Tuah Sang Semar Dalam Lakon Wayang “Semar Boyong”

Jumat, 30 November 2019, bertempat di Pendapa Jayengrana, Taman Budaya Jawa Timur menggelar pertunjukan wayang kulit dengan lakon “Semar Boyong”. Dibawakan oleh Ki Ardi Purboantono, S.Pd., dalang muda berbakat dari kota Malang. Acara dibuka oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur Sinarto, S.Kar., MM. Ditandai dengan penyerahan gunungan oleh Kadisbudpar Provinsi Jawa Timur kepada Ki Ardi pergelaran wayang kulit semalam suntuk dimulai.

Penyerahan gunungan oleh Kadisbudpar Prov. Jatim kepada Ki Ardi Purboantono sebagai tanda dimuulainya pergelaran. Foto dok./TBJT.

Siapa yang tak kenal Semar? Setidaknya kebanyakan orang tahu Semar adalah pimpinan empat sekawan ‘Punakawan’. Sepintas memang tokoh Semar sebatas melucu dan pereda ketegangan penonton di tengah malam. Namun, menurut kisah pewayangan Jawa, Sang Hyang Wenang menciptakan Sebuah telur, cangkangnya itu Togog, putihnya menjadi Semar. Sedangkan kuningnya menjadi Batara Guru. Semar yang memiliki badan gemuk tak jelas laki-laki atau perempuan. Hal tersebut menunjukan bahwa manusia pada dasarnya tidak ada yang sempurna dan masing-masing memiliki ciri khas. Kesempurnaan hanya milik Tuhan. Umumnya, masyarakat mengenal bahwa Semar adalah putra Sang Hyang Wisesa yang mana memiliki anugerah Mustika Manik Astagina dan delapan daya. Delapan daya itu adalah tidak pernah mengantuk, tidak pernah lapar, tak pernah jatuh cinta, tak pernah sedih, tak pernah capek, tak pernah sakit, tak pernah kepanasan, dan tak tak pernah kedinginan.

Menurut pendapat seorang sejarawan, Prof. Dr. Slamet Muljana, tokoh Semar ini pertama kali ditemukan di dalam karya sastra pada zaman kerajaan Majapahit yang berjudul Sudamala. Karya sastra tersebut dalam bentuk kakawin juga dipahat dalam bentuk relief di Candi Sukuh yang dibuat tahun 1439. Tokoh Semar ini merupakan hamba atau abdi tokoh utama dalam kisah Sahadewa yang merupakan sosok dari keluarga Pandawa. Tentunya, Semar bukan hanya sebagai pengikut semata, melainkan juga sebagai penghibur lara dalam mencairkan suasana yang tegang. Di zaman berikutnya, saat kerajaan-kerajaan Islam mulai berkembang di Pulau Jawa, pewayangan pun mulai digunakan sebagai media dakwah. Salah satunya adalah kisah Mahabarata yang mana kisah tersebut sudah melekat di benak masyarakat Jawa. Salah satu Ulama yang menggunakan wayang sebagai media dakwah adalah Sunan Kalijaga. Di dalam dakwahnya, Semar masih tetap ada, bahkan lebih dominan dibandingkan dengan kisah Sudamala.

Semar sang tokoh kebijaksanaan. Foto dok./TBJT.

Kemudian, di era selanjutnya, derajat Semar semakin meningkat, di mana para Pujangga Jawa mulai mengkisahkan Semar bukan sebagai rakyat jelata saja, melainkan juga sebagai jelmaan Batara Ismaya yang merupakan kakanya Batara Guru alias rajanya para dewa. Banyak sekali versi yang mengisahkan asal usul Semar. Namun sebagian besar mengatakan bahwa Semar adalah jelmaan Dewa. Di setiap pementasan wayang, Semar selalu menyampaikan kata-kata bijaknya yang sifatnya lebih ke umum. Sehingga kata-kata bijak Semar masih relevan dengan siapapun dan kapanpun. Semar merupakan tokoh pewayangan ciptaan pujangga lokal. Meskipun statusnya hanya sebagai abdi, namun keluhurannya sejajar dengan Prabu Kresna dalam kisah Mahabharata. Jika dalam perang Baratayuda menurut versi aslinya, penasihat pihak Pandawa hanya Kresna seorang, maka dalam pewayangan Jawa, jumlahnya ditambah menjadi dua, salah satunya adalah Semar.

Semar dalam karya sastra hanya ditampilkan sebagai pengasuh keturunan Resi Manumasa, terutama para Pandawa yang merupakan tokoh utama kisah Mahabarata. Namun dalam pementasan wayang yang bertemakan Ramayana, para dalang juga biasa menampilkan Semar sebagai pengasuh keluarga Sri Rama ataupun Sugriwa Seolah-olah Semar selalu muncul dalam setiap pementasan wayang, tidak peduli apapun judul sing sedang dikisahkan.

Dalam pewayangan, Semar bertindak sebagai pengasuh golongan ksatria, sedangkan Togog sebagai pengasuh kaum raksasa. Dapat dipastikan anak asuh Semar selalu dapat mengalahkan anak asuh Togog. Hal ini sesungguhnya merupakan simbol belaka. Semar merupakan gambaran perpaduan rakyat kecil sekaligus dewa kahyangan. Jadi, apabila para pemangku pemerintahan, sebagai kaum kesatria asuhan Semar, yang senantiasa mendengarkan suara rakyat kecil yang bagaikan suara Tuhan, maka negara yang dipimpinnya pasti menjadi nagara yang unggul dan sentosa.

Lakon “Semar Boyong” yang dibawakan oleh Dalang Ki Ardi Purboantono merupakan bentuk lakon carangan pada cerita pewayangan Jawa. Lakon carangan atau cerita carangan adalah lakon wayang yang keluar dari jalur pakem (standar) kisah Mahabarata atau Ramayana. Namun, para pemeran dan tempat-tempat dalam cerita carangan itu tetap menggunakan tokoh-tokoh Wayang Purwa yang berdasarkan Mahabarata atau Ramayana seperti biasanya. Dalam cerita “Semar Boyong” dikisahkan bertemunya tiga raja penguasa untuk memperebutkan tokoh Semar dalam satu zaman. Raja Rama Wijaya dari kerajaan Pancawati, Raja Duryudana dari kerajaan Astina dan Raja Puntadewa dari kerajaan Indraprasta. Raja Rama Wijaya yang hidup pada masa kisah cerita Ramayana jelas berselisih waktu sangat jauh dengan dua raja lainnya yang hidup pada masa kisah Mahabharata. Secara kronologis cerita ini tidak berkesinambungan, tapi itulah uniknya wayang Jawa, lebih berkembang dalam hal bentuk cerita dibanding wayang asli dari India. Nilai filosofis dan ajaran moral dalam lakon “Semar Boyong” itulah sebenarnya yang ditonjolkan.

Sosok Semar sebagaimana uraian diatas adalah sosok bijak yang sangat dibutuhkan karomah (tuah) serta nasehatnya oleh siapapun raja yang berkuasa. Sosok Semar digambarkan dalam cerita itu mampu meredam pageblug (bencana) berupa wabah penyakit yang melanda kerajaan manapun. Sehingga dimana Semar mengabdi, disitu kerajaan akan menjadi aman tentram jauh dari bencana. Kepiawaian Dalang Muda berbakat Ki Ardi Purboantono dalam membawakan cerita layak mendapat apresiasi. Pemahamannya dalam ajaran agama Islam yang cukup fasih disampaikannya kepada penonton melalui tokoh Semar dengan menyisipkan nukilan ayat-ayat suci Al Quran lewat nasehat-nasehat Semar kepada para utusan yang memperebutkan dirinya. Isu-isu soal nasionalisme, radikalisme, persatuan dan kesatuan bangsa coba diangkat oleh Dalang Ardi dengan tak lupa disisipkannya ayat-ayat suci dalam bentuk nasehat yang disampaikan oleh tokoh Semar. Antusiasme penonton untuk menyaksikan pergelaran wayang ini terlihat begitu tinggi. Sampai dengan akhir pergelaran kursi penonton masih penuh. Kadisbudpar Provinsi Jawa Timurpun mengikuti jalannya cerita sampai dengan selesainya pergelaran.

Suasana panggung pertunjukan. Foto dok./TBJT.

Ringkasan Cerita wayang kulit “Semar Boyong”, diceritakan bahwa kerajaan Pancawati terserang wabah penyakit karena ditinggalkan Semar. Demikian juga Astina dan Indraprasta dapat selamat dari bahaya jika diikuti oleh Semar. Karena itu Sri Rama raja Pancawati mengutus Lesmana, Puntadewa raja Indraprasta mengutus Arjuna, dan Duryudana raja Astina mengutus Karna, untuk memboyong Semar. Semar bersedia diboyong ke mana pun, asalkan mereka dapat mewujudkan berupa bunga pandan Tunjungbiru.

Leksmana dan Arjuna segera menuju kahyangan untuk mencari permintaan Semar. Karena yang datang lebih awal adalah Lesmana, maka bunga pandan diberikan kepada Lersmana, sehingga menjadi perebutan antara Arjuna dan Lesmana. Lesmana mendapatkan bunganya, sedangkan Arjuna hanya mendapatkan kulitnya, kemudian diberikan kepada Semar. Bunga dan kulit disambungkan oleh Semar, berubah ujud menjadi Betari Kanastren, istri Semar. Kanastren membawa mandat dewata agung, bahwa telah tiba saatnya Semar untuk mengikuti Pandawa. Mendengar ucapan Kanastren, Arjuna segera mengajak Semar ke Indraprasta. Hal tersebut dilaporkan Lesmana kepada Sri Rama. Sri Rama kemudian memberangkatkan pasukan keranya untuk menyerang Indraprasta, sekalian mencari tempat penjelmaan kelak. (san)

Sanjoto Prijo Djatmiko

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.