ESTAFET VISUAL: Pameran Seni Rupa Murid dan Guru SMKN 12 Surabaya
Sebuah tongkat estafet tidak pernah dipegang sendiri. Namun selalu berpindah dari tangan ke tangan, membawa serta pesan, tenaga, dan harapan pelari sebelumnya. Di lintasan, estafet berbicara tentang kecepatan dan ketepatan. Di ruang pamer ini, estafet berbicara tentang sesuatu yang lebih sunyi namun tak kalah dahsyat, yakni soal pewarisan rasa, gagasan, dan keberanian visual.

Pameran bertajuk “Estafet Visual” ini adalah pertemuan dua generasi dalam satu kanvas imaji. Di satu sisi, berdiri para guru, perupa yang telah bertahun-tahun menempuh perjalanan artistik, mengumpulkan luka, tawa, dan pertanyaan ke dalam sapuan kuas, cetakan tinta, dan piksel digital. Di sisi lain, berjejer karya murid-murid mereka yang terkesan segar, kadang mentah, seringkali mengejutkan, tetapi selalu jujur. Inilah suara-suara muda yang sedang belajar menerjemahkan gejolak batin ke dalam bahasa rupa.
Pameran ini tak sekadar pameran Bersama, tapi percakapan diam antara guru dan murid, di mana garis, warna, dan tekstur saling berbisik. Ada benang merah yang merayap dari karya-karya senior ke karya-karya junior, dari ketekunan mengolah bidang ke keberanian menabrak pakem, dari kedalaman riset material ke eksperimen liar media baru. Di titik inilah transfer pengetahuan dan sensibilitas terjadi, bukan dengan cara menggurui, melainkan melalui contoh, tantangan, dan kebebasan yang bertanggung jawab.
Bagi SMKN 12 Surabaya, pameran ini adalah rekam jejak sebuah ekosistem belajar. Kurikulum dan bengkel seni hanyalah separuh cerita, sementara separuhnya lagi adalah atmosfer saling memantik yang tumbuh di koridor sekolah, di sudut studio, dan di layar-layar diskusi daring. Setiap karya yang dipajang adalah hasil dari estafet yang tak kasatmata. Seorang guru melempar pertanyaan, seorang murid menangkapnya dengan gugup lalu menjawabnya lewat sketsa atau seorang murid memamerkan prototipe, sang guru mengembalikannya dengan bumbu referensi dan teknik. Begitu seterusnya, bolak-balik, hingga lahirlah karya-karya yang kini dipamerkan.

Pengunjung diajak menyusuri dua wilayah rasa. Karya para guru akan membawa ke kedalaman permenungan, olah teknik yang matang, serta dialog personal dengan sejarah seni dan konteks sosial. Sementara itu, karya para murid akan menghentak dengan segarnya cara pandang generasi terkini: ada keresahan terhadap isu lingkungan, identitas digital, mimpi, dan kegelisahan menjadi muda di zaman serba cepat. Kedua wilayah ini tidak saling meniadakan, mereka justru merangkai kontinuitas yang menegaskan bahwa seni adalah makhluk yang terus tumbuh, bertunas, dan merambat. Pameran bertajuk “Estafet Visual” ini merupakan perayaan atas tongkat yang tak pernah jatuh. Di tangan guru, tongkat itu adalah warisan estetika dan nilai. Di tangan murid, tongkat itu berubah menjadi lentera yang menerangi jalan-jalan baru.
Kegiatan Pameran Seni rupa bertajuk Estafet Visual ini yang dilaksanakan SMK Negeri 12 Surabaya bekerjasama dengan Taman Budaya Jawa Timur di Galeri Prabangkara, berlangsung mulai Minggu, 24-30 Mei 2026 pukul 16.00 hingga 21,00 WIB. Ratusan karya terpilih dari ratusan siswa SMK Negeri 12 Surabaya kelas X, XI dan XII serta para guru ini dipamerkan dengan mengusung tema. Total ada sebanyak seratus tiga puluh tujuh karya dari seratus tiga puluh dua perupa, sembilan guru dan seratus dua puluh tiga siswa kelas X, XI, dan XII yang ditampilkan melalui lukisan dan mixed media. Setiap karya Lukis menjadi bukti bahwa proses belajar seni (rupa) siswa SMK Negeri 12 Surabaya, terus berjalan di luar kelas. Pameran ini menjadi ruang temu, di sini guru dan siswa berdiri sejajar sebagai perupa. (pr)
