Ludruk, Tak Hendak Sudah

Oleh : Aris Setiawan

Beberapa kali Eko Edy Susanto, pemimpin Ludruk Karya Budaya Mojokerto, menyatakan dalam status media sosialnya, bahwa ludruk di Jawa Timur masih eksis dan terus tumbuh. Hanya saja kita, kalangan akademis dan birokrat seni, senantiasa menaruh curiga dengan pernyataan itu, seringkali ditarik dari atas meja penelitian dengan berbekal berita-berita pesimistis tentang nasib hidup ludruk. Mereka tak pernah datang dan melihat langsung ludruk dengan mata kepalanya sendiri. Mereka juga tak hendak melihat dinamika masyarakat kelas akar rumput yang membentengi nasib eksistensi ludruk. Dengan demikian, dunia ilmiah-akademis-intelektual seringkali berjarak dengan realitas. Indikasinya cobalah lihat penelitian ludruk berupa skripsi, tesis bahkan mungkin disertasi yang senantiasa menarik garis demarkasi tentang ludruk sebagai seni pinggiran yang berpamit mati.

Sementara jauh di pelosok desa Mojokerto, Jombang, Gresik dan beberapa daerah lain di Jawa Timur ludruk masih hidup normal bahkan jumlahnya terus bertambah. Sayangnya, kisah membanggakan itu tak terbaca dengan jelas oleh berbagai kalangan, terutama masyarakat di lingkup akademik. Kisah itu kemudian tertutup oleh berbagai timbunan berita kematian ludruk. Mari kita berfikir lebih bijak dalam memandang persoalan ini. Ludruk lantas bukan semata seni pertunjukan rakyat. Ia berpendar menjadi berbagai makna, arti, wacana dan diksi-diksi baru. Hal tersebut (makna, arti, wacana, diksi), terus diproduksi sehingga semakin jauh meninggalkan kodrat ludruk sesungguhnya sebagai seni pertunjukan ansih. Sama seperti kita memperdebatkan apakah karya “Silence” dari John Cage (1952) itu musik atau bukan. Kita kemudian melihat dan mendengar ludruk semata dalam ruang-ruang pewacanaan, imajinasi, gosip, tulisan dan umpatan-umpatan.

Sementara kalangan akademis sibuk memperdebatkan nasib hidup ludruk, membuat, simposium dan seminar tentang strategi memebentengi ludruk dari kepunahan, para pemain dan pelaku ludruk justru sedan sibuk berpentas dan menghibur masyarakat. Sama seperti saat kita berdebat tiada ujung tentang posisi bulan untuk menentukan kapan puasa itu datang, sementara di sisi berbeda negara lain sedang sibuk menginvasi bulan (dan galaksi lain) sebagai tempat tinggal. Kita terlalu sibuk memikirkan nasib ludruk, sampai melupakan tubuh ludruk itu sendiri. Pernyataan Eko Ey Susanto kiranya patut untuk menjadi perenungan. Maklum inormasi yang dinyatakan Eko bukannya tanpa dasar. Dalam berbagai kesempatan ia memberitakan dan sekaligus sebagai saksi tentang bangkit-lahirnya kelompok-kelompok ludurk baru. Ia juga intens mendampingi dan membina generasi muda untuk berludruk.

Ludruk Karya Budaya Kota Mojokerto lakon “Yatimin Yatimun” tampil di Taman Krida Budaya Malang.
Foto Dok./TBJT(29/07/2017)

Persoalannya kemudian, di kala geliat positif itu terus tumbuh, tapi tidak didukung dengan posisi tawar yan ideal dari pemerintah maupun negara. Ruang untuk berludruk bagi generasi muda sangat terbatas. Di lingkungan pendidikan misalnya, hampir semua sekolah memiliki instrumen musik barat (format band) namun tak memiliki gamelan. Teater-teater yang dikembangkan lebih condong menginduk pada gaya teater barat, sementara basis tradisinya ditinggalkan. Dalam banyak kompetisi musik dan teater tingkat sekolah, jarang sekali yang bergenre tradisi seperti karawitan dan ludruk. Anggapan tentang ketradisian yang dinilai kuno dan ketinggalan zaman seringkali dipupuk dan dibesar-besarkan untuk menentukan persepsi atau cara pandang yang cenderung barat. Kita kemudian kembali membicarakannya, mengritiknya, mendebatnya, mendiskusikannya berlarut-larut tapi lupa dengan esensi awal bahwa reenarasi ludruk tidakbutuh semua itu, yang diperlukan hanya fasilitas, ruang, dan pelatihan berkelanjutan.

