MANAJEMEN PEMANGGUNGAN LUDRUK

Oleh Autar Abdillah

I

Manajemen Pemanggungan Ludruk sudah berlangsung lama. Manajemen pemanggungan selama ini hanya menjadi tanggungjawab dari pemimpin/juragan atau oleh seseorang yang dipercayakan, kemudian disebut Sutradara. Sutradara adalah pemimpin juga, tetapi peran-perannya sebagai pengatur pengadeganan dengan penguasaan terhadap cerita/lakon sangat tinggi, dan di masa depan semakin dibutuhkan. Karena, publik semakin memiliki banyak objek-objek visual yang tumbuh disekitarnya, terutama dari media sosial dan media internet.

Pada masa awal keberadaan Ludruk ada tiga tipologi manajemen pemanggungan. Pertama, Ludruk mengutamakan kesinambungan “perasaan” publiknya dengan mengeksplorasi adegan-adegan yang mendorong terjadinya interaksi tingkat tinggi, seperti saling berkomunikasi dan turut mendorong emosi publik. Pada tingkat ini, “orang miskin” bicara tentang kehidupan sebagai “Orang Kaya” yang diimpikannya. Kedua, Nasionalisme yang menguat mendorong Ludruk membawa isu-isu kebudayaan lokal. Dengan demikian, Ludruk membawa narasi kesejarahan lokal dan perjuangan rakyat dalam kerangka budayanya, yakni budaya Jawa Arek untuk Ludruk. Pada tingkat ini, perdebatan metode teater Barat dengan keberadaan Akademi Teater nasional sedang berlangsung. Ketiga, bersandingan dengan drama modern, maka Ludruk membawa genture masyarakat kota dan teknik pemanggungan yang mendorong realisme Barat/Eropa.Secara kualiatif, Ludruk memasuki wilayah teater modern dengan teknik-teknik realisnya. Meskipun dalam penyebutannya berada dalam kerangka teater tradisional. Teknik-teknik pemanggungan modern digunakan dalam Ludruk. Hampir tidak ada perbedaan antara teater tradisional dengan teater modern. Pada tingkat ini pula Ludruk menjadi teater yang berjarak sekaligus menyatu dengan penontonnya.

Ludruk Karya Budaya Mojokerto pada pementasan tanggal 22 Juni 2019 di Gedung Kesenian Cak Durasim dengan Lakon : “Suminten Edan”. Foto dok./TBJT.

Lalu, bagaimana saat ini? Apakah spontanitas Ludruk harus “diakhiri”? Apakah manajemen pengadeganan/ pemanggungan suatu kebutuhan?

II

Kepercayaan terhadap pentingnya nguribudoyo bagi masyarakat (penanggap dan publik) masih cukup tinggi, setidaknya secara keseluruhan masih 40% mempercayai Ludruk sebagai kebutuhan dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan (lokusnya 75% berada di pinggiran kota yang industrial, dan di pedesaan yang agraris). Dengan demikian, manajemen pengadeganan yang berorientasi pada eksplorasi budayanya masih penting dan tak bisa dilepaskan dari Ludruk sebagai teater tradisional maupun teater rakyat. Selain nguri budoyo, masyarakat memandang bahwa Ludruk merupakan pertunjukan transisional dari dunia kebudayaannya ke dunia sehari-hari. Dunia sehari-hari adalah narasi global yang bersentuhan langsung dengan imajinasi kekinian. Tantangan terbesarnya adalah pembangunan genture yang melewati masa sejarahnya.

