Artikel

Mochammad Pungki Hartono Musik Anak dan Gagasan Kebebasan

Oleh: Panakajaya Hidayatullah

“Kami sudah proses mas”

Begitu pesan singkat dengan tautan foto yang dikirim pada whatsapp saya tanggal 1 Februari 2022 lalu. Dalam foto itu berjejer sekumpulan anak usia sekolah dasar hingga menengah memainkan instrumen musik tradisi, posisinya saling menatap, merespon senyum dan berinteraksi satu sama lain.  Foto itu tampak hangat, harmonis dan cukup berkesan buat saya, bukan hanya karena memintal rasa optimisme tentang pelestarian musik tradisi, tapi juga mengindeks pengalaman subtil masa kanak-kanak yang rasanya sulit sekali ditemui hari-hari ini.

Dalam percakapan yang lain, dengan logat Jawa etanan-nya yang medhok, ia melanjutkan dengan menceritakan detail proses tersebut dengan sedikit terbata-bata. “Poko’è iki konsep è eksplor Mas, sing jelas aku pengen ndelo’ arè’-arè’ iso ‘bebas’”. Butuh waktu beberapa detik untuk menelan ludah dan mengunyah isi dari pernyataan abstrak itu. Kemudian, ia menjabarkan dengan perlahan, bahwa proses kekaryaan ini adalah bentuk respon dan refleksi kritisnya atas fenomena dunia anak belakangan ini. Era disrupsi ini telah banyak mengubah perilaku anak-anak, mengekangnya dalam ruang yang terprivatisasi. Kehidupan alamiah anak-anak yang dulunya dipenuhi oleh dunia ‘bermain’, ‘kolektif’ dan ‘bebas’, telah digantikan (dikondisikan) oleh ruang-ruang yang dibatasi layar. Lebih lagi situasi pendemi telah mempertajam ketergantungan atas teknologi. Ia berencana membuat karya yang punya tedensi ‘membebaskan’, dalam arti membebaskannya dari ketergantungan pada dunia virtual. Musik punya ‘agensi’ untuk itu, lebih lagi musik tradisi yang fitrahnya bernapas kolektif dan kolaboratif, piranti itu sesuai dengan naluri alamiah anak. Ia ingin mengembangkan tema eksplorasi bunyi dan gerak, di mana anak-anak bisa bebas berimajinasi, berinteraksi, dan menemukenali realitas yang sedang ia hadapi.

Anak muda ‘gembul’, luguh namun punya semangat progresif itu adalah Mochammad Pungki Hartono, lahir di Banyuwangi 28 tahun yang lalu. Oleh kawannya, ia akarab dipanggil Mas Pungki. Tahun ini ia didapuk oleh Taman Budaya Jawa Timur untuk menampilkan karya komposisi musiknya dalam Gelar Komposer 2022. Pungki tumbuh dan dibesarkan dalam lingkungan kesenian, keahlian musiknya telah diuji dalam pelbagai arena kompetisi nasional sejak belia. Bahkan, pada tahun-tahun terakhir, ia menggenapi pengalaman bermusiknya dengan mengikuti pelbagai festival di luar negeri.

Sudut pandang dan orientasi kekaryaan Mas Pungki cukup unik dan nyeleneh dibanding komponis muda seusianya yang umumnya mengejar ‘invensi bentuk dan gagasan’ yang ndakik-ndakik. Sebagai seorang komposer, ia tak hanya ingin mengekspresikan bunyi-bunyi abstrak, tetapi juga menempatkannya pada realitas dan turut mendorong perubahan. Hidup di tengah kultur hibrid dengan wacana musik industrial ‘kendang kempul’ serta hingar-bingar proyek wisata Banyuwangi, tak mengubah sikap kritis idealismenya. Dengan mantap, bersama musik ia telah menempatkan keberpihakannya pada masyarakat dan lingkungan.

Seksi Dokumentasi Publikasi

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.