Pergelaran

Mengupas Sunyi dan Luka di Balik “Samaleak”

Gedung Kesenian Cak Durasim pada Sabtu, 11 Juli 2026 menyuguhkan suasana lain dari biasanya. Hampir 100 persen kursi penonton yang memadati gedung berasal dari kalangan muda millennial. Kapasitas Gedung yang 412 dan ada penambahan 50 penonton lesehan di depan panggung, tetap saja belum bisa sepenuhnya menampung seluruh penonton yang hadir. Pada akhirnya Pendapa Jayengrana menjadi tontonan alternatif melalui tanyangan video yang disiarkan langsung dari Gedung Cak Durasim.

Mery dipaksa untuk menghadapi luka yang selama ini ia pendam, konflik mencapai puncak ketika ia harus memilih tetap bersembunyi di balik topeng kepatuhan, atau menghancurkan ilusi damai yang semu (Foto dok. TBJT)

Pergelaran yang disajikan pada malam itu adalah penampilan kedua dari enam grup yang lolos seleksi melalui Menejemen Talenta Teater 2026 yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Jatim beberapa waktu lalu. Grup yang tampil pada penampilan kedua kali ini adalah Teater Wilwatikta Surabaya. Disutradarai oleh Mustaghfirin Nazhmi, sementara naskah yang dibawakan berjudul “Samaleak” karya Deni Tri Aryanti.

Di tengah maraknya naskah teater yang bertumpu pada narasi heroik atau romantisme klise, Samaleak karya Deni Tri Aryanti hadir bagai pisau kecil yang diam-diam menyayat. Naskah ini tidak menawarkan teriakan lantang, melainkan sunyi yang bergema yang menggambarkan pergulatan batin seorang Perempuan Bernama Mery yang terperangkap dalam lingkaran trauma dan pencarian jati diri.

Warung remang-remang di kawasan Samaleak yang menjanjikan kesenangan sesaat (Foto dok. TBJT)

Samaleak adalah nama sebuah kawasan warung remang-remang yang menjadi lokasi rumah bordil terselubung. Tokoh sentral dalam naskah ini, adalah perempuan yang hidup dalam bayang-bayang yang kelam. Ia bergulat dengan ingatan yang tercabik, relasi yang retak, dan realitas sosial yang kerap menghakimi akibat kemiskinan keluarga yang tidak mampu membiayainya sekolah di SMA hingga membuatnya memasuki dunia pelacuran. Melalui serangkaian pertemuan dengan tokoh-tokoh di sekitarnya entah itu figur keluarga, kekasih, atau bayangan dirinya sendiri, Mery dipaksa untuk menghadapi luka yang selama ini ia pendam. Konflik mencapai puncak ketika ia harus memilih tetap bersembunyi di balik topeng kepatuhan, atau menghancurkan ilusi damai yang semu.

Kekuatan utama naskah ini terletak pada pendalaman psikologis tokohnya. Samaleak bukan sekadar korban, ia kompleks, penuh kontradiksi kadang kuat, kadang begitu rapuh. Deni Tri Aryanti dengan piawai menjadikan tubuh dan ingatan sebagai medan perang. Tema trauma, kekerasan simbolik, dan pembungkaman perempuan diurai tanpa menggurui. Yang menarik, “kejahatan” dalam naskah ini jarang hadir secara fisik, melainkan merayap dalam bahasa sehari-hari, dalam gestur, dalam hal-hal yang tak terucap, mirip racun yang bekerja perlahan. Dibawakan dengan konsep ludrukan dengan Bahasa Jawa Arek yang kental membuat para penonton mudah memahami makna tiap adegan.

Adegan Komedi yang disisipkan pada beberapa adegan mampu mengendorkan emosi penonton yang meninggi untuk tertawa lepas (Foto dok. TBJT)

Deni menggunakan bahasa yang sederhana namun tetap membumi. Dialog-dialognya pendek, padat, sering kali repetitif, menciptakan ritme seperti detak jantung yang cemas. Struktur naskahnya non-linear, melompat antara masa kini, masa lalu, dan alam bawah sadar. Teknik ini efektif membangun suasana labirin membuat pembaca penonton turut merasakan disorientasi yang dialami Mery tokoh utama dalam naskah Samaleak.

Kelebihan yang ditonjolkan dalam naskah ini diantaranya adalah:

1. Perspektif yang intim: Naskah ini berhasil menghadirkan suara subjektif perempuan tanpa terjebak pada melodrama murahan. 2. Kaya akan simbol: Replika warung remang-remang plus Gambaran kamar-kamar mesum bukan sekadar hiasan, melainkan metafora yang memperkaya lapis makna. 3. Ruang interpretasi luas: Deni tidak menyuapi penonton dengan jawaban mutlak. Akhir naskah yang menggantung membuka kemungkinan beragam tafsir, sesuai pengalaman pribadi masing-masing orang.

Foto bersama seluruh pemain dan crew pertunjukan dengan Kepala UPT. Taman BUdaya Jatim Deddy Hariyono, S.E. (Foto dok. TBJT)

Samaleak menjadi naskah yang relevan di era meningkatnya kesadaran akan isu kesehatan mental dan kekerasan berbasis gender. Ia tidak menawarkan hiburan ringan, melainkan sebuah pengalaman katarsis yang mengajak siapa saja menyelami lorong-lorong sunyi yang sering diabaikan. Bagi kelompok teater yang mencari naskah dengan peran perempuan kuat, eksplorasi tata artistik simbolis, dan kedalaman psikologis, Samaleak adalah pilihan yang menantang sekaligus menawan. Naskah ini adalah bukti bahwa luka tak harus selalu disembunyikan, tapi kadang juga perlu dipentaskan agar bisa dikenali dan pelan-pelan, dilepaskan. (pr)

Seksi Dokumentasi Publikasi

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses