Berita

Angkat Persoalan Kabar Hoax, Grup Dagelan Pesonda Pentas Di Taman Budaya Jawa Timur

Pergelaran keempat Dageline (Dagelan Online) yang disiarkan langsung melalui chanel youtube Cak Durasim milik Taman Budaya Jawa Timur diisi oleh grup dagelan “Pesonda” dari Kabupaten Pasuruan. Bertempat di Pendapa Jayengrana pada sabtu, 24 Oktober 2020 grup “Pesonda” melakonkan sebuah cerita dengan judul “Korban Kabar”.

Ndemo, Sely dan Ribut pada sebuah adegan dagelan dengan judul “Korban kabar”.
Foto dok./TBJT

“Korban Kabar” bercerita tentang persoalan pencarian jodoh oleh dua orang bernama Ndemo dan Ribut. Ketika dua orang tersebut sedang asyik ngobrol dengan banyolan-banyolan khas ludrukan, tiba-tiba kedatangan seorang penjual jajanan bernama Sely. Dengan gaya centil dan kocak Sely menawarkan berbagai jajanan pasar diantaranya, klepon dengan bentuk sebesar bola volley. Dengan bahasa sindiran yang lucu dan kocak dilontarkan oleh Sely tentang isue di media sosial yang sempat menjadi tranding topik di media sosial beberapa waktu lalu, yakni klepon yang dianggap sebagai makanan yang tidak islami oleh seorang netizen. Berbagai macam jajanan pasar yang dijajakan oleh Sely menurut Ndemo ketua sekaligus sutradara, adalah untuk membumikan sekaligus mengangkat citra jajanan pasar yang sudah mulai ditinggalkan oleh anak-anak muda zaman sekarang yang lebih menyukai makanan instan.

Kedatangan Sely ditengah obrolan antara Ndemo dan Ribut membuat kedua orang itu jatuh cinta. Sely mau saja dinikahi dengan catatan kedua orang itu harus melamar pada orang tuanya. Kedua orang tersebut akhirnya datang ke rumah Sely dan diterima oleh seorang pria berjas dan berdasi tapi bercelana pendek dengan lagak bak orang gila. Ndemo dan Ribut dikerjai habis habisan oleh pria yang dianggap ayah Sely oleh Ndemo dan Ribut. Ketika Sely datang jadi kaget, karena kedua orang itu tanpa baju akibat dikerjai oleh orang yang dianggap orang tua Sely. Barulah Ndemo dan Ribut paham bahwa orang yang mengerjai mereka adalah orang stress tetangga Sely setelah Sely bercerita. Orang tersebut stress karena cita-cita menjadi seorang psikolog tidak kesampaian.

Ndemo (kiri) dan Ribut (tengah) dikerjai oleh orang stress (Sulis, kanan).
Foto.dok./TBJT

Nyali Ndemo dan Ribut menjadi ciut setelah tahu bahwa bapak Sely ternyata orang Madura yang keras. Karakter sosok orang tua Sely yang keras justru menjadi lucu dan kocak karena dibawakan dengan gaya lawakan ludruk yang khas. Karena ada dua pelamar maka orang tua Sely membuat sayembara pertandingan Ujung. Barangsiapa yang menang akan diangkat sebagai menantu. Disini adegan lucu kembali muncul, Ndemo diberi senjata hanya sebatang lidi sementara Ribut diberi senjata sebatang rotan. Tentu saja tidak berimbang, tapi justru adegan seperti ini yang membuat beberapa penonton yang hadir menjadi tertawa. Pertarungan ujung keduanya menjadi bahan tertawaan orang tua Sely. Menurut Ndemo ketua sekaligus sutradara, dimunculkannya ujung dalam bentuk lawakan sebenarnya adalah dengan tujuan mengangkat kembali citra kesenian ujung yang semakin banyak dilupakan oleh masyarakat.

Masih menurut Ndemo bahwa ujung adalah kesenian khas masyarakat Tengger yang dulunya berfungsi sebagai upacara untuk mendatangkan hujan, tapi sekarang sudah ditinggalkan. Diakhir cerita tahulah bahwa ternyata Ndemo dan Ribut hanya dikerjai oleh Sely dan bapaknya, mereka berdua dikerjai habis-habisan. Ending cerita ditutup dengan  kalimat yang diucapkan bersama oleh Ndemo dan Ribut “Aku dan kamu sekarang kena korban kabar”. Pesan moral yang ingin disampaikan pada pertunjukan ini adalah bila menerima sebuah kabar jangan gampang percaya, telaah dulu kebenarannya sebelum dipercaya dan disebarluaskan. Para pemain yang mengisi acara Dageline: Ndemo, Ribut, Sely, Sulis (orang stress) dan Gepeng (bapaknya Sely).

Ribut (putih kiri) dan Ndemo (putih kanan) diadu bertarung ujung oleh ayah Sely (Gepeng, belakang kiri). Foto dok./TBJT

Nama grup dagelan “Pesonda” sebenarnya bukan nama baru di tengah keramaian kancah hiburan zaman sekarang. Grup “Pesonda” merupakan bentukan baru sisa-sisa anggota grup ludruk “Putra Pesonda” yang berdiri pada 1970-an di kawasan Tretes kabupaten Pasuruan. “Pesonda” adalah kepanjangan dari “Pesanggrahan Gang Sono Dahlia”. Nama itu dahulunya menurut Ndemo adalah nama sebuah lokalisasi di kawasan Tretes. Diangkat menjadi nama grup ludruk dahulu dan bermetamorfosa menjadi grup dagelan sekarang, dengan tujuan untuk mengangkat citra positif kawasan Tretes. Harapannya Tretes bukan hanya tempat yang dipandang sebagai sisi gelap semata, tetapi disana ada sebuah citra positif yang sangat kuat yakni sebuah produk kearifan lokal berwujud seni budaya ludruk yang bermetamorfosa menjadi grup dagelan bernama “Pesonda” di zaman sekarang. (san)

Seksi Dokumentasi Publikasi

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.