Gelung Minangkara, Kisah Perjalanan Bratasena Mencari Jati Diri

Sabtu, 29 Pebruari 2020, bertempat di gedung kesenian cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, digelar seni pertunjukan wayang orang dari kota Blitar. Grup wayang orang yang tampil pada pergelaran kali ini adalah wayang orang Patrialoka.  Secara organisatoris perkumpulan wayang orang Patrialoka adalah organisasi yang didirikan oleh Pemerintah Kota Blitar, dalam hal ini dinas yang menangani yakni Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Bentuk organisasinya seperti sanggar atau paguyuban, mereka mewadahi orang-orang profesioanal, yaitu mantan-mantan aktivis organisasi seni pertunjukan wayang orang, kethoprak tobongan, atau mantan pemain ludruk  dan juga generasi muda milenial yang berminat pada kesenian khususnya wayang orang. Pelibatan generasi muda milenial dalam setiap pergelaran menurut Erwin pimpinan grup adalah sebagai upaya regenerasi, agar keberadaan kesenian wayang orang tidak punah ketika generasi tua sudah tidak eksis lagi.

Wayang orang sendiri merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional Jawa dan cerita yang diangkat didasarkan pada kisah Mahabrata dan Ramayana yang mengandung pesan moral, dan sudah menyatu dalam jiwa masyarakat Jawa. Wayang orang pertama kali muncul pada abad ke-18 di Solo, diciptakan oleh KGPAA Mangkunegoro I. Seni pertunjukan ini terinspirasi dari seni drama yang dating dari Eropa dan diperkenalkan oleh penajajah Belanda kepada bangsa Pribumi. Di Jawa Timur sendiri grup wayang orang yang masih eksis dan sering tampil di event kesenian salah satu diantaranya adalah wayang orang Patrialoka. Dengan mengambil lakon Gelung Minangkara wayang orang Patriloka untuk yang kesekian kalinya kembali manyapa publik Surabaya terutama penggemar wayang orang untuk datang mengapresiasi. Sebelum pertunjukan dimulai, diawali dengan sambutan Kepala UPT. Taman Budaya Jawa Timur Drs. Edi Iriyanto, MM., sekaligus membuka acara yang ditandai dengan pemberian gada Rujakpolo senjata khas milik Bratasena kepada pemeran pemeran utama pada lakon pergelaran kali ini.

Tekad kuat Bratasena mencari air kehidupan Prawitasari atas perintah gurunya tak mampu dihalang-halangi oleh ibu dan saudara-saudaranya. Foto dok./TBJT.

Lakon Gelung Minangkara menurut Erwin ketua grup, adalah lakon yang sama pada cerita wayang Dewa Ruci. Gelung Minangkara ìsecara harfiah adalah makna identitas yang disematkan pada tokoh Bratasena pada bentuk rambut yang digelung ke atas, Gelung Minangkara Cinandhi Rengga yang bersifat endhek ngarep dhuwur mburi, dalam Bahasa Indonesia berarti “rendah depan tinggi belakang”. Makna yang tersirat dibalik busana ini melambangkan bahwa Bratasena merupakan ksatria yang enggan menyombongkan diri akan ilmu dan kekuatan yang dimiliki. Serta dapat menunjukkan dirinya sebagai makhluk Tuhan, dan juga Tuhan sebagai penguasa yang harus disembah, setelah lolos memasuki kedalaman lautan luas dan menemukan jati diri yang sebenarnya. Judul itu menurut Erwin semata-mata adalah untuk memancing rasa penasaran dan keingintahuan penonton agar lebih serius mengapresiasi lakon cerita yang dipentaskan.

Lakon Wayang Gelung Minangkara atau Dewa Ruci ini adalah lakon carangan yang tidak bersumber dari kitab Mahabharata tapi bersetting cerita zaman Mahabarata, yang boleh dibilang syarat penuh makna. Lakon ini banyak dipentaskan baik pada wayang kulit atau wayang orang, karena cerita di dalamnya mengandung  jalan kontemplasi (perenungan) tentang asal dan tujuan hidup manusia (sangkan paraning dumadi), menyingkap kerinduan akan Tuhan dan perjalanan rohani untuk mencapaiNya (manunggaling kawula Gusti). Menurut Poerbatjaraka paling tidak ada 40 naskah lakon yang juga disebut sebagai Bima Suci ini. 19 naskah diantaranya tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Yang paling terkenal, adalah gubahan pujangga keraton Surakarta Yosodipuro berjudul “Serat Kidung Dewa Ruci”, yang disampaikan dalam bentuk tembang macapat, dengan bahasa Kawi-Sansekerta dan Jawa Kuno.

