Rekonsiliasi : Pameran Lukisan Komunitas Adicipta Art 2019

Adicipta Art merupakan komunitas seniman/pelukis dari berbagai latar belakang profesi yang berbeda, namun mempunyai kesamaan yaitu sama-sama hobi melukis. Ada insinyur arsitek, dokter hewan, muballig, dosen, pengusaha real estate, pemilik rumah sakit, pegawai negeri dan swasta, pegawai bank dan juga termasuk di dalamnya seniman murni yang hidup dan kehidupannya berkecimpung di dunia seni rupa.

Foto dok./TBJT.

Sebagai sebuah komunitas tidak ada keanggotaan formal yang mengikat, tidak ada legalitas formal yang kaku, namun perjalanan waktu merupakan proses alami untuk menjaga keberadaan kelompok ini. Parameternya sederhana saja, komunitas itu menjadi eksis ketika menjalankan aktifitas. Kalau toh tidak sedang beraktifitas, setidaknya setiap anggota komunitas menyimpan rasa memiliki sebuah komunitas seni ketika masing-masing sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Dan Ketidaksamaan itulah maka dibuatkan momen-momen untuk meningkatkan kadar kebersamaan dalam perspektif kreatif sebagai penyeimbang. Misalnya menggelar pameran lukisan khusus hitam putih, pameran seni instalasi, pameran seni rupa daur ulang dan sebagainya.

Foto dok./TBJT.

Bertempat di galeri Prabangkara Taman Budaya Jawa Timur, Komunitas Adicipta Art kembali menggelar pameran lukisan, berlangsung mulai tanggal 16 sampai dengan 20 September 2019. Tema yang diusung pada pameran kali ini adalah “Rekonsiliasi“. Tema itu sengaja diambil karena setelah berlangsung perhelatan politik di Indonesia (pilpres dan pileg), para anggota komunitas sempat terpecah menjadi dua blok (statemen Q. Sakti Laksono selaku ketua komunitas pada sambutan pembukaan pameran). Untuk menyatukan kembali perpecahan anggota gara-gara pilihan politik yang berbeda, maka dimunculkanlah ide sebuah penyatuan kembali yang dalam bahasa politisnya disebut “Rekonsiliasi“. Pameran ini diadakan selain demi menjalin kebersamaan juga dimaksudkan untuk melengkapi wajah seni rupa tanah air, dengan harapan Surabaya tidak hanya dikenal sebagai kota Pahlawan tetapi juga sebagai kota Budaya. Karena sebenarnya Surabaya punya potensi dan peluang yang besar untuk disebut sebagai kota Budaya.

Ada dua puluh empat (24) pelukis yang ikut berpartisipasi dalam pameran lukisan ini diantaranya adalah:

  1. Adjie Djojo
  2. AJS. Noegroho Soerjonegoro
  3. Anny Djon
  4. Cak Kandar
  5. Lies S. Toyo
  6. Dinar
  7. Ida Fitriyah
  8. H. Winarno
  9. Hartati Tjahyono
  10. Her Roesmawati
  11. Iwan Mas,Ud
  12. Laras
  13. M. Fauzi
  14. Mozes Misdy
  15. Maria Novita
  16. Nuniek Silalahi
  17. Nunung Bakhtiar
  18. Q. Sakti Laksono
  19. R. Nagayomi
  20. S. Panji
  21. Suleman
  22. Supi’i
  23. Thoyib Tamsar
  24. Wadji Iwak
Foto dok./TBJT.

Masing-masing pelukis memamerkan kurang lebih dua karya dengan berbagai aliran karya lukisan. Pembukaan acara berlangsung sederhana tapi khidmat, sedianya acara akan dibuka oleh Wakil Gubernur Jawa Timur tapi karena kepentingan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan akhirnya pembukaan diwakilkan kepada Kepala UPT. Pemberdayaan Lembaga Seni dan Ekonomi Kreatif Wilwatikta Disbudpar Prov. Jatim Drs. Arief Rofiq M.Hum. (san)

Sanjoto Prijo Djatmiko

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.