Pergelaran Wayang Kulit Lakon Rama Bargawa

Penyerahan gunungan oleh Kadisbudpar Prov. Jatim kepada Ki Rudi Gareng. Foto dok./TBJT.

Menutup rangkaian acara Festival Dalang Muda Jawa Timur 2019, Taman Budaya Jawa Timur menggelar pertunjukan wayang kulit dengan lakon Rama Bargawa. Dalang yang diberi kesempatan untuk membawakan lakon tersebut adalah Ki Rudi Gareng. Pria muda bernama asli Rudianto ini tinggal di Rumah Cakra Budaya Indonesia di Jalan D.I. Panjaitan, Ngadirejo, Kepanjen Kidul Kota Blitar. Pergelaran di laksanakan di Pendapa Jayengrana Taman Budaya pada malam penutupan Festival Dalang Muda Jawa Timur tanggal 9 November 2019.

Acara dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur Sinarto, S.Kar., MM. Ditandai dengan penyerahan gunungan sebagai simbolisasi bahwa pergelaran wayang semalam suntuk dimulai. Animo masyarakat terhadap pertunjukan Ki Rudi Gareng luar biasa, sampai dengan akhir acara penonton tetap setia mengikuti jalannya cerita. Hal ini terjadi karena memang kharisma seorang Rudi Gareng yang sudah terkenal di Jawa Timur. Gaya permainan wayangnya yang punya ciri khas tersendiri serta hiburan yang diusung berupa musik dangdut dan campur sari dari Rumah Cakra Budaya Indonesia miliknya yang mampu menyedot perhatian. Artis-artis yang ditampilkan masih muda, cantik dan bagus dalam penguasaan skill menyanyi, juga pelawaknya yang mampu mengocok perut penonton.

Lakon Rama Bargawa mungkin belum banyak penonton yang memahami, Ki Rudi Gareng sengaja mengangkat cerita ini memang untuk mempopulerkannya kepada masyarakat penonton yang menyaksikan, agar tidak hanya kisah Ramayana atau Mahabarata saja yang menjadi pengetahuan mereka, tetapi lakon Rama Bargawa ini juga menjadi populer di masyarakat.

Rama Bargawa membantai para ksatria. Foto dok./TBJT.

Parasurama lebih dikenal dengan sebutan Rama Bargawa, atau sering juga dipanggil Jamadagni, sama dengan nama ayahnya.Diceritakan bahwa Parasurama adalah keturunan Batara Surya bukan titisan Wisnu, ayahnya, Jamadagni adalah sepupu Kartawirya raja kerajaan Mahespati, yang merupakan ayah dari Arjuna Sasrabahu, musuh dari Parasurama. Jamadagni juga masih memiliki ikatan persaudaraan dengan Resi Gotama ayah Subali dan Sugriwa. Dalam pewayangan, Rama Bargawa membunuh ibunya sendiri, Renuka atas perintah ayahnya karena Renuka telah berselingkuh dengan Citrarata raja kerajaan Martikawata.Mulai saat itulah, muncul kebencian Ramabargawa terhadap kaum ksatria.

Setelah merasa jenuh dan cukup menumpas kaum ksatria, ia memutuskan untuk meninggalkan dunia. Atas petunjuk dewata, ia akan mencapai surga, jika ia mati di tangan Batara Wisnu. Wisnu dikisahkan menitis kepada Arjuna Sasarabahu. Rama Bargawa akhirnya berhasil menemui Arjuna Sasarabahu, namun saat itu, Arjuna Sasarabahu telah kehilangan semangat hidupnya setelah kematian istrinya Citrawati dan Sumantri, patihnya. Bukannya ia terbunuh oleh Arjuna Sasrabahu, tetapi justru ia yang membunuh Arjuna Sasrabahu.

Para pesinden dan pengrawit. Foto dok./TBJT.

Rama Bargawa kecewa dan menuduh dewata telah berbohong. Turunlah Batara Narada dan menjelaskan bahwa Wisnu telah meninggalkan Arjuna Sasrabahu untuk terlahir kembali sebagai Rama, putera Dasarata. Ramabargawa diminta bersabar menunggu Rama hingga Dewasa, kelak ia yang akan membunuhnya mengantarkannya ke surga. Keberhasilan Rama memenangkan sayembara di kerajaan Mantili untuk memperebutkan Sinta terdengar oleh Rama Bargawa. Ia kemudian mencegat Rama di tengah perjalanan saat ia akan memboyong Sinta ke Ayodya. Rama Bargawa menantang Rama untuk bertarung. Dalam perang tanding tersebut, Rama Bargawa akhirnya gugur di tangan Rama, dan naik kahyangan menjadi Dewa bergelar Batara Rama Parasu.(san)

Sanjoto Prijo Djatmiko

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.