Penyerahan secara simbolis pusaka “Gada Rujakpolo” senjata andalan Bratasena oleh PLT. Kepala Taman Budaya Jawa Timur kepada tokoh utama pemeran wayang orang dengan lakon “Gelung Minangkara”. Foto dok./TBJT.

Dalam alur pakemnya, cerita ini terjadi saat Pandhawa bersama saudara-saudara sepupunya Kurawa, sedang bersama menimba ilmu pada guru yang sama yakni, Resi Durna atau Kumbayana. Kurawa yang amat menyadari bahwa tahta kerajaan Astina yang saat itu diduduki ayah mereka, Destrarastra, adalah sekadar titipan dari ayah Pandhawa, (Pandu Dewanata) yang mati muda. Kalaulah nanti Pandhawa telah dewasa, tahta itu harus dikembalikan kepada mereka. Mengetahui akan hal itu, 100 orang Kurawa, merasa bakal lontang-lantung sebagai orang asing. Karena itu, sejak awal, Kurawa dengan berbagai jalan berusaha keras untuk melenyapkan Pandhawa dengan cara halus ataupun kasar.

Pada dasarnya para Kurawa muda, memiliki tabiat berangasan dan pendek akal dalam hal apapun. Namun walau selalu gagal hampir semua tindak tanduk dalam menumbangkan Pandawa selalu tampak penuh strategi. Tindak tanduk negatif Kurawa yang berstrategi itu tentu tidaklah mampu mereka rancang sendiri. Hampir semua tindakan yang kebanyakan jenius itu, atas bantuan sang pemikir licik, Harya Sangkuni atau Arya Suman, adik ibu Kurawa Dewi Gendari. Kebetulan sebagai paman Kurawa, Sangkuni diangkat jadi Patih kerajaan Astina. Wajar saja, sang Paman juga sangat berkepentingan akan kelangsungan kekuasaan keponakannya. Dengan akal jenius, Patih Sangkuni berhasil membujuk Resi Durna untuk membantu program Kurawa dalam melenyapkan Pandhawa satu persatu. Sasaran pertamanya adalah Pandhawa nomer 2, Raden Bratasena dan berikutnya Raden Janaka atau Arjuna, 2 orang Pandhawa yang kesaktiannya paling unggul.

Dikala lautan sudah diaduk-aduk maka kelelahan dan keputus asaan mulai menjangkiti sosok Bratasena, tiba-tiba muncullah sosok dirinya dalam bentuk kecil yang keluar dari telinga kanannya, itulah dia Dewa Ruci. Foto dok. TBJT.

Pikiran licik sangkuni memprediksi  jika 2 orang pandawa itu sudah leyap dulu maka, yang lain akan lebih mudah dibasmi. Untuk eksekusi tindakan awal skala prioritasnya adalah ksatria kedua pandawa. Bratasena yang memang sudah menyelesaikan sesi latihan ragawinya kemudian diutus sang Guru Resi Durna untuk mencari “Tirta Prawitasari” (air kehidupan), guna menyucikan batinnya demi kesempurnaan hidup. Air itu, harus dicari di hutan Tibaksara di gunung Reksamuka. Saat berpamit menghadap ibunya Dewi Kunthi, saudara-saudaranya yang lain juga mengingatkan Bratasena bahwa, mungkin ini hanya jebakan Sangkuni Karena hutan itu sudah terkenal sebagai hutan belantara yang sangat ganas siapapun yang memasukinya sulit kembali dalam keadaan hidup. Namun Bratasena tetap akan melaksanakan perintah sang Guru yang tidak mungkin ditolaknya meskipun karena itu dia harus menyerahkan nyawanya. Melihat keteguhan hati anaknya, sang Ibu akhirnya merestuinya. Bratasena pun berangkat menjalankan tugas dari gurunya.

Keberhasilan Werkudara menjalani perintah guru Durna mencari air suci menimbulkan kedengkian gerombolan kurawa yang dipimpin Dursasana, Werkudara dikeroyok, tak lama Anuman membantu, barisan kurawa berhasil diobrak-abrik. Foto dok./TBJT.