Pembangunan Ludruk, meminjam istilah Banet dan Schargorodsky (2018:22) tentang teater berada “dalam model dan strategi artistik dan komersial yang berbeda”. Namun, model dan strategi artistik sangat penting dalam menunjang model dan strategi komersialnya. Lehner (2009:197) memandang bahwa “…pilihan penonton dan aktor yang memenuhi kriteria artistik saja tidak cukup”. Pada gambar berikut, pembicaraan manajemen pemanggungan lebih pada sisi kanan atau sisi publiknya, meskipun sisi kanan, yakni wilayah pasar Ludruk tak dapat dipisahkan, seperti inovasi teknologi. Pada faktor kondisi yang mendasar, Ludruk berbeda dengan era Cak Durasim, karena perlawanan terhadap penjajahan tidak bisa disetarakan dengan perlawanan terhadap pemerintah. Budaya politik yang dibangunnya bukan pula seperti era Orde baru yang semata-mata menerima begitu saja kenyataan sosial maupun politik masyarakat. Pada Dinas Kominfo terdapat program pertunjukan rakyat yang memang bertujuan untuk memberikan pemahaman pada masyarakat tentang pembangunan dan memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk melakukan kritik yang sejalan dengan kebutuhan pembangunan.

Pada tingkat struktur pertunjukan, cultural action menjadi penting dalam membangun struktur. Dalam beberapa pertunjukan Ludruk, terkadang terjebak pada aspek yang membuat Ludruk tidak terkoneksi secara kultural. Masuknya budaya baru bukan berarti Ludruk melepaskan budaya pembentuknya, yaitu budaya Jawa Arek. Untuk itu, strategi dalam membangunnya adalah tetap memnempatkan khazanah Ludruk pada porsinya yang membawa “irama dan warna” Ludruk pada irama dan warna kebudayaannya. Meskipun terdapat instrumentasi yang bersifat extra performance, namun tetap menjadi bagian dalam kehidupan budaya Ludruk. Untuk itu, seperti diungkapkan Banet dan Schargorodsky, empat aspek penting yang tak bisa dipisahkan adalah  pengakuan sosial dan politik (terhadap budaya dalam Ludruk), persembahan maupun perujudan budaya lokal, partisipasi dan konsumsi budaya yang tumbuh disekitarya, dan penganekaragam yang memberikan benefit pada kehidupan budaya, misalnya menjadikan hibriditas budaya sebagai penguatan dalam Ludruk, bukan sebagai ancaman maupun perusak bagi keberlangsungan Ludruk.

Gambar 1: Sumber: Bannet and Villaroya (2008, dalam Bannet dan Schargorodsky (2018:43)

Selain penggambaran faktor penerapan model pertunjukan, Banet dan Schargorodsky juga menggambarkan sistem seni pertunjukan dalam manajemen pemanggungan. Dalam gambar di bawah ini, pada bagian paling bawah dapat dijelaskan bahwa diperlukan pelatihan yang profesional agar memunculkan seniman-seniman yang memiliki kemampuan secara teknis. Kemampuan secara teknis diperlukan karena Ludruk memiliki kekhasan yang tak bisa dipisahkan dengan karakteristik pertunjukannya, seperti Remo, Jula Juli maupun tampilan Bedayan dan lakon. Di samping itu, juga diperlukan sistem pendidikan yang dapat memberikan pemahaman maupun kemampuan menyaksikan pertunjukan Ludruk terhadap para penonton. Penonton atau publik juga memerlukan kapasitas memahami karakter Ludruk. Publik, khususnya penanggap memiliki kesadaran juga terhadap pentingnya Ludruk dalam kehidupan bersamanya secara kultural dan sosial.

Gambar 2: Sistem Seni Pertunjukan Bannet dan Scchargorodsky (2018:45)

Pada bagian berikut (gambar 3-4) terdapat skema yang lebih spesifik untuk manajemen pertunjukan secara menyeluruh yang didalamnya terdapat manajemen pemanggungan. Unsur-unsur yang terlibat dalam suatu pertunjukan

Gambar : Sanders (2018:3)

Gambar 4: Sanders (2018:3)

Unsur-unsur yang sangat kompleks ini dapat diringkas menjadi Tim Kreatif Produksi dalam manajemen pemanggungan, yakni Sutradara, Desainer untuk tata artistik, koreografer dan penata Karawitan atau untuk lebih lengkap dapat mencakup Director, Stage Manager, Scenic Designer, Costume Designer, Light Designer, Sound Designers, Technical Director, Props Master, Production Manager, dan Music Director.