Ludruk menjadi panggung yang mengisahkan kehidupan manusianya. Kenapa hal itu penting untuk ditekankan? Karena ludruk adalah pemanggungan dari fenomena, realitas, persoalan yan berkembang di masyarakat. Dengan melihat ludruk manusia Jawa Timur merasa kisah dirinya sedang dipentaskan. Dengan seketika hal itu membangun imajinasi bahwa ludruk adalah tolok ukur ideal dalam melihat keadaban manusia di Jawa Timur. Tak berlebihan kiranya jika matinya ludruk berarti mati pula eksistensi masyarakat Jawa Timur secara kultural. Kita sudah sepantasnya bersyukur dan berucap terima kasih kepada para pejuang ludruk seperti Cak Edy Karya (nama panggilan Eko Edy Susanto), yang menjaga denyut ludruk terus berdetak, dan tak lelah menyuarakan tentang eksistensi ludruk tanpa pamrih berlebih.

Surabaya dan Ludruk Periodik

Di Jawa Timur sendiri, khususunya di Taman Budaya Jatim dan Taman Krida Budaya Malang, secara periodik dipentaskan kelompok-kelompok ludruk dari berbagai daerah di Jawa Timur. Sebuah gerakan yang layak untuk diapresiasi.

Hanya saja patut untuk kita pertanyakan berikutnya, apa yangg terjadi setelah ludruk berpentas di Surabaya dan Malang, bagaimana eksistensi setelahnya, apa hal pentin yang dapat dipetik saat pentas di Ibukota Jawa Timur itu?. Pertanyaan-pertanyaan ini yang kiranya patut untuk dijawab dan sekaligus ditindak lanjuti. Maklum, selama ini tidak ada data etnografis yang memotret efek atau akibat dari pemanggungan ludruk di Surabaya dan Malang. Apakah dengan berpentas di Surabaya, kelompok-kelompok ludruk semakin dikenal, bertambah ritme pementasannya, serta semakin kokoh hidup di tengah-tengah masyarakat. Atau sebaliknya, berpentas di Surabaya hanya menjadi oase sesaat yang memberi penyegaran hidup ludruk, namun terpuruk sesudahnya. Adakah hal-hal penting ini dipertimbangkan jua ?.

Ludruk Karya Budaya Kota Mojokerto lakon “Yatimin Yatimun” tampil di Taman Krida Budaya Malang.
Foto Dok./TBJT(29/07/2017)

Tentu menjadi kebanggan sebuah kelompok ludruk diangkat “pamornya” dengan berpentas di sebuah kota metropolis semacam Surabaya. Terlepas dari yang menonton kebanyakan adalah tukang becak dan pedagang asongan, namun wacana yang dibangun cukuplah prestisius. Setidaknya, sekali lagi, ada ruang monitoring dan pantauan ketat tentan apa yang terjadi tentang apa yan terjadi setelah berpentas di gelaran Ludruk Periodik itu. Hal ini mendesak dilakukan untuk menentukan kebijakan road map atau arah kbijakan berikutnya, sehingga pentas Ludruk Periodik tidak semata menjadi agenda penghamburan dana, namun juga alih alih hendak meneruskan dan melestarikan tradisi.

Barangkali diskusi dan perdebatan tentang ludruk telah paripurna diulas dan dibahas dalam berbagai ruang dan forum. Ludruk membuncah dan berpendar dalam konteks wacana namun alpa secara realitas praktiknya. Jangan-jangan tulisan ini pun terlalu berwacana dan tampak apologis, sehingga sekedar meramaikan diskusi tentang ludruk tanpa pernah menyentuh pada tubuh ludruk itu sendiri. Aduuh!! Namun jika anda membacanya hingga tuntas, setidaknya ada satu pesan penting, mari kita sudahi berwacana tentang nasib ludruk, dan ambil jaket anda, persiapkan kopi, nontonlah pertunjukan ludruk terdekat dari rumah anda.

Atau saat membaca artikel ini anda sedang memiliki rezeki berlebih, segera hubungi kelompok ludruk idola untuk berpentas di rumah menghibur tetangga sekitar. Sementara bagi kaum birokrat dan pengambil kebijakan di pemerintahan, jangan berlarut dalam wacana, segera fasilitasi dan berilah ruang bagi generasi muda berludruk. Dan terakhir, untuk orum Ludruk Periodik di Surabaya. pertanyaan-pertanyaan diatas kiranya patut untuk dipertimbangkan. Saran-saran terakhiritu harus saya utarakan agar artikel ini tak membeku sekedar wacana dan gagasan tanpa ujung. Naah looh!!

ARIS SETIAWAN
– Pengajar di Jurusan Etnomusikologi ISI Surakarta, 2011-sekarang
– Pascasarjana ISI Surakarta Angkatan 2008, Pengkajian Musik Nusantara
– ISI Surakarta Angkatan 2004
– SMKI Surabaya Angkatan 2001

Sanjoto Prijo Djatmiko

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.