Seluruh hutan sudah dijelajahinya, tapi yang dicari tak kunjung didapatkan. Justru dalam pencarian air itu, Bratasena malah membangunkan 2 raksasa Rukmuka dan Rukmakala penunggu hutan dari tidur panjangnya. Perkelahianpun tak dapat dielakkan dan 2 raksasa itu berhasil dibunuh oleh Bima. Menyadari bahwa yang dicarinya tidak ada, Bima bergegas pulang dan kembali menghadap gurunya. Gurunya yang semula kaget melihat Bima masih hidup keluar dari hutan Tibaksara itu, lalu menyuruh untuk melakukan yang lebih sulit. Tirta Prawitasari itu harus dicarinya di kedalaman lautan. Tanpa banyak bertanya apalagi meragukan perintah sang Guru, langsung saat itu juga berangkat. Seisi lautan diaduknya, seekor Naga yang menghalanginyapun berhasil dikalahkan dan ditaklukkan, hingga naga tersebut pada akhirnya rela mengabdi pada Bima dengan masuk di paha kirinya sebagai kekuatan. Walau telah dengan susah payah mencari dan sudah banyak makhluk lautan yang menghalangi dapat ia kalahkan, akan tetapi Air Kehidupan yang dicarinya tidak juga diketemukannya. Hingga ditengah lelah, bingung dan keputus asaannya, dia ditemui mahluk serupa dirinya dalam ukuran yang lebih kecil, yang keluar dari telinga kanannya. Mahluk itu memperkenalkan dirinya sebagai Sang Dewa Ruci, sang sukma sejatinya, dirinya yang sebenarnya. Pembicaraan antara 2 mahluk inilah yang sebenarnya menjadi inti cerita ini. Singkat cerita, akhirnya Bratasena masuk ke dalam wadag Sang Dewa Ruci melalui telinga kirinya, dan mendapat penjelasan tentang arti hidup sejatinya.

Untuk mendapatkan “inti pengetahuan sejati” (Tirta Prawitasari) Bratasena harus menempuh ujian fisik dan mental sangat berat, (Hutan Tibaksara “tajamnya cipta”; Gunung Reksamuka, “pemahaman mendalam”). Sang Bimasena tidak akan mampu menuntaskannya tanpa membunuh raksasa Rukmaka “kamukten, kekayaan” dan Rukmakala “kemuliaan” . Tanpa mengendalikan nafsu dunianya dalam batas maksimum. Perjalanannya menyelam ke dasar laut diartikan dengan “samudra pangaksami” pengampunan. Membunuh Naga yang mengganggu  jalannya simbol dari melenyapkan napsu kejahatan dan keburukan diri. Pertemuannya dengan Sang Dewa Ruci melambangkan bertemunya Sang Wadag dengan Sang Suksma Sejati. Masuknya wadag Bima kedalam Dewa Ruci dan menerima Wahyu Sejati bisa diartikan dengan “Manunggaling Kawula-Gusti”, bersatunya jati diri manusia yang terdalam dengan Penciptanya. Kemanunggalan ini mampu menjadikan manusia untuk melihat hidupnya yang sejati. Dalam istilah Kejawen “Mati sajroning urip, urip sajroning mati”. (Mati di dalam Hidup, dan Hidup di dalam Mati). Ini adalah esensi dari Kawruh Kejawen. Perjalanan tasawuf untuk menukik ke dalam dirinya sendiri. Atas pemahaman makna hidup yang diperolehnya Batara Guru kemudian memberi nama baru Werkudara kepadanya, dengan tekad suci mulailah dia menggelung rambut dan berjanji pada diri sendiri untuk selalu menjalankan darma. Dengan tekad yang sudah sempurna dan penuh semangat, Werkudara kemudian pulang dan tiba di negerinya. Ketika ditanya Prabu Yudistira tentang perjalanannya, dia menjawab bahwa perjalanannya itu dicurangi, ada dewata yang memberi tahunya bahwa di lautan itu sepi dan tidak ada air penghidupan. Gerombolan kurawa tidak senang dengan keberhasilan Werkudara menjalankan tugas suci dari guru mereka, mereka kemudian mengeroyok Werkudara. Atas bantuan Anoman gerombalan penjahat kurawa berhasil dihalau.(san)

Sanjoto Prijo Djatmiko

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.