Pergelaran

Musik Lintas Generasi

Taman Budaya Jawa Timur tidak hanya menggelar seni tradisi saja, yang modernpun tetap diberi ruang kepada seniman untuk terus eksis pada dunia seni di Jwa Timur. Tentu saja dengan porsi sajian yang lebih kecil daripada pertunjukan seni tradisi yang lebih berkorelasi dengan bentuk pelestarian dan pengembangan. Bertempat di Gedung Kesenian Cak Durasim pada Jumat, 23 Agustus 2025 Taman Budaya Jawa Timur menggelar pertunjukan musik dengan tajuk “Music Legend : Goes To Lintas Generasi”.

Big Panzer (Foto dok. TBJT)

Ada 4 grup band yang memeriahkan pergelaran tersebut diantarannya: Big Panzer, Riptide, Istioramah dan Tropical Jam. Era 1980 dan 1990-an merupakan periode keemasan dalam sejarah musik modern yang melahirkan banyak legenda dan karya-karya yang terus dikenang hingga hari ini. Musik dari dua dekade ini tidak hanya menjadi soundtrack bagi kehidupan generasinya, tetapi juga terus mempengaruhi musisi masa kini dan dinikmati oleh pendengar lintas generasi.

Dekade 1980-an menyaksikan revolusi dalam produksi musik dengan hadirnya synthesizer, drum machine, dan teknologi rekaman digital. Inovasi ini melahirkan sound yang khas dan futuristik yang menjadi ciri khas era tersebut. Grup-grup band beraliran rock, heavy metal, blues, reggae dll. banyak bermunculan di Indonesia kala itu.

Apa yang membuat musik era 80-an dan 90-an begitu legendaris adalah kemampuannya untuk menangangkan semangat zamannya sekaligus menciptakan karya yang fenomela. Era ini juga merupakan periode terakhir dimana album dipandang sebagai karya seni utuh, bukan sekadar kumpulan singel. Konsep visual melalui video musik juga mencapai masa kejayaannya dengan saluran seperti MTV menjadi kekuatan budaya yang signifikan.

Meskipun teknologi dan selera musik telah berkembang, musik legenda 80-an dan 90-an tetap memiliki tempat khusus di hati penggemarnya. Mereka bukan hanya sekadar kenangan nostalgia, tetapi merupakan fondasi yang terus menginspirasi dan mempengaruhi musik masa kini, membuktikan bahwa karya yang autentik dan penuh passion akan selalu relevan tanpa batas waktu.

Riptide (Foto dok. TBJT)

Yang menarik dari penampilan 4 grup band itu tidak hanya melibatkan para musisi senior Surabaya, tetapi ada juga anak-anak muda yang turut serta memainkan musik-musik legend era 80 90-an. Boleh dikatakan sebuah lintas generasi dalam usia tapi tetap memainkan musik-musik legenda era tahun 80 – 90-an.

Selain memainkan lagu-lagu ciptaan para musisi barat mereka juga memainkan lagu-lagu ciptaan sendiri. Yang menarik adalah tampilnya dua musisi gaek Surabaya yang tergabung dalam grup Big Panzer, dia adalah Didieth Sakhsana (bas) dan Ian Hay (drum). Didieth pernah menjadi the best bassit di Festival Rock se-Indonesia II, III & IV (1985 – 1987), yang kemudian mengorbitkan Namanya sebagai salah satu pembetot bas terbaik asal Surabaya di era itu. Sementara Ian Hay adalah drummer kawawakan yang malang melintang di jagad rock Indonesia.

Dua orang ini sudah berkolaborasi ketika masa kejayaan musik rock Indonesia tahuan 80-an. Tergabung dalam grup “Rock Trickle”.  Kemudian sempat berganti nama dengan “Bulldozer”, beberapa kali bongkar pasang personil namun dua musisi ini tetap bertahan untuk terus bermain bersama. Dari formasi grup “Bulldozer” inilah kemudian berganti nama menjadi “Big Panzer”. Grup ini disamping membawakan lagu-lagu ciptaan sendiri juga membawakan lagu-lagu milik Super grup band asal Jerman “Helloween”.  Formasi Big Panzer sekarang adalah Didieth Sakhsana /bass, Ian Hay/drum, Herman Rtb./gitar), Cahyo/kibor dan Roy/vocal. (pr)

Seksi Dokumentasi Publikasi

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses