Pergelaran

Pendekar Wringin Kembar

Pergelaran Periodik Ludruk di Taman Budaya Jawa Timur, sebagai penampil terakhir di bulan Desember diisi oleh grup Ludruk Karya Baru dari Kabupaten Mojokerto. Ludruk Karya Baru pimpinan Mulyono ini menjalankan aktifitas sehari-hari dengan markas di Desa Mlaten Kecamatan Puri Kabupaten Mojokerto. Tampil di Gedung Kesenian Cak Durasim pada Sabtu, 3 Desember 2022 mulai pukul 20.00 wib. Antusiasme penonton untuk menyaksikan penampilan Ludruk Karya Baru sangat luar biasa, kursi yang tersedia di Gedung Cak Durasim penuh terisi. Bahkan siaran video yang ditayangkan secara langsung melalui channel Youtube Cak Durasim yang secara langsung pula disiarkan di Pendapa Jayengrana full penonton. Kursi yang disediakan di Pendapa penuh terisi, yang tidak kebagian memilih duduk di lantai Pendapa Jayengrana.

Wiroguno murid berandalan yang durhaka pada guru (Foto dok. TBJT)

Seperti sudah menjadi tradisi dalam setiap pergelaran yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Jawa Timur, bahwa pergelaran ludruk selalu dipadati oleh penonton. Hal ini menunjukkan indikasi bahwa sudah dahulu masyarakat Surabaya dan sekitarnya sangat menyukai seni pertunjukan tradisional produk asli masyarakat budaya arek ini. Rating jumlah penonton dari semua pergelaran yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Jawa Timur hampir selalu didominasi oleh kesenian ini. Ludruk sangat digemari karena cerita yang dibawakan menghibur dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Baik cerita dengan setting sejarah/legenda atau cerita yang bersetting modern, masyarakat selalu menyukai. Tak terkecuali Ludruk Karya Baru Mojokerto yang tampil di urutan terakhir sebagaimana tercantum dalam kalender acara pergelaran tahun 2022 yang diselenggarakan oleh Taman Budaya.

Keunikan Ludruk Karya Baru yang jarang dimiliki oleh ludruk-ludruk yang berkembang di Jawa Timur adalah tidak melibatkan pemain transgender dalam setiap pementasannya. Hampir semua aktornya dimainkan oleh pemain laki-laki dan perempuan tulen. Agak sedikit berbeda dengan kebanyakan ludruk di Jawa Timur yang biasanya melibatkan pemain transgender sebagai daya tarik. Namun walau tak ada transgender dalam setiap pementasannya tak mengurangi minat masyarakat untuk mengapresiasinya, dibuktikan dengan penuhnya penonton baik di gedung Cak Durasim maupun siaran video di Pendapa Jayengrana Taman Budaya Jawa Timur.

Lakon yang dipentaskan pada pergelaran ini adalah “Pendekar Wringin Kembar”, cerita bersetting legenda tentang sepak terjang sosok jagoan bernama Wiroguno. Adegan awal pertunjukan dimulai dengan bedhayan yang diperankan oleh delapan perempuan tulen berbaju dan berkerudung merah yang melantunkan tembang-tembang pembuka khas pertunjukan ludruk. Kebanyakan grup ludruk di Jawa Timur selalu memasang formasi bedhayan dengan barisan transgender atau campuran antara perempuan tulen dan transgender, namun tidak dengan Ludruk Karya Baru Mojokerto ini, semua pemain bedhayannya perempuan asli yang masih muda-muda.

Adegan selanjutnya tari remo gaya perempuan yang dibawakan oleh tiga orang penari perempuan yang sudah tua untuk ukuran penari remo ludruk pada umumnya. Inilah sisi lain keunikan Ludruk Karya Baru yang justru jarang ditemui pada pertunjukan ludruk lainnya. Walaupun fisik sudah tua, tapi memiliki kemampuan hebat dan tidak kalah dengan penari remo yang masih muda. Secara performa mungkin kurang menarik namun ada sisi lain yang unik dan menakjubkan pada penampilan ketiga penari remo itu. Selesai tari remo dilanjutkan dengan dagelan atau lawakan. Sosok Agus Kuprit sebagai salah satu pelawak senior yang sudah malang melintang di dunia seni pertunjukan ludruk menjadi magnet tersendiri yang mampu menarik penonton.

Istri Wiroguno yang mengandung anaknya ketika ditinggal berguru ke Padepokan Wingin Kembar diusirnya dari rumah karena dituduh telah berbuat serong (Foto dok. TBJT)

Lakon Pendekar Wringin Kembar mengisahkan tentang perjalanan tiga orang murid padepokan Wringin Kembar yang menjalani kisah hidup berbeda setelah selesai menempuh ilmu dari padepokan. Murid tertua Wiroguno berwatak keras dan berangasan, murid kedua Harjono halus wataknya dan yang ketiga Wiratno seorang murid yang taat pada guru. Sebelum para murid membaur kembali ke tengah masyarakat karena telah menyelesaikan pelajaran ilmu kanuragan dan kebatinan, para murid diberi pusaka oleh guru mereka. Harjono mendapat pusaka Songgobumi, Wiratno mendapat pusaka Sapujagad sementara Wiroguno sebagai murid tertua ditangguhkan pemberian pusaka Purbosejati yang seharusnya menjadi miliknya.

