempuan Desa, Acrylic on kanvas, 119×145 cm; – Pengampunan, Acrylic on kanvas, 120×120 cm.
  10. Mg. Kirman, Batu, karya: – Spirit of Rose, Oil on canvas, 70×70 cm; –Mawar Sharon, Oil on canvas, 135×135 cm.
  11. Loyong Budi Harjo, Gresik, karya: – The Spreader Lies, Oil on kanvas, 100×100 cm; – Kabar Burung, Oil on canvas, 98×118 cm.
  12. Luqman Hidayat, Surabaya, karya: – KH. Hasyim Asyari, Acrylic on canvas, 135×135 cm; – KH. Wahab Hasbullah, Acrylic on canvas, 135×135 cm.
  13. Nurali, Tulungagung, karya: – Golden Smaile, Arylic on canvas, 180×150 cm; – Menuju Indonesia Bersatu, Acrylic on canvas, 180×150 cm.
  14. Rezzo Masduki, Tuban, karya: – Gesang/Hidup, Acrylic on canvas, 150×150 cm; – Rejane Jaman, Acrylic on canvas, 100×100 cm.
  15. Sugiyo, Tulungagung, karya: – Happu Family; – Eplore.
  16. Agung Irawan, Malang, karya: – Tatapan 1, Soft pastel on canvas, 140×160 cm.
  17. Tamar Tasareh, Sumenep, karya: – Bukan Sekedar Gembala, Acrylic on canvas, 110×120 cm; – Khairil Si Penyair Itu, Acrylic on canvas, 100×110 cm.
  18. Triyoso Yusuf, Surabaya, karya: – Java Jazz 1, Acrylic on canvas, 100×80 cm; – Java Jazz 2, Acrylic on canvas, 100×80 cm.
  19. Ferizal, Nganjuk, karya: – Perjalanan Bersama Kawan, Batik tulis di atas kain katun, 200×117 cm; – Memori, Acrylic di atas gitar kayu.
  20. Wadji Iwak, Sidoarjo, karya: – Kebersamaan Dalam Satu Tujuan, Acrylic on canvas, 100×100 cm; – Ikanku, Acrylic on canvas, 100×100 cm.
Ramainya para pengunjung yang mengapresiasi pameran. Foto dok./TBJT.

Acara dibuka oleh PLT Kepala Taman Budaya Jawa Timur, Drs. Edi Iriyanto, MM. dengan ditandai penanda tanganan pada kanvas serta pengguntingan untaian bunga pada depan pintu masuk Galeri Prabangkara. Sebelumnya sambil menunggu prosesi pembukaan berlangsung pengunjung dihibur dengan sajian pergelaran reog dari Surabaya dan Band dari SMAN 9 Surabaya. Antusiasme para pengunjung demikian tinggi untuk mengapresiasi pameran ini, terbukti dengan tidak cukupnya kursi tempat duduk serta penuh sesaknya para pengunjung dalam ruang pameran. Para pengunjung datang dari berbagai kalangan mulai pelajar, mahasiswa, seniman rupa, pemerhati seni maupun kolektor.

Melalui pameran ini diharapkan akan muncul sebuah apresiasi dari para pengunjung pameran yang akan membuat mereka termotivasi atau terdorong untuk menciptakan karya seni khususnya bagi para milenial yang hadir. Sedangkan apresiasi dari masyarakat awam, setelah menyaksikan pameran ini diharapkan dapat menghayati, memahami dan menilai serta menghargai suatu karya seni (lukisan). Dan diharapkan pula pameran seni rupa ini dilihat sebagai salah satu sektor yang menarik bagi para kolektor seni sehingga mereka tertarik dan pada akhirnya membeli karya para perupa peserta pameran, karena bagi para kolektor lukisan selain memiliki nilai budaya (menjadi patron), juga punya nilai ekonomi (investasi). (san)

Sanjoto Prijo Djatmiko

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.