Aku, Dia, Dia: Lakon Ludruk Millenial Yang Mengaduk Emosi
Gedung Kesenian Cak Durasim pada Sabtu, 2 Mei 2026, penuh sesak dengan penonton yang dipadati oleh kalangan millennial yang ingin mengapresiasi Kesenian Ludruk yang biasanya dianggap oleh kalangan millennial sebagai kesenian yang kurang menarik bagi mereka. Kapasitas penonton yang biasanya menampung 412 penonton, malam itu disiasati dengan membongkar kursi deretan depan dijadikan tempat untuk penonton lesehan. Kapasitas Gedung bertambah menjadi 500 penonton, namun tetap saja Gedung Kesenian Cak Durasim tidak mampu menampung jumlah penonton yang ingin menyaksikan pertunjukan itu. Panitia sampai kewalahan mengatasi membludaknya jumlah penonton yang melebihi kuota penonton yang bisa menyaksikan di dalam Gedung.

Ludruk yang tampil mengisi acara pada pergelaran ini Adalah Ludruk gabungan anak-anak muda yang dikoordinatori oleh Agung Kasas. Lakon yang dipentaskan Adalah “Aku, Dia, Dia”. Lakon ini mengisahkan tentang kisah percintaan seorang pemuda Bernama Bayu Aji dan Perempuan Bernama Putri. Bayu Aji seorang intel Polisi yang menyamar sebagai tukang ojol yang mentargetkan membongkar jaringan pengedar narkotika. Sementara Putri seorang Perempuan yang baru saja diterima sebagai CPNS yang menunggu lamaran Bayu Aji yang merupakan pacarnya.
Putri meminta restu dari Satriyo kakak laki-lakinya yang telah menggantikan peran orang tua sejak kecil. Putri meminta Satriyo agar bapak mereka sebagai wali saat nikah nanti, hanya saja Satriyo tidak mau. Satriyo merasa benci dan dendam kepada bapaknya yang telah minggat meninggalkan mereka berdua sejak kecil. Satriyo malah menuduh bapaknya sendiri seorang bajingan karena telah menyia-nyiakan ibu mereka hingga meninggal dan membuat Satriyo dan Putri hidup sengsara sejak kecil.
Adegan menegangkan terjadi saat Bapak, Satriyo, Putri dan Bayu Aji bertemu. Satriyo ternyata seorang bandar narkona yang menjadi target Bayu Aji dan akhirnya digerebeg dan ditangkap oleh calon adik iparnya sendiri. Satriyo tidak dapa mengelak akhirnya ditangkap, kejadian ini sangat membuat putri shock berat sebab tidak menyangka sama sekali bahwa kakaknya itu ternyata seorang bandar narkoba.

Disaat dialog yang penuh emosional ini terjadi muncullah Bapak Satriyo dan Putri. Kemarahan Satriyo tidak dapat dibendung lagi melihat kedatangan bapaknya. Dimaki-maki, dihujatlah bapak yang tidak bertanggung jawab itu. Sehingga akhirnya bapaknya meminta maaf atas semua kesalahan yang telah dia lakukakan dahulu, tapi Satriyo tidak mau memaafkan. Disaat-saat krusial yang mengaduk emosi penonton itu, Bapak dari putri merebut pistol Bayu Aji kemudian mengancam bunuh diri mengarahkan pistol kea rah kepalanya. Adegan black out dan selesai, tidak sedikit penonton yang didominasi oleh kalangan millennial ini dipenuhi dengan banjir air mata, sebab adegan yang mengaduk emosi itu.
Patut diacungi jempol untuk tokoh bapak yang dipernkan Hengky Kusuma dan Agus Kuprit yang menjadi paman dari Bayu Aji. Akting dua pemain ludruk senior ini memang masih di atas pemain lain yang masih muda. Pengalaman mereka berdua yang malang melintang sebagai aktor ludruk sulit ditandingi. Agus Kuprit mengisi dialog dengan humor yang mengocok perut penonton walau humor itu terkesan pengulangan tapi tetap saja sanggup membuat penonton tertawa. Sementara Hengky Kusuma bisa berakting serius maupun lucu dalam setiap adegan itu.
Ludruksendiri adalah panggung dagelan asli Jawa Timur, dulu identik dengan pertunjukan semalam suntuk, alur cerita rakyat yang panjang. Pada pergelaran ini ludruk bermetamorfosis menjadi ludruk millennial, sebuah jawaban cerdik para seniman muda agar warisan leluhur tak cuma dikenang sebagai museum hidup. Ludruk millennial hadir dengan nafas baru, lebih ringkas, lebih nyablak, dan berani menyentuh isu-isu yang akrab di kuping anak zaman sekarang.

Apa yang langsung terasa beda? Pertama, durasi. Jika ludruk konvensional bisa berjam-jam dengan selingan tari remo dan kidungan, versi millennial-nya kerap dipadatkan menjadi tayangan 60 menit yang mudah diselipkan di sela-sela waktu senggang. Kedua, tema. Bukan lagi sekadar legenda Ande-Ande Lumut atau Sarip Tambak Oso, melainkan lika-liku cinta virtual, flexing di media sosial, tekanan jadi anak magang, hingga drama modern. Guyonan khas ludruk tetap menyeruak lewat dagelan fisik dan plesetan kata, namun diksi yang dipakai lebih segar, ada sisipan bahasa Inggris, istilah TikTok, dan celetukan relate yang membuat penonton muda otomatis nyengir, semua dipertontonkan pada ludruk ini melalui lawakannya.
Tentu, transformasi ini tidak sepi kritik. Kalangan pegiat ludruk tradisional menilai esensi kidungan dan kritik sosial tajam ala ludruk lawas mulai luntur, digantikan plot yang kadang dangkal karena hanya mengejar kelucuan instan. Ada pula yang khawatir pakem tari remo dan kostum khas justru tenggelam oleh gemerlap fashion ala streetwear. Namun, bukankah seni pertunjukan selalu dinamis? Ludruk millennial tak perlu dimusuhi, tapi bisa menjadi pintu masuk yang menggoda bagi generasi yang lahir jauh setelah masa keemasan ludruk. Tugas kita bersama adalah menjaga keseimbangan, inovasi boleh berjalan, tapi ruh cerita, nilai guyub, dan kritik sosial warisan leluhur tetap jadi napas utamanya. Dengan begitu, ludruk bukan sekadar selamat dari kepunahan, melainkan benar-benar hidup dan relevan di hati anak masa kini. (sn)