Tim kreatif adalah orang-orang yang melakukan seluruh aktivitas pemanggungan agar memiliki struktur yang jelas dan tujuan yang dapat dijalankan bersama. Tim Kreatif membuka berbagai kemungkinan dan perspektif pertunjukan yang dibutuhkan sesuai dengan tempat pertunjukan, keinginan penanggapnya, dan situasi yang aktual dan berkembang saat pertunjukan dilangsungkan.

Panggung adalah suatu ruang yang memiliki daya magisnya. Panggung memiliki pancaran yang dapat membuat seorang pemain maupun peralatan yang diletakkan diatasnya menjadi hidup maupun mati. Tidak semua manusia yang hidup, jika berdiri diatas panggung tetap menjadi hidup. Dia dapat mematikan seluruh keadaan maupun keberadaan panggung. Di sinilah peran tim kreatif. Tim Kreatif memiliki penjadwalan yang dapat mengatur seluruh komponen pertunjukan. Secara sederhana, tim kreatif bekerja setiap saat. Tidak hanya pada saat sebelum pertunjukan, tetapi juga paska pertunjukan, tim kreatif memberikan evaluasi kepada seluruh pelaku pertunjukan. Tim kreatif adalah penjaga marwah pertunjukan. Selama ini, tim kreatif hampir tidak mendapat tempat pada pertunjukan Ludruk karena pertunjukan dianggap sebagai suatu kebiasaan dan rutinitas  yang telah menjadi suatu yang biasa. Banyak pelaku Ludruk tidak melakukan kajian ulang pada pertunjukan yang baru saja berlangsung maupun persiapan yang akan dilakukannya. Namun, masih ada beberapa kelompok Ludruk yang sudah menyiapkan tim kreatif yang menunjang pasar Ludruk di masa depan.

III

Manajemen pemanggungan Ludruk adalah pemenuhan keseluruhan dari kebutuhan pertunjukan Ludruk yang berdampak secara ekonomi, teknik maupun kultural. Manajemen pemanggungan adalah pemenuhan hasrat kebutuhan masyarakat maupun penanggap Ludruk untuk mendapatkan pertunjukan yang berkualitas. Untuk itu, semua seniman Ludruk memiliki kewajiban dalam meningkatkan kemampuannya. Tidak ada lagi pernyataan “iku ora urusanku”. Karena, ketika Ludruk ditampilkan, semua pelaku Ludruk memiliki tanggungjawab yang sama. Masa depan Ludruk terletak pada semua seniman Ludruk.

Gambar 5: Salah satu bentuk manajemen pemanggungan dengan varian ruang

Daftar Pustaka

Bonet., Lluis and Hector Schargorodsky, 2018, Theatre Management: Models and Strategies for Cultural Venues, Kuunskapverket: Ervelum Norway.

Jenny Nichols, tt, Stage Management Workshop, UIL Staff jnichols@uiltexas.org.

Lehner., Johannes M, 2009, “The staging model: The contribution of classical theatre directorsto project management in development contexts”, International Journal of Project Management 27 (2009) 195–205.

Russel., Bryan, 2013, “Stage Managers Don’t Make Coffee Anymore”, Thesis di Texas State University-San Marcos.

Sanders., Tal, 2018, An Introduction of Technical Theatre, Oregon AS: Talatin Books.

-Makalah di sampaikan dalam “Sarasehan Seniman Ludruk” di Taman Budaya Jawa Timur, 24 September 2019

-Dr. Autar Abdillah, S.Sn., M.Si, Dosen Drama pada Jurusan SENDRATASIK FBS UNESA, menulis Disertasi tentang “Diskursus Budaya Jawa Arek dan Jawa Mataram dalam Ludruk Karya Budaya Mojokerto”.


Sanjoto Prijo Djatmiko

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.