Parade Taeter Jawa Timur 2019

Teater Extra Gresik membawakan naskah dengan judul Grafito karya Akhudiat. Foto dok./TBJT

Parade atau dikenal pula dengan pawai merupakan iring-iringan sekelompok orang yang biasanya dilakukan di jalan raya, umumnya dilakukan dengan menggunakan kostum, dan biasanya disertai pula dengan iring-iringan drumband dalam suatu prosesi upacara ataupun acara tertentu. Parade umumnya dilakukan atas sejumlah alasan, tetapi umumnya dilakukan terkait dalam suatu perayaan tertentu. Di Inggris, terminologi parade umumnya digunakan pada suatu bentuk parade Militer ataupun bentuk lainnya yang dilakukan dalam suatu bentuk formasi tertentu. Terminologi parade juga terkadang digunakan sebagai salah satu bentuk dari unjuk rasa yang dilakukan oleh sekelompok orang. Ada pula parade ini di pakai untuk kegiatan penyambutan hari-hari besar, seperti malam tahun baru islam yang menggunakan alat musik perkusi bahkan degan drumband. Yang bertujuan untuk meramaikan suasana agar berjalan dengan lebih meriah. Lantas bagaimana konotasi parade sendiri bila itu dikaitkan dengan bentuk pementasan beberapa grup teater, yang jadi sebuah judul bentuk pergelaran sekelompok teater yang berlabel Parade Teater?

Pemberian piagam penghargaan kepada masing-masing sutradara, dramatur dan pengamat oleh PLT. Kepala Taman Budaya. Foto dok./TBJT.

Bertempat di Gedung Kesenian Cak Durasim, Taman Budaya Jawa Timur selaku Institusi Kesenian di bawah Disbudpar Provinsi Jawa Timur, pada tanggal 27 sampai dengan 28 September 2019 menggelar pertunjukan sekelompok grup teater yang diberi judul Parade Teater Jawa Timur 2019. Pemakaian istilah parade sendiri memang mencontoh makna parade yang berarti pawai. Karena ada enam grup teater yang dipentaskan dalam dua malam, masing-masing 3 grup per malam. Keenam grup yang tampil pada parade teater ini adalah hasil seleksi dari 28 grup yang ada di Jawa Timur baik dari kalangan pelajar, mahasiswa ataupun masyarakat umum. Proses seleksi dilakukan melalui DVD yang dikirim oleh masing-masing grup teater yang mengikuti audisi. Dramatur yang ditunjuk oleh Taman Budaya untuk menentukan peserta audisi yang layak untuk tampil pada Parade Teater 2019 adalah Drs. H. Eko Edy Susanto, M.Si. (Praktisi teater tradisi sekaligus pemilik grup Ludruk Karya Budaya Mojokerto) dan Rocky Marciano (Dosen STKW).

Dari hasil seleksi yang dilaksanakan pada bulan Agustus itu akhirnya ditetapkan ada enam grup yang layak tampil pada acara Parade Teater 2019 yang dilaksanakan di Gedung Kesenian Cak Durasim. Keenam grup tersebut adalah:

  1. Komunitas Pengecer Jasa Ide Kreatif dari Kabupaten Lumajang, membawakan cerita naskah dengan judul Buto, hasil adaptasi cerita pendek karya Putu Wijaya berjudul Raksasa, naskah ditulis dan disutradarai oleh Ferry Hawe.
  2. Teater Tobong dari Kota Surabaya, membawakan cerita naskah dengan judul Kerebritis, sebuah naskah adaptasi cerita pendek tulisan Juslifar M. Junus yang berjudul Kerebritis juga, disutradarai oleh Dody Yan Masfa.
  3. Teater Extra dari Kabupaten Gresik, membawakan cerita naskah dengan judul Grafito, naskah karya Akhudiat dan disutradarai oleh Irfan Akbar P.
  4. Teater HMPT dari Kota Surabaya, membawakan cerita naskah dengan judul Bila Malam Bertambah Malam karya Putu Wijaya, sutradara Abdurrohman Satrio.
  5. Rumah Seni Lalonget dari Kabupaten Sumenep, memebawakan cerita naskah dengan judul Retorika Kerinduan karya/sutradara A. Hamzah Fansuri Basar.
  6. Abi ML dan Dayu Prisma Project dari Kabupaten Banyuwangi membawakan naskah dengan judul xati/xuicide karya/sutradara Abi ML.
Komunitas Pengecer Jasa Ide Kreatif Lumajang membawakan naskah berjudul Buto.
Foto dok./TBJT.

Acara dibuka oleh PLT Kepala Taman Budaya Drs, Edi Iriyanto MM. pada hari pertama dan pada hari kedua Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur berkenan memberikan beberapa pesan dan tawaran bagi perkembangan teater di Jawa Timur, agar insan teater di Jawa Timur semaksimal mungkin memanfaatkan fasilitas yang dimiliki oleh Taman Budaya untuk berproses kesenian (teater). Karena Kreativitas, ketrampilan, totalitas dan dedikasi para seniman dan budayawan adalah modal yang harus menjadi pijakan untuk memformulasikan ke dalam aksi nyata dan lembaga budaya (termasuk diantaranya Taman Budaya) harus menyediakan daya dukung untuk berekspresi.

Kritik dan saran pada salah satu grup teater yang telah pentas oleh Wani Darmawan.
Foto dok./TBJT

Kegiatan ini dimaksudkan sebagai upaya menumbuhkan semangat kreatifitas bagi para seniman dan semangat berapresiasi bagi masyarakat, khususnya seni teater agar panggung seni pertunjukan teater tetap memiliki daya tarik dan orang mau hadir menjadi saksi peristiwa yang tersaji dan bisa mendapatkan pengalaman batin yang berharga bagi kehidupan. Pergelaran selama dua hari berturut-turut, sambil menunggu pergantian penataan artistik pada grup penampil berikutnya, masing-masing sutradara mempresentasikan ide gagasan dalam setiap naskah yang dipentaskan. kemudian dievaluasi oleh salah satu Praktisi sekaligus pengamat teater Indonesia sdr. Wani Darmawan yang diberi kepercayaan sebagai pengamat oleh Taman Budaya. (san)

Sanjoto Prijo Djatmiko

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.