Pergelaran

Pergelaran Drama Musikal Wayang Inklusi Lakon “Arutala Sukrasana”

Taman Budaya Jatim bekerjasama dengan Komunitas Mata Hati Surabaya menggelar sebuah pergelaran “Drama Musikal Wayang Inklusi Arutala Sukrasana” di Gedung Kesenian Cak Durasim pada 7 Desember 2025. Acara ini diselenggarakan dalam rangka peringatan hari Disabilitas Internasional yang jatuh pada 3 Desember. Pergelaran drama musikal ini dimainkan oleh para penyandang cacat dari Komunitas Mata Hati Surabaya baik cacat netra, mental ataupun fisik.

Foto dok. TBJT

Yang membuat pergelaran ini terasa istimewa adalah pesan inklusivitas yang mengalir kuat dalam setiap adegan. Komunitas Mata Hati, sebuah wadah yang menaungi seniman dan pegiat seni dari kaum disabilitas, sukses mementaskan Drama Musikal Wayang bertajuk “Arutala Sukrasana”. Bukan sekadar pertunjukan biasa, melainkan sebuah pernyataan tentang kemampuan, kreativitas, dan hak yang setara untuk berekspresi.

Lakon Arutala Sukrasana, yang berkisah tentang persaudaraan, persaingan, pengampunan, dan pencarian jati diri antara Sukrasana (Sarana) dengan saudara-saudaranya, diangkat dengan pendekatan yang segar dan inklusif. Dalam pementasan ini, para pemain yang terdiri dari penyandang disabilitas netra, tuli, dan difabel fisik, berkolaborasi secara apik dengan seniman non-disabilitas. Teknologi assistif seperti penerjemah bahasa isyarat yang terintegrasi dalam koreografi, naskah braille, serta audio deskripsi yang puitis, menjadi bagian tak terpisahkan dari alur cerita, memastikan aksesibilitas penuh baik bagi pemain maupun penonton dari berbagai latar belakang kemampuan.

Wayang adalah media yang sangat kaya untuk bercerita. Dengan menggabungkannya dengan musik, tari, dan teknologi, para pemain ingin membuktikan bahwa seni adalah hak semua orang. Setiap orang, dengan caranya sendiri, bisa menjadi dalang dari kehidupan mereka. Lakon Arutala Sukrasana dijadikan pilihan karena pesan toleransi dan pengakuan atas keunikan setiap individu.

Foto dok. TBJT

Panggung menjadi hidup dengan interpretasi yang mendalam. Penari disabilitas netra mengeksplorasi ruang dengan keyakinan penuh, diiringi oleh musik yang menjadi panduan mereka. Adegan dialog diwarnai dengan bahasa isyarat yang ternyata memiliki kekuatan dramatika yang tinggi, menghadirkan dimensi visual yang memukau. Sementara itu, narasi yang disampaikan melalui audio deskripsi membantu penonton netra untuk membayangkan setiap gerak dan ekspresi dengan jelas. Kolaborasi ini menghasilkan sebuah simfoni visual dan audio yang menyentuh hati.

Dengan digelarnya Drama Musikal Wayang Inklusi “Arutala Sukrasana”, Komunitas Mata Hati tidak hanya telah mencipta sebuah karya seni yang monumental, tetapi juga telah menabuh genderang pentingnya ruang publik dan ekspresi budaya yang benar-benar inklusif. Mereka membuktikan bahwa dalam gelapnya mata atau heningnya telinga, cahaya kreativitas dan kekuatan cerita akan selalu menemukan jalannya untuk bersinar. (sn)

Seksi Dokumentasi Publikasi

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses