Pergelaran

Local to Global Network : Body to Body (Sawung Dance Festival 2023)

Taman Budaya Jawa Timur selaku Unit Pelaksana Teknis di bawah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur salah satu bentuk kegiatannya adalah program fasilitasi kesenian, yakni memfasilitasi para seniman yang ingin unjuk karya untuk dipergelarkan atau dipamerkan di ruang-ruang berkesenian milik Taman Budaya. Seniman yang ingin mementaskan/memamerkan karyanya tentu saja dengan melalui kurasi terlebih dahulu untuk bisa mendapat fasilitas yang disediakan oleh Taman Budaya. Melalui program fasilitasi kesenian bekerjasama dengan Sawung Dance Studio Surabaya, Taman Budaya Jawa Timur menggelar acara fasilitasi kesenian yang dikemas dengan tajuk “Local to Global Network : Body to Body” yang maknanya secara harfiah dalam bahasa Indonesia adalah “Jaringan Lokal ke Global : Tubuh ke Tubuh”.

Foto bersama Kepala Taman Budaya Jatim Ali Ma’ruf, S.Sos., M.M. (tengah, batik berpeci khas Banyuwangi) dengan para penari (Foto dok, okto TBJT)

Menurut Sekar Alit Santya Putri, S. Pd, M. Sn., selaku ketua Sawung Dance Studio, tema ini muncul sebagai upaya untuk mengekplorasi identitas tubuh lokal penari atau pun koreografer Indonesia untuk merangkai jejaring Internasional. Sudah saatnya penari dan koreografer Indonesia khususnya di Jawa Timur memiliki jaringan Internasional yang memperkaya pengalaman tubuh dan pengalaman pikir sehingga mempertajam kelokalan tubuhnya sendiri. Acara dilaksanakan pada 22-23 September 2023 pada pukul 20.00 sampai dengan selesai. Dibuka oleh Kepala Taman Budaya Jawa Timur Ali Ma’ruf, S.Sos., M.M., bertempat di Gedung Kesenian Cak Curasim Jl. Gentengkali 85 Surabaya.

Menampilkan 4 reportoar tari beraliran kontemporer selama dua hari yakni Jum’at dan Sabtu. Pada hari pertama sebelum pergelaran dimulai ditampilkan semacam tarian pembuka yang dibawakan oleh anak-anak di halaman depan Gedung Cak Durasim. Disaksikan banyak penonton yang mengelilingi area halaman sebelum memasuki gedung pertunjukan. Para penari cilik itu berjajar sepanjang pintu masuk gedung Cak Durasim hingga ke dalam. Menyapa tiap penonton yang hadir dengan lampu berwarna-warni di tangan masing-masing. Komposisi tarian itu tidak memiliki judul, hanya semacam tarian selamat datang yang ditujukan kepada para penonton yang akan menyaksikan pertunjukan yang sebenarnya di dalam Gedung Cak Durasim.

“SILO” merupakan karya pertama yang tampil sekaligus satu-satunya karya yang ditampilkan pada hari kesatu. Durasi tarian mencapai kurang lebih 1 jam. Karya ini merupakan hasil karya Hari Ghulur dari Madura yang sekaligus suami dari Sekar Alit. Karya ini mencoba menterjemahkan budaya tahlil dalam kacamata Hari Ghulur untuk menjadi sebuah gerak tari. Budaya tahlil yang merupakan ritual religi yang akrab disaksikan oleh Hari sejak kecil menjadi komposisi tari sebagai pusat motorik gerak torso.

SILO karya Hari Ghulur (Foto dok. okto TBJT)

Sebuah metode dialog vertikal antara pengalaman Hari selama bertahlil dengan Sang Pencipta melalui gerakan berulang (repetitif) dan vertikal. Karya ini merupakan perkembangan karya “SILA” yang diciptakan Hari saat ia mengikuti acara residensi di acara American Dance Festival. Hari melihat “SILO” sebagai ruang ekspresi tubuh organik dengan konstruksi batas ruang budaya tubuh. “SILO” sebagai sebuah koreografi dan laku ritual, merupakan ikhtiar mencapai puncak emosi dan spriritual yang dilakukan justru dengan posisi tubuh yang terbatas dan menempel pada tanah atau membumi.

Durasi tarian yang mencapai hampir satu jam tanpa henti dengan komposisi gerak yang sangat dinamis dan nyaris tanpa gerakan diam sangat membutuhkan stamina tubuh yang luar biasa. Akan susah dilakukan oleh penari yang tidak membekali dirinya dengan stamina tubuh yang prima. Karya “SILO” dibawakan oleh lima orang penari yakni: Patry Eka, Puri Senjani. Errina April Yani, Angga i Tirta Aditya Putra dan Hari Ghulur.

Pada hari kedua ditampilkan tiga koreografi, karya pertama berjudul “NANDHANG” yang merupakan karya koreografer Sri Cicik Handayani, S.Sn. dari Sumenep Madura. Karya ini mencoba membuka dan membaca ulang mengenai pemaknaan yang kuat dalam aktifitas Nandhang/Menari yang dilakukan oleh perempuan Tandhak dalam kesenian Tayub Madura di Sumenep.