Penangguhan itu dilakukan karena Wiroguno masih belum bisa mengendalikan emosi dan amarah yang ada dalam jiwanya. Sangat berbahaya bila pusaka Purbosejati dipegang oleh seorang yang belum bisa mengendalikan emosi dan amarahnya karena perbawa pusaka itu yang sakti. Namun Wiroguno tetap memaksa meminta pusaka itu pada gurunya sebelum pulang kembali ke keluarganya. Sang guru tetap menolak sehingga guru yang sangat dihormati di padepokan itu dihajar oleh Wiroguno.

Mengetahui gurunya dihajar oleh kakak seperguruan Wiratno sebagai guru termuda tidak terima, kemudian terjadi adu kesaktian diantara mereka. Saling merubah wujud menjadi binatang diantara mereka, Wiroguno berubah menjadi kera dan Wiratno berubah menjadi harimau. Wiroguno kalah kemudian merubah wujudnya menjadi naga untuk menandingi kesaktian Wiratno. Wiratno kemudian mengeluarkan pusaka Sapujagad untuk menangkis serangan naga raksasa perwujudan dari Wiroguno. Namun dicegah oleh Harjono karena kuatir Naga perwujudan Wiroguno tersebut hancur lebur terkena daya sakti pusaka Sapujagad milik Wiratno. Harjono punya cara sendiri untuk mengalahkan Nga perwujudan Wiroguno, dengan semedi akhirnya naga berwujud kembali menjadi Wiroguno, merasa kalah kemudian Wiroguno melarikan diri.

Ketika berguru Harjono dan Wiroguno sudah beristri, sementara Wiratno masih membujang. Harjono setelah sampai di tempat tinggalnya mendapati istrinya telah meninggal dunia ketika melahirkan bayi perempuan yang kemudian diberinya nama Rahayu. Sementara Wiroguno ketika sampai di rumahnya mendapati istrinya hamil menjadi marah karena menuduh istrinya telah serong, kemudian diusir dari rumah. Istri Wiroguno kemudian diusir dan terlunta-lunta hingga melahirkan dan ditolong penduduk kampung yang baik hati. Kemudian lahirlah anak laki-laki yang diberi nama Joko Slamet oleh Pak Mukri orang yang telah menolongnya.

Wiroguno akhirnya sadar akan kesalahannya setelah menggoda Rahayu kekasih Joko Slamet anaknya sendiri kemudian terjadi pertarungan dan kalah (Foto dok. TBTB)

Seiring berjalannya waktu Harjono akhirnya menjadi orang kaya dan menikah lagi dengan seorang janda beranak satu perempuan. Sementara Wiroguno menjadi seorang jagoan sekaligus preman yang selalu membuat resah masyarakat. Rahayu anak Harjono tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dibawah asuhan ibu tiri yang kejam. Ketika disuruh ke pasar oleh ibu tirinya Rahayu digoda oleh dua orang preman kemudian ditolong oleh Joko Slamet. Joko Slamet jatuh cinta dengan Rahayu namun upaya itu dihalang-halangi oleh Haryati saudara tiri Rahayu yang jatuh cinta pada Joko Slamet.

Rahayu difitnah oleh Haryati dihadapan ibu tirinya, dituduh telah bermesraan dengan seorang lelaki sehingga membuat rahayu diusir dari rumah. Ketika Harjono tahu bahwa anak semata wayangnya diusir oleh istri dan anak tirinya kemudian balik mengusir keduanya keluar dari rumah miliknya. Rahayu terlunta-lunta di jalan hingga datang Wiroguno menggodanya. Ketika Wiroguno hendak memperkosa rahayu datanglah Joko Slamet kembali menolong. Wiroguno dihajar habis-habisan oleh Joko Slamet yang tak lain adalah anaknya sendiri.

Kemarahan Joko Slamet kemudian dihalangi oleh ibunya dan menjelaskan bahwa orang yang dihajarnya itu adalah ayahnya sendiri. Joko Slamet menyesal dan meminta maaf pada ayah yang selama ini tidak pernah bertemu dengannya. Pada adegan terakhir kemudian datang Harjono, Wiratno dan Guru mereka  untuk menjodohkan Rahayu dan Joko Slamet sekaligus memberikan pusaka Purbosejati yang lebih layak dipegang olehnya daripada dipegang oleh bapaknya yang berwatak keras. Pada akhirnya Wiroguno sadar akan perbuatan jahatnya selama ini baik kepada guru, keluarga dan masyarakat, Wiroguno meminta maaf atas kesalahannya, adegan selesai. (sn)

Seksi Dokumentasi Publikasi

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.