Pergelaran

Pergelaran Wayang Kulit Jawatimuran Lakon “Cupu Manik Astagina”

Dalam rangka ikut memeriahkan hari jadi Provinsi Jawa Timur yang ke-78, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur melalui UPT. Taman Budaya menyelenggarakan Pergelaran Wayang Kulit bersama Dalang Ki Budi Prayitno dari Kabupaten Gresik. Lakon yang ditampilkan adalah “Cupu Manik Astagina”. Pergelaran dilaksanakan pada Minggu, 15 Oktober 2022, jam 20.00 wib. Di Pendapa Jayengrana Taman Budaya Jawa Timur. Ki Budi Prayitno tampil diiringi oleh grup karawitan dan campursari Giri Laras yang dipimpin oleh Ki Budi Sendiri.

Campursari Giri Laras pimpinan Ki Budi Prayitno tampil sebagai pembuka acara (Foto dok. TBJT)

Sebagai pembuka acara ditampilkan hiburan campursari untuk menarik penonton memasuki Pendapa Jayengrana. Dengan formasi lima orang penyanyi campursari perempuan yang merangkap pesinden suasana menjadi meriah dan penonton mulai memadati kursi yang disediakan. Pergelaran wayang kulit dibuka dengan sambutan Kepala Taman Budaya Jatim Ali Ma’ruf, S.Sos., M.M. mewakili Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur Dr. Hudiyono, M.Si yang berhalangan hadir karena ada tugas lain. Sambutan berikutnya disampaikan oleh anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Hadi Dediansyah, S.Pd., M. Hum. yang sekaligus menyerahkan gunungan wayang kepada Ki Dalang Budi Prayitno sebagai tanda dimulainya pergelaran. Turut hadir pada pergelaran tersebut budayawan Dr. Rasiyo, M.Si., Ketua Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Dr. Jarianto, M.Si., Sinarto, S.Kar., M.M. mantan Kadisbudpar Jatim dan Drs. Pribadi Agus Santoso mantan Kepala Taman Budaya Jatim periode 2001-2008.

Lakon “Cupu Manik Astagina” mengisahkan tentang Dewi Indradi yang sedang asyik memainkan Cupu Manik Astagina di Pertapaan Grastina. Dengan Cupu Manik Astagina tersebut ia bisa menikmati keadaan alam. Namun, tiba-tiba puteri sulungnya yang bernama Dewi Anjani datang memergokinya. Dewi Anjani memohon kepada ibunya untuk meminjam alat permainan itu. Dewi Indradi mau meminjamkannya namun dengan syarat jangan sampai adik-adiknya, yaitu Guwarsa dan Guwarsi tahu. Namun, Dewi Anjani justru memamerkan kepada kedua adiknya. Akibatnya Cupu Manik Astagina tersebut menjadi rebutan bagi ketiga anak Resi Gotama tersebut.

Penyerahan gunungan wayang oleh anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Hadi Dediansyah, S.Pd., M.Hum. kepada Ki Dalang Budi Prayitno disaksikan Kepala Taman Budaya Jawa Timur Ali Ma’ruf S.Sos., M.M. (Foto dok. TBJT)

Resi Gotama yang sedang bersemedi terganggu oleh keributan ketiga anaknya tersebut. Begitu mengetahui bahwa sumber dari keributan adalah Cupu Manik Astagina, yang ia ketahui bahwa itu adalah milik Batara Surya. Resi Gotama kemudian bertanya kepada isterinya Dewi Indradi dari mana asal dari Cupu Manik Astagina. Karena ketakutan Dewi Indradi hanya diam saja tidak berani menjawab. Hal itu membuat Resi Gotama amat marah dan mengutuk Dewi Indradi menjadi tugu lalu membuangnya sejauh-jauhnya dan akhirnya jatuh di dekat perbatasan kerajaan Alengka.

Begitu juga dengan Cupu Manik Astagina, dibuangnya jauh-jauh oleh Resi Gotama benda itu. Namun walaupun ketiga anaknya sudah kehilangan ibu karena benda tersebut mereka tetap mengejar benda itu hingga sampai di sebuah telaga. Mereka diikuti oleh pamong mereka, Endang Suwareh, Jembawan dan Menda. Guwarsa dan Guwarsi tiba lebih cepat dibanding kakaknya, mereka langsung terjun ke telaga tersebut untuk mencari cupu tersebut. Begitu pula jembawan dan Menda, mereka mengikuti anak Begawan Gotama tersebut terjun ke telaga.

Dewi Anjani dan Endang Suwareh yang tiba kemudian, tidak ikut masuk ke dalam telaga, mereka hanya membasuh muka mereka untuk mengurangi rasa lelah. Namun begitu  terkejutnya mereka, Guwarsa, Guwarsi, Jembawan dan Menda wajah dan tubuhnya berubah seperti seekor kera, begitu juga dengan Dewi Anjani, wajah dan tangannya berubah menjadi wajah kera. Betapa sedih hati mereka ketika mengetahui bahwa ketampanan dan kecantikan mereka telah hilang dan kini berwujud kera.

Dalang Ki Budi Prayitno (Foto dok. TBJT)

Dengan penuh penyesalan, mereka kembali ke pertapaan ayahnya, mereka memohon kepada Resi Gotama agar wujud mereka dikembalikan seperti semula. Namun Resi Gotama mengatakan bahwa perubahan wujud mereka sudah menjadi kehendak dewata. Mereka kemudian diperintahkan bertapa untuk mensucikan diri dan khusus kepada dua putra diubah namanya yakni, Guwarsa menjadi Subali dan Guwarsi menjadi Sugriwa.

Kekuatan besar yang dimiliki Cupu Manik Astagina membuat seluruh penghuni hutan Agrastina semakin disegani. Bahkan para Dewa yang kuwalahan dengan rong-rongan Prabu Petak Banjaran pun kemudian meminta pertolongan kepada Resi Gotama untuk menugaskan putra-putranya.  Subali dan Sugriwa yang kemudian berangkat untuk menentramkan khayangan yang dibuat gonjang ganjing oleh Prabu Petak Banjaran dan wadya balanya. (pr)

Seksi Dokumentasi Publikasi

Staff Pada Seksi Dokumentasi Dan Publikasi UPT Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, Jabatan Pelaksana : Penyusun Bahan Publikasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.