NANDHANG karya Sri Cicik Handayani, S.Sn. (Foto dok. okto TBJT)

Dalam konteks ini penari dan menari menjadi obyek keberlangsungan suatu tradisi masyarakat. Fenomena dan peristiwa yang terjadi dalam ruang-ruang perempuan Tandhak karena perannya yang kompleks pada tatanan dan segala hal yang terjadi saling berkesinambungan, yang menimbulkan kesan serta pesan terdalam bagi perempuan tandhak itu sendiri maupun orang di luar mereka. Karya ini mencoba membaca dan mengembangkan fenomena yang terjadi dan spirit seorang Tandhak sebagai bahan eksplorasi, dengan memainkan pola empiris yang ada pada tubuh koreografer tentang kesenian tayub Madura. Karya “NANDHANG” ditarikan oleh oleh Sri Cicik Handayani dan AM Eti Purnama Sari.

Karya berikutnya berjudul “Fomo on TikTok” yang merupakan karya dari koreografer Putri Amelia. Dibawakan oleh lima orang penari perempuan yakni: Neysa Odelia, Yasmin Aulia, Adrin Sheira, Mey Mey Monica dan Putri Amelia. Dalam synopsis karya Putri Amelia ini dituliskan, Ketika manusia masa kini…telah menjadikan trend sebagai sorotan…sering menghalalkan segala cara…agar tak dikatakan ketinggalan zaman…zaman e zaman edan, sing ora ngedan ora keduman.

Teknologi di zaman sekarang merupakan sarana bagi masyarakat untuk mencari hiburan, salah satunya media sosial TikTok. Di media sosial TikTok masyarakat berhak melalukan apapun yang mereka mau selama tidak melanggar guidelines dari aplikasi TikTok. TikTok terbentuk karena adanya globalisasi, globalisasi tak hanya membawa hal baik tetapi juga membawa hal buruk. Tidak adanya filter konten yang masuk di Indonesia masyarakat dengan mudah menerima informasi dari negara lain mulai dari musik, film, berita, hingga kebudayaan luar. 

Fomo on TikTok karya Putri Amelia (Foto dok. okto TBJT)

Pemakaian media sosial TikTok sudah menjadi sebuah rutinitas masyarakat pada masa sekarang. Lewat media sosial TikTok, masyarakat dapat berbagi tentang segala aktivitas, kreativitas, dan emosi mereka yang kemudian akan diunggah. Pengguna media sosial TikTok mencurahkan hal-hal tersebut dalam bentuk membuat sesuatu seperti foto, vidio, dan lain-lain. Fenomena ini yang coba digambarkan dalam karya tari berjudul “Fomo on TikTok” yang merupakan ciptaan koreografer Putri Amelia.

Karya terakhir yang tampil berjudul “Japvanesee”, karya ini merupakan kolaborasi antara seniman tari Indonesia, Hari Ghulur dengan seniman tari dari Jepang, Reisa Shimojima. Keduanya bertemu melalui program Grey Space yaitu residency International koreografer yang digagas The Dance Company Singapore. Sebelumnya mereka telah melakukan residensi karya di Singapore dan Jepang dan telah mementasan karya ini sebanyak dua kali di Contact Contemporary Dance Festival di Singapore.

“Japvanesee”, karya ini merupakan kolaborasi antara seniman tari Indonesia, Hari Ghulur dengan seniman tari dari Jepang, Reisa Shimojima (Foto dok. okto TBJT)

Penonton acara Sawung Dance Festival 2023 memenuhi gedung Cak Durasim yang berkapasitas 412 kursi. Para apresiator yang menyaksikan unjuk karya tari kontemporer ini banyak datang dari kalangan muda. Diantaranya dari kalangan mahasiswa, dosen, seniman, dan juga beberapa Konjen Kebudayaan dari negara asing dan juga masyarakat umum. Tari kontemporer memang punya segmen apresiator tersendiri. Di tengah minimnya perhelatan tari dengan genre kontemporer, apa yang disajikan oleh Sawung Dance Studio melalui program fasilitasi kesenian Taman Budaya Jawa Timur, seakan menjadi pengobat dahaga yang semenjak covid melanda nyaris tak pernah diselenggarakan secara offline di Gedung Kesenian Cak Durasim.

Residensi dan karya seperti ini di Indonesia akan memberi dampak positif bagi ekosistem tari kontemporer khususnya di Jawa Timur, dan untuk perkembangan karya itu sendiri. Saling keterhubungan seperti ini yang menghidupkan ekosistem seni pertunjukan. Festival Tari Kontemporer akan terus dikenalkan kepada masyarakat dan para generasi muda karena pertunjukan tidak hanya menghadirkan tontonan yang bermutu, tapi juga tuntunan, pengetahuan dan edukasi. Ekosistem seni pertunjukan yang terus bertumbuh dan berkembang perlu terus diberdayakan agar bangsa ini mencintai, menghargai, dan menjunjung tinggi martabat bangsa melalui seni dan budaya. (pr)

Seksi Dokumentasi Publikasi

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.