Artikel

Sangkan Paraning Nâmâlî #2

Oleh: Andri Widi Asmara

“Misiku tidak untuk merusak Gamelan dan Karawitan Jawa, justru aku berusaha membuat inovasi-inovasi yang akarnya dari tradisi Jawa.”

Pernyataan di atas menjadi pembuka sesi ngobrol kami, antara saya dengan Willy. Kami mengobrol via telefon. Cukup lama kami melangsungkan obrolan. Maklum, selain sebaya, kami juga mempunyai hobi yang sama: baca buku. Ibarat orang sedang ngemil kacang, “nek mandeg pait”.

Memang, ranah eksplorasi sejatinya rawan, karena dekat dengan kata eksploitasi. Namun, saya melihat hal berbeda pada Willy. Ia sangat sadar akan apa yang ia lakukan. Ia mempunyai keyakinan teguh dan niat yang tulus dalam mengembangkan kebudayaan bunyi. Pengembangan gagasan Nâmâlî adalah bukti bahwa planningnya tak mandeg di konsep. Nâmâlî juga menjadi prasasti pemikirannya, mencerminkan bahwa ia tak pernah berhenti dalam berinovasi.

Upayanya juga tercermin pada progres pengembangan laras Nâmâlî yang cukup pesat saat dimulai di tahun 2019. Awalnya, 15 nada dalam 1 register (gampangnya, 1 oktaf). Lalu dua  tahun setelahnya (Juli 2021), bertambah menjadi 17 nada. Lanjut tujuh bulan setelahnya bertambah menjadi 34 nada. Hingga akhirnya, proses yang paling akhir ia garap, laras Nâmâlî mencapai 44 nada dalam 1 register, yaitu pada bulan Februari 2022. Ini penambahan yang cukup signifikan, mengingat menetapkan laras adalah kerja “ngeng” yang syarat akan daya intelektualitas.

Ia juga pernah bercerita, bahwa ia sangat cinta dengan kebudayaan Jawa dengan semua produk dan potensinya. Ia bangga menyandingkan diksi “Gamelan” disamping “Nâmâlî” nya. Tujuannya, tak jauh dari ambisi besarnya: mengangkat derajat dan martabat orang Jawa, yang sadar dan patut dicontoh oleh dunia dalam pengembangan dan pelestarian kebudayaan.

Berbicara mengenai kekaryaan, ia sangat senang menggunakan pendekatan lokal. Selain judul, ia juga gemar menamai bagian-bagian dalam kekaryaannya dengan istilah Jawa seperti Bûkã dan Süwük. Di akhir setiap diksi judul tersebut pasti ada embel-embel diksi lain, seperti Bûkã Sûwêmbûrât dan Süwük Trõcõh. Diksi tersebut itu diambil dari struktur gendhing klasik. Bûkã anggap saja intro, Süwük anggap saja ending.

Yang menarik adalah nama bagian Lâtnûgn Îtsûg I dan Lâtnûgn Îtsûg II. Secara bahasa, diksi ini menggunakan konsep bahasa walikan Malangan. Jika dibalik, akan didapati kata “Nguntal Gusti”. Memang, Willy tetaplah bengal dan ugal-ugalan. Ia suka bermain dengan makna-makna yang kontroversial dan memancing multitafsir. Namun itu yang ia suka, membebaskan interpretasi publik mengenai musiknya.

Seksi Dokumentasi Publikasi

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.