Ludruk MTB, Ludruk Milenial Kota Metropolis Surabaya

Berbicara soal kesenian ludruk pasti terbayang dibenak kita sebuah pertunjukan teater tradisi yang para aktor panggungnya rata-rata berusia dewasa atau bahkan sudah tua. Memang seperti itu kondisi keaktoran yang terjadi pada grup ludruk yang ada di Jawa Timur secara umum. Namun tidak demikian dengan salah satu grup ludruk asal Surabaya yang mengisi acara Pergelaran Dageline (Dagelan Online) yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Jawa Timur pada Sabtu, 10 Oktober 2020 di Pendapa Jayengrana.

Ludruk Medang Taruna Budaya pada sesi foto bersama setelah pergelaran, bersama Kepala Taman Budaya Jawa Timur Agus Ramajanto, S.Sos., MM. (Foto dok./TBJT)

Memasang nama grup “MTB” kepanjangan dari Medang Taruna Budaya artinya kurang lebih “tempat berkreasinya anak-anak muda menekuni budaya”,  grup ini senantiasa aktif melibatkan anak usia sekolah dalam setiap pementasannya. Hal ini tentu saja menjadi seseuatu yang menarik sekaligus menggembirakan bagi kelangsungan pelestarian kesenian ludruk itu sendiri ditengah gempuran produk kesenian lain terutama yang berasal dari luar. Sebuah upaya yang butuh dedikasi dan keikhlasan total bagi seseorang untuk penjalani pekerjaan yang secara finansial boleh dikata sulit mendatangkan keuntungan besar. Mutlak hanya kecintaan dan kepedulian tingkat tinggi saja yang mampu menggerakkan perbuatan seperti ini.

Yuni Sugio, pendiri sekaligus pemimpin grup ludruk Medang Taruna Budaya. (Foto dok./TBJT)

Eksistensi dan perkembangan ludruk MTB sendiri tak lepas dari peran penting pemimpinnya yakni seorang ibu tiga anak dan tiga cucu yang bernama Yuni Sugiyo. Ludruk MTB didirikan pada 27 Oktober 2010 dan pada awal berdirinya grup ini adalah sebuah sanggar seni ludruk Medang Taruna Budaya yang beranggotakan anak usia 6 tahun sampai dengan remaja. Pendirian grup berangkat dari keprihatinan Yuni akan keberadaan kesenian ludruk yang jarang diminati oleh anak-anak muda. Sangat sedikit anak muda yang mengerti tentang ludruk, apa itu remo, kidungan, bedayan, garap iringan dll. Dari kasus itu Yuni tergerak untuk mencari generasi penerus yang mau belajar tentang kesenian ludruk. Yuni berharap agar kesenian ludruk tetap hidup dan tidak punah dalam perjalanan jaman. Karena rekrutmen keanggotaan yang tidak dipungut biaya tak jarang atau malah sering Yuni harus berkorban dari kocek sendiri.

Dari proses pendirian awal yang berat dan penuh tantangan alhasil ludruk MTB semakin besar dan banyak job diterima. Ketika job sedang sepi Yuni tak segan-segan untuk mengajukan penawaran proposal pertunjukan ke pihak pemerintah atau swasta. Upaya Yuni yang sedemikian gigih untuk memperkenalkan kesenian ludruk ke tengah khalayak kota metropolis Surabaya berbuah manis. Disamping Pemerintah Kota Surabaya yang sering mempergelarkan karya ludruk MTB, pihak swastapun ikut tertarik untuk memanfaatkan jasa ludruk MTB untuk ikut menyemarakkan lounching produk-produk tertentu dari perusahaan mereka. Alhasil ludruk MTB tidak hanya berekplorasi di sebuah panggung pertunjukkan tertutup saja, tetapi juga main di mal-mal yang ada dikota Surabaya. Daya tarik yang luar biasa yang ada pada grup ludruk MTB ada pada para pemainnya yang masih belia sampai remaja. Keberadaan pelatih nyaris tidak ada, karena para senior alumni mengajari para adik tingkatnya secara berkesinambungan. Hanya merekrut seorang aktor sekaligus sutradara ludruk bernama Sabil Lestari untuk mengajar teknik kidungan dan keaktoran, karena tidak adanya alumni yang piawai dalam hal itu.

Sabil Lestari, aktor dan pembina grup ludruk Medang Taruna Budaya. (Foto dok./TBJT)

Sejak awal berdirinya ludruk MTB memang sudah mengekplorasi bakat dan minat pada anak-anak usia sekolah untuk dicetak menjadi generasi pewaris budaya adiluhung tinggalan nenek moyang. Dari semangat yang luar biasa dan dukungan moril para wali murid akhirnya menjadikan eksistensi grup ludruk MTB semakin berkibar. Para alumni didikan grup ludruk MTB banyak yang melanjutkan ke sekolah seni dan masih peduli dengan sekolah kesenian non formal yang telah membesarkannya. Ibarat ayam takkan lupa dari induknya, para alumni sangat peduli dengan keberadaan grup ludruk yang telah mengajari mereka tentang sebuah proses pewarisan sebuah kesenian yang adiluhung yang memang sudah selayaknya harus diwarisi, diuri-uri dan dilestarikan oleh mereka.  

Ludruk MTB bermarkas di UPT. Balai Pemuda Surabaya tepatnya di kantor Dewan Kesenian Surabaya (DKS). Para anggota diberi ruang kebebasan untuk mengasah ketrampilan mereka dalam bidang seni khususnya ludruk dan pernik-perniknya. Yang punya bakat dan berminat menekuni keaktoran bisa langsung menerjuninya, dibawah bimbingan cak Sabil Lestari. Yang berminat pada unsur tarian dibimbing langsung oleh pemimpin grup Yuni Sugiyo. Sementara yang berminat pada garap iringan juga bisa menekuninya dengan bimbingan dari para alumni yang telah lulus dari sekolah atau perguruan tinggi kesenian. Proses pewarisan ilmu berlangsung gratis tanpa iuran sepeserpun, dan anak-anak yang berlatih di grup inipun selalu antusias dan enjoy menjalani sesi latihan yang kadang berat dan menyita waktu. Dari kemauan timbul kesukaan, dari kesukaan timbul cinta. Kecintaan yang tinggi pada kesenian asli anak bangsa akan menumbuhkan semangat nasionalisme yang tinggi pula dalam jiwa dan berakhir pada kecintaan yang luar biasa pada tanah air Indonesia.

Salah satu adegan pada pergelaran Sabtu, 10 Oktober 2020 di pendapa Jayengrana Taman Budaya Jawa Timur. (Foto dok./TBJT)

Banyak prestasi ditorehkan oleh grup ini, mulai penyaji terbaik tiga kali berturut-turut pada Festival Ludruk tingkat Kota Madya Surabaya. Tiga kali pula ikut memeriahkan perayaan hari tari sedunia dengan mengusung ludruk dan tariannya sebagai ikon dan banyak prestasi lain yang tidak mungkin disebutkan satu persatu. Melihat kiprah dan prestasi yang telah ditorehkan serta mayoritas crew yang terlibat di dalamnya adalah orang-orang dengan sebutan generasi milenial maka tak salah bila ludruk MTB mendapat julukan sebagai ludruk MILENIAL di kota metropolis Surabaya. (san)

Sanjoto Prijo Djatmiko